

Matahari di Sabtu siang tiga hari lalu sedang terik-teriknya. Dalfa M. Naser (54 tahun) baru saja tiba di rumah. Tubuhnya lelah setelah berjam-jam mengais tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Maluku Utara.
Ia pulang bukan untuk benar-benar berhenti bekerja. Rumah yang berada tak jauh dari TPA itu hanya menjadi tempat singgah. Dalfa makan siang, merebahkan tubuh, lalu bersiap kembali ke lokasi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sudah bertahun-tahun ia menjalani rutinitas itu.
Sampah yang bagi sebagian orang harus segera disingkirkan, bagi Dalfa justru menjadi sumber penghidupan. Di antara tumpukan plastik, botol, kardus dan berbagai barang bekas lainnya, ia mencari sesuatu yang masih memiliki nilai jual.
Dalfa bukan satu-satunya. Ada 32 pemulung yang menggantungkan hidup dari tumpukan sampah di TPA Buku Deru-Deru.
Di tempat itu pula Dalfa bekerja bersama suaminya, Safri Abata (60). Selain memulung, Safri sesekali bekerja sebagai sopir mobil pengangkut sampah. Bagi mereka, TPA Buku Deru-Deru bukan sekadar tempat pembuangan akhir.
Tempat itu adalah ruang untuk bertahan hidup. Namun, siang itu rutinitas tersebut berubah. Belum lama Dalfa terlelap, suara teriakan warga membangunkannya. Dari luar rumah terdengar suara orang-orang terdengar panik.
Dalfa bergegas keluar. Asap hitam mulai merayap dari arah TPA. Semakin lama kepulannya semakin tebal. Asap bergerak menuju permukiman dan menutupi rumah-rumah warga. Dalfa langsung teringat kepada suaminya. Safri masih berada di TPA. Ia berlari menuju lokasi.
Dari kejauhan, gunungan sampah sudah dilalap api. Kobaran terlihat dari sejumlah titik. Asap hitam membubung tinggi, membuat langit di atas TPA tampak keruh.
Di tengah kepulan asap, api beberapa kali berputar tajam. Lidah api menjalar di antara gunungan sampah yang menjadi tempat Dalfa dan puluhan pemulung lainnya mencari nafkah setiap hari. Hari itu, tempat mereka bekerja berubah menjadi sumber bahaya.
Kebakaran berlangsung berjam-jam.
Petugas pemadam kebakaran dikerahkan. Tujuh mobil pemadam dengan sekitar 70 personel bekerja untuk mengendalikan api. Mobil tangki air juga terus bergerak membawa pasokan air ke lokasi.

Tetapi memadamkan kebakaran di kawasan yang dipenuhi tumpukan sampah bukan pekerjaan mudah. Api menjalar di antara material yang mudah terbakar. Asap terus keluar dari tumpukan sampah, bahkan ketika sebagian kobaran mulai dapat dikendalikan.
Sementara itu, warga di sekitar TPA harus menghadapi asap yang bergerak ke permukiman. Bagi Dalfa, kebakaran itu bukan hanya soal api. Ada pekerjaan yang terhenti. Ada penghasilan yang hilang. Ada rasa takut terhadap kesehatan keluarga.
Pada Senin, 6 Oktober 2026, ketika ditemui tim halmaheranesia, Dalfa masih mengenakan masker pemberian petugas kesehatan.
Wajahnya menyimpan kecemasan. Beberapa warga, katanya, sudah mengungsi ke Kelurahan Jambula karena khawatir terhadap kepungan asap. Anak-anak dan bayi ikut dibawa menjauh dari kawasan yang terdampak.
Dalfa sendiri belum tahu kapan bisa kembali memulung.
“Hari pertama itu api basar (besar). Api menyala dari siang sampai malam. Torang (kami) warga di sini, perempuan laki-laki ikut kase mati (padamkan) api,” katanya setelah menerima bantuan dari Pemerintah Kota Ternate.
Bagi warga yang hidup di sekitar TPA, kebakaran tidak berhenti ketika api mulai dipadamkan. Asap masih menjadi persoalan. Dalfa mengatakan asap yang keluar dari tumpukan sampah berbeda dengan asap kebakaran biasa yang pernah ia lihat.
“Dia punya asap berbeda. Ini kan sampah. Jadi asap itu itam (hitam). Torang takut jangan sampai timbul penyakit,” ujarnya.
Kekhawatiran itu menjadi semakin besar karena yang tinggal di sekitar kawasan tersebut bukan hanya orang dewasa.
“Ada anak-anak. Ada bayi. Ada orang tua-tua (lanjut usia), itu yang torang takut,” jelasnya.
