21
Oktober
2026
Rabu - : WIB

Terjepit Beton Kota, Anak-anak Ternate Merawat Mimpi Bermain Bola

Iksan Muhammad
Oktober 20, 2026 pada Liputan Khusus
Melihat anak-anak Ternate bermain bola di atas lapangan beton. Foto (Iksan Muhammad/halmaheranesia)

Halmaheranesia — Bola plastik itu bergulir di atas permukaan beton. Puluhan anak berlarian mengejarnya, sesekali bersenggolan, tertawa, lalu bersorak ketika salah seorang berhasil mencetak gol. Di antara tembok tinggi dan bangunan yang mengimpit permukiman, sore mereka diisi dengan pertandingan sepak bola sederhana.

Tak ada rumput hijau, garis lapangan, ataupun perlengkapan bermain yang memadai. Hanya dua gawang sederhana dan setapak beton seluas sekitar 24 meter persegi di Jalan Tapak Raya I, Makassar Timur, RW 08, Kelurahan Kampung Makassar, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate. Namun, ruang sempit itu cukup untuk membuat mereka berkumpul dan menikmati permainan.

Bagi anak-anak tersebut, lapangan itu bukan tempat yang ideal. Permukaannya keras, ruang geraknya terbatas, dan risiko terjatuh selalu ada. Meski begitu, mereka tetap datang hampir setiap sore. Ketika lapangan berumput sulit dijangkau, setapak beton menjadi tempat yang paling memungkinkan untuk bermain bersama.

“Ingin main di lapangan, Kak, yang ada dia punya rumput, tapi jauh. Di sini juga asyik,” kata Radit, salah seorang anak yang bermain di tempat itu, saat ditemui halmaheranesia, Sabtu sore, 17 Oktober 2026.

Keinginan Radit sederhana, bermain di lapangan berumput, berlari lebih leluasa, dan menikmati sepak bola tanpa harus khawatir terluka saat terjatuh. Namun, keinginan itu belum mudah diwujudkan. Di tengah permukiman yang semakin padat, ruang bermain yang dekat dan dapat digunakan anak-anak dengan leluasa menjadi kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Bagi Radit dan teman-temannya, bermain di atas beton punya sisi menyenangkan sekaligus menyimpan risiko.

“Main di sini enak deng (dan) tara (tidak) enak tetap bermain. Kalau jatuh pasti sakit, kanal setapak. Baribut (ribut) juga tapi tara ada yang marah. Main di sini tidak ganti-gantian,” jelasnya.

Di tempat itu, mereka bisa menentukan sendiri kapan pertandingan dimulai, siapa yang menjadi penjaga gawang, dan berapa banyak gol yang harus dicetak untuk memenangkan permainan. Mereka tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan giliran bermain.

Namun, kebebasan tersebut datang bersama keterbatasan. Permukaan beton yang keras bisa melukai tubuh ketika terjatuh. Ruang yang sempit juga membuat permainan tak bisa berlangsung seleluasa di lapangan sepak bola pada umumnya.

Meski begitu, keterbatasan tak membuat mereka berhenti bermain. Sebagian anak bahkan bermain tanpa sepatu. Bola yang digunakan hanya bola plastik, terkadang sudah sedikit kempis. Tak ada aturan pertandingan yang ketat. Selama semua bisa ikut bermain, sore mereka terasa cukup menyenangkan.

Cerita serupa datang dari Muhammad Alvin. Pelajar kelas VI itu mengaku bermain bola menjadi cara untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas sekolah. Meski ia dan teman-temannya kerap memainkan berbagai permainan di sekolah, harinya terasa belum lengkap jika belum bermain bola di lapangan beton tersebut.

Setiap Minggu sore hingga malam, tempat itu menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok usia dan latar belakang. Anak-anak sekolah hingga orang dewasa datang untuk bermain. Perempuan maupun laki-laki juga bisa terlibat dalam aktivitas tersebut.

Di sana, tidak ada seorang pemimpin yang secara khusus mengatur permainan. Anak-anak mengatur pertandingan bersama, membagi kelompok, dan menentukan giliran bermain.

“Tidak ada ketua di sini, Kak. Semuanya sama. Jadi, sore-sore sudah kumpul. Terus bikin undian, mainnya bergiliran. Jadi, tara ada pemimpin di sini pokoknya,” ujar Alvin.

Dari Bekas Pembangunan Menjadi Ruang Bersama

Setapak beton yang menjadi tempat anak-anak bermain bola itu merupakan bagian dari area bekas pembangunan taman kota oleh Pemerintah Kota Ternate. Ruang yang semula ditujukan untuk mempercantik wajah kota tersebut kini memiliki fungsi lain bagi warga: menjadi lapangan sepak bola seadanya.

