Di tepian pantai Halmahera Timur yang lengang, ramai suara perempuan-perempuan paruh baya dan anak-anak.
Setiap sore tiba, mereka nyaris memadati sebuah dermaga yang mulai rapuh pada beberapa bagian. Sementara di kajauhan, riuh perahu nelayan sibuk melintasi lautan di antara cahaya matahari yang kemerah-merahan.
Mereka tak sedang menikmati senja. Setiap sore, di batas dermaga itu, mereka berdiri dengan alat pancing sederhana, mengaitkan umpan keong di mata kail, melemparnya ke laut, lalu menunggu dengan hati terbuka.
Aktivitas ini bisa ditemukan di beberapa wilayah di Halmahera Timur, seperti di Desa Waci, Maba Sangaji, hingga Desa Fayaul.
Di tangan perempuan-perempuan yang mulai tampak keriput, alat-alat pancing itu berubah menjadi kehidupan, meski hasil tak selalu membahagiakan.
“Setiap sore, kami biasa mancing di sini. Dulu ikan makan bagus, sekarang ikan makan so (kurang) kurang bagus, paling torang (kami) dapat empat ekor, tapi itu ikannya kacil-kecil,” kata seorang perempuan, usai menghitung hasil tangkapannya.





Foto: Rifki Anwar | Teks: Andri R. Mansur