Ketua Forum Masyarakat Sulamadaha Terdampak Kebakaran Buku Deru-Deru, Rifaldi Drakel, mengatakan dampak kebakaran dirasakan warga hingga permukiman yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi TPA.
Asap tebal dan bau menyengat, kata dia, menyebar ke lingkungan tempat warga tinggal. Sejumlah warga mengalami keluhan seperti sesak napas, pusing, hingga iritasi mata.
“Hal ini menyebabkan aktivitas warga terganggu, dan warga tidak dapat beraktivitas di luar rumah termasuk mencari nafkah,” ujarnya.
Selama ini, Dalfa dan puluhan pemulung lainnya hidup dari sesuatu yang dibuang orang lain. Setiap hari, mereka datang ke TPA untuk mencari barang-barang yang masih dapat dijual. Pekerjaan itu dilakukan di tengah bau, panas, debu, serta risiko lain yang melekat pada lingkungan tempat pembuangan sampah.
Tetapi pekerjaan tersebut tetap mereka jalani. Sebab dari sanalah kebutuhan sehari-hari dipenuhi. Dalfa dan Safri tidak memiliki kemewahan untuk berhenti bekerja dalam waktu lama.
“Jadi kalau TPA ditutup karena kebakaran, torang punya penghasilan ikut berhenti,” jelasnya.
Dalfa kini menghadapi dua ketakutan sekaligus. Pertama, ketakutan terhadap asap yang terus menyelimuti kawasan tempat tinggalnya. Kedua, ketakutan kehilangan sumber penghasilan.
Ia tahu bahwa kembali ke TPA terlalu cepat bisa membahayakan dirinya dan keluarganya. Namun terlalu lama tidak bekerja juga berarti tidak ada pemasukan. Di antara pilihan itu, Dalfa dan puluhan pemulung lain berada dalam posisi yang serba sulit.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, Muslim Mohamad, mengatakan titik api bermula dari bagian utara kemudian bergerak ke selatan. Penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui secara pasti dan masih dalam penyelidikan.
“Sekarang api sudah dipadamkan, sementara masalah penanganan sampah masih dinegosiasikan. Yang pasti, ini tidak bisa dibiarkan lama, karena pasti ada dampaknya, terutama kesehatan warga,” kata Muslim.
Pemadaman kebakaran TPA bukan pekerjaan sederhana. Sampah yang menumpuk dalam jumlah besar membuat api dapat menjalar dan menyimpan panas di bagian dalam timbunan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Ternate, Naim Syafar, mengatakan proses pemadaman telah berlangsung sekitar tiga hari. Petugas bahkan harus bekerja hingga malam hari.
“Empat unit mobil pemadam dikerahkan. Tiga unit tambahan dari Balai Cipta Karya turut membantu menyuplai air,” jelasnya.
Lebih dari 70 personel Damkar diturunkan langsung ke lapangan. Sementara personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap bersiaga di posko.
“Sementara masih dalam proses penyuplaian air. Mereka memanfaatkan Danau Tolire Kecil. Jadi pompa sudah disiapkan, kemudian jarak waktu tempuh harus bisa dimaksimalkan,” ujar Naim.
Menurut dia, sekitar 90 persen titik api telah berhasil dipadamkan. Namun angka itu belum berarti seluruh persoalan selesai. Material sampah yang terbakar masih menyimpan panas dan mengandung gas. Karena itu, api dapat kembali muncul dari bagian timbunan yang terlihat telah padam.
“Jadi untuk personel di lapangan diharapkan selalu dalam keadaan siap dan selalu sehat,” katanya.
Bahaya Asap bagi Kesehatan Warga
Dampak kebakaran kemudian bergerak melampaui kawasan TPA. Asap tebal dirasakan masyarakat di sekitar kawasan. Bahkan, menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara, kobaran api berada cukup dekat dengan permukiman warga Sulamadaha.
Direktur WALHI Maluku Utara, Astuti N. Kilwouw, mengatakan TPA Takome memiliki luas sekitar 32 hektare. Lebih dari 16 hektare di antaranya merupakan zona aktif pemanfaatan.
Dari area aktif tersebut, sekitar 90 persen dilaporkan terdampak kebakaran. Artinya, kebakaran bukan lagi persoalan yang hanya berada di dalam pagar kawasan pembuangan sampah. Ia telah bersentuhan dengan ruang hidup masyarakat.
“Asap tebal hingga kini masih dirasakan oleh masyarakat di sekitar kawasan TPA. Bahkan, kobaran api disebut sangat dekat dengan permukiman warga Sulamadaha,” kata Astuti.
Situasi tersebut menjadi persoalan serius karena asap dari pembakaran sampah tidak sama dengan asap dari pembakaran material biasa.