Berhadapan dengan Pandara Kananga, lokasi itu diapit tembok tinggi milik Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate. Dinding-dindingnya dipenuhi coretan menyerupai mural, menjadi latar bagi aktivitas anak-anak yang setiap sore memenuhi ruang sempit tersebut.

Meski identik dengan permainan anak-anak, tempat itu bukan hanya milik mereka. Warga setempat juga memanfaatkannya untuk menggelar pertandingan sepak bola, termasuk liga antarrukun tetangga (RT). Letaknya yang tidak jauh dari kantor kelurahan membuat area tersebut menjadi salah satu titik berkumpul warga.

Marwan, seorang nelayan Ternate yang ditemui di pangkalan tempat para nelayan beristirahat pada sore hari mengatakan, setapak beton itu dimanfaatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Pangkalan yang ditempati nelayan tersebut juga menjadi lokasi berkumpul para nelayan yang wilayah tangkapnya berada jauh dari Pulau Ternate. Daerah pencarian ikan mereka menjangkau perairan Morotai hingga Halmahera Selatan, terutama untuk menangkap tuna.

Menurut Marwan, sebenarnya terdapat beberapa lapangan di sekitar lingkungan tersebut. Namun, lapangan-lapangan itu biasa digunakan kelompok anak lain sehingga anak-anak kerap merasa segan untuk ikut bermain.

Pilihan lainnya adalah lapangan yang lebih besar di kawasan Ngaralamo. Untuk mencapai tempat tersebut, anak-anak harus berjalan kaki sekitar 10 menit. Jika berlari, perjalanan bisa ditempuh sekitar lima menit.

Jarak itu mungkin tidak terlalu jauh bagi orang dewasa. Namun, bagi anak-anak yang ingin bermain setiap sore, keberadaan lapangan yang dekat dan bisa digunakan bersama tetap penting. Pada akhirnya, setapak bekas pembangunan taman kota itu kembali menjadi pilihan.

Di antara tembok beton dan padatnya permukiman, anak-anak Ternate tetap berlari mengejar bola, merayakan gol, dan menjaga mimpi sederhana mereka tentang sebuah lapangan yang layak.

Lapangan Kecil, Aktivitas Warga yang Beragam

Selain menjadi tempat bermain sepak bola, kawasan tersebut juga memiliki denyut kehidupan ekonomi. Marwan mengatakan, setiap Minggu, mulai pagi hingga sore, area di depan lapangan dipadati pedagang musiman.

“Kebutulan jaraknya tidak terlalu jauh dengan pasar dan terminal kota,” ujarnya.

Mereka menjajakan beragam barang, mulai dari pakaian dan sepatu hingga kebutuhan lainnya. Menurut Marwan, para pedagang tersebut mendapat izin dari pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

“Tapi mereka hanya berjualan di hari itu saja. Besoknya sudah tidak lagi. Soalnya hari Minggu kan ramai di kawasan ini,” katanya.

Pada hari itu, ruang yang biasa digunakan anak-anak bermain bola berubah menjadi tempat transaksi ekonomi. Kehadiran pedagang musiman menambah aktivitas di kawasan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa ruang terbatas itu memiliki beragam fungsi bagi warga.

Tempat tersebut juga menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat. Marwan mengatakan, pertandingan liga antar-RT kerap digelar di sana. Warga turut meramaikan berbagai peringatan, seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Jadi Ternate, maupun kegiatan yang diselenggarakan kelurahan.

Ketika pertandingan liga berlangsung, warga menata lapangan sedemikian rupa agar dapat menampung pemain dan penonton. Area pertandingan dibatasi, sementara tempat duduk disusun melingkar bagi warga yang ingin menyaksikan pertandingan. Penonton juga dikenai karcis masuk.

“Karcis-karcis itu mungkin nanti akan dibeli hadiah atau untuk konsumsi panitia,” ujarnya.

Bagi warga, setapak tersebut bukan sekadar tempat bermain bola. Di ruang yang terbatas itu, aktivitas olahraga, pertemuan sosial, hingga kegiatan ekonomi berlangsung berdampingan.

Bagi anak-anak seperti Radit dan Alvin, tempat itu belum bisa menggantikan lapangan berumput yang mereka impikan. Permukaannya tetap keras, ruang geraknya terbatas, dan perlengkapan bermain mereka masih seadanya.

Selama belum tersedia ruang bermain yang lebih layak dan mudah dijangkau, setapak itu akan terus menjadi tempat mereka menghabiskan sore.

Di antara beton, tembok, dan padatnya permukiman, bola plastik terus bergulir. Anak-anak itu berlari mengejarnya, seolah keterbatasan ruang bukan alasan untuk berhenti bermain dan memelihara mimpi tentang lapangan sepak bola yang sesungguhnya.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

copyright halmaheranesia
MENU