Timbunan sampah terdiri dari berbagai jenis material yang bercampur. Ketika terbakar, sebagian dapat menghasilkan polutan yang berbahaya bagi kesehatan.
Astuti menyebutkan, kebakaran timbunan sampah dapat menghasilkan partikel halus PM2.5 dan karbon monoksida (CO). Dalam kondisi tertentu, pembakaran juga dapat menghasilkan dioksin, furan, serta logam berat.
Polutan tersebut dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Risikonya semakin besar bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang telah memiliki gangguan pernapasan.
Batuk, iritasi saluran pernapasan, sesak napas, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi sejumlah gangguan yang dapat dipicu atau diperburuk oleh paparan asap.
Bagi WALHI, pemerintah tidak boleh menunggu sampai muncul korban atau gangguan kesehatan yang lebih serius.
Penanganan kebakaran, kata Astuti, harus dilakukan dalam dua sisi sekaligus, memadamkan api dan melindungi masyarakat dari dampak asap.

Pemerintah Kota Ternate dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dinilai perlu memastikan masyarakat yang berada di sekitar kawasan mendapatkan perlindungan selama proses penanganan berlangsung.
Sebab, meski api telah mencapai sekitar 90 persen padam, material di dalam timbunan masih dapat menyimpan panas. Di saat yang sama, masyarakat tetap berhadapan dengan asap.
Kondisi itu membuat kebakaran TPA tidak dapat dilihat sebagai peristiwa sesaat. Ia membuka kembali persoalan lama tentang bagaimana kota mengelola sampahnya.
Setiap hari, sampah dari aktivitas masyarakat akhirnya bermuara di tempat pembuangan akhir. Sampah yang telah dibuang kemudian menumpuk. Ketika timbunan semakin besar, persoalan yang muncul bukan hanya soal kapasitas lahan, tetapi juga bagaimana mengendalikan risiko kebakaran, pencemaran udara, dan dampaknya terhadap permukiman di sekitar.
Kebakaran Buku Deru-Deru memperlihatkan kerentanan itu secara nyata. Api membakar timbunan sampah dalam area yang luas. Petugas harus mendatangkan air, bekerja selama berhari-hari, dan mengerahkan puluhan personel untuk mengendalikan titik api.
Sementara masyarakat di sekitar kawasan harus berhadapan dengan asap. Karena itu, WALHI melihat peristiwa tersebut sebagai momentum untuk mengevaluasi cara pemerintah mengelola sampah.
“Kebakaran TPA dan sekitarnya harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali paradigma pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada penumpukan dan pembuangan akhir,” pungkas Astuti.
Dinas Kesehatan Kota Ternate mengambil langkah khusus menyikapi dampak asap kebakaran.
Pada 4 Oktober 2026, Dinas Kesehatan menyiagakan Posko Layanan Kesehatan melalui Puskesmas Sulamadaha untuk memberikan pelayanan dan pemantauan terhadap masyarakat yang terdampak paparan asap.
Tim Gerak Cepat juga disiagakan. Kader kesehatan, bidan kelurahan, dan tenaga kesehatan yang berdomisili di wilayah terdampak turut digerakkan untuk melakukan pemantauan serta memberikan edukasi kepada masyarakat.
Masker juga didistribusikan kepada masyarakat di Kelurahan Takome, Sulamadaha dan wilayah sekitarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, dr. Fathiyah Suma, mengingatkan bahwa asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
“Bayi dan balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih,” katanya.
Menurut dia, paparan asap dapat menyebabkan sejumlah keluhan kesehatan, mulai dari batuk dan tenggorokan terasa perih, mata pedih dan berair, sesak atau napas berbunyi, hingga sakit kepala dan pusing.
“Masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan, paparan asap juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada,” katanya.
Karena itu, kata dia, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara dipenuhi asap. Masker dianjurkan digunakan dengan baik ketika berada di luar ruangan atau kawasan yang terdampak.
Pintu dan jendela juga diminta ditutup apabila asap mulai masuk ke dalam rumah. Masyarakat juga diminta tidak mendekati lokasi kebakaran.
Ia berharap, jika muncul keluhan seperti batuk berat, sesak napas, iritasi mata atau tenggorokan, pusing, atau gejala lain yang semakin berat, warga diminta segera memanfaatkan layanan kesehatan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap. Dinas Kesehatan bersama Puskesmas dan tenaga kesehatan telah menyiagakan layanan kesehatan serta melakukan distribusi masker sebagai langkah perlindungan dan mitigasi dampak kesehatan bagi masyarakat,” pungkas Fathiyah.
____
Reporter: Iksan Muhammad, Andri R. Mansur
close