Di sebuah ruang kerja sempit berukuran 3×3 meter, cahaya lampu meja memantul di permukaan karet stempel yang tengah dipahat. Di sanalah Sukardi Tengge (62 tahun) yang akrab disapa Om Jo menghabiskan hari-harinya.

Duduk membungkuk, dengan kacamata yang sedikit melorot, ia bekerja dalam diam, teliti, sabar, dan nyaris tanpa cela.

Sudah 25 tahun lamanya ia menekuni pekerjaan ini di Ternate. Dari ruang kecil yang sederhana, Om Jo membangun hidup, menghidupi keluarga, sekaligus merawat harapan yang dulu nyaris padam.

Saat halmaheranesia mengunjunginya pada Selasa, 29 April 2026, suasana itu masih sama. Tangannya tetap cekatan mengukir karet stempel pesanan pelanggan. Sesekali ia menyesuaikan posisi kacamatanya, lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Lelaki berdarah Jawa yang lahir di Ambon itu tak pernah membayangkan hidupnya akan berlabuh di Ternate. Ia datang di masa paling genting—ketika konflik sosial 1999 masih menyisakan trauma dan ketidakpastian.

Awalnya, Ternate adalah kota asing. Namun di tempat yang sempat diliputi ketegangan itu, ia justru menemukan jalan untuk memulai kembali.

Om Jo menikah dengan perempuan asal Ambon yang kemudian memeluk Islam. Dari pernikahan itu, lahirlah tiga anak yang kini tumbuh besar dalam kesederhanaan, namun penuh kehangatan.

“Saya punya tiga anak. Yang bungsu, Dea, lahir di Ternate,” ujarnya pelan, tanpa menghentikan pekerjaannya.

Kini, Dea menempuh pendidikan di Universitas Khairun, mengambil jurusan Agribisnis. Anak keduanya juga kuliah di kampus yang sama, memilih Agroteknologi. Sementara anak pertama melanjutkan studi di Ambon, tinggal bersama keluarga.

Alhamdulillah, semua bisa sekolah dari kerja bikin stempel ini. Dibantu juga sama istri,” katanya, dengan nada syukur yang sederhana.

Perjalanan hidup Om Jo di Ternate tidak dimulai dengan rencana yang matang. Ia datang hanya dengan satu tujuan: mencari seorang teman lama asal Makean yang pernah dikenalnya saat bekerja di Ambon.

Setelah konflik memutus komunikasi mereka, takdir justru mempertemukan kembali di sebuah pasar di Ternate.

“Erik. Dia yang panggil saya. Nama itu hanya orang tertentu yang pakai. Jadi saya langsung tahu, pasti dia teman lama,” kenangnya.

Pertemuan itu menjadi titik balik. Sang teman menawarkan bantuan, sebuah lapak kecil untuk memulai usaha.

“Ia bayar tempat sekitar Rp 2 juta. Saya diminta kerja dulu, lalu setor pelan-pelan sampai lunas. Tempat ini, yang sekarang,” tuturnya.

Namun sebelum menetap, Om Jo sempat kembali ke Manado untuk mengantar istrinya, atas permintaan keluarga. Setelah itu, ia kembali lagi ke Ternate dengan menumpang kapal ikan yang membawa bantuan untuk pengungsi. Ia turun di Pelabuhan Ahmad Yani tanpa arah yang pasti.

“Hidup waktu itu seperti kosong. Tidak tahu mau kerja apa. Serabutan saja, tidak punya tempat tinggal,” ujarnya.

Hari-harinya diwarnai ketidakpastian. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain—tidur di pasar, di pelabuhan, hingga di musala dan masjid.

“Kalau tidur di masjid, orang-orang di sini tidak marah. Itu yang saya ingat,” katanya.

Untuk bertahan hidup, ia menjual semua yang dimilikinya.

“Sepatu, jam tangan, apa saja, habis untuk makan,” ucapnya lirih.

Mengukir Kembali Hidup

Dari titik terendah itu, Om Jo perlahan bangkit. Dengan keterampilan sederhana, membuat stempel. Ia membangun kembali hidupnya, satu ukiran demi satu ukiran.

Ia mengaku, pendapatannya sebagai pembuat stempel tidak pernah benar-benar pasti—semuanya bergantung pada pesanan yang datang. Rezeki terasa lebih ramai ketika ada kegiatan besar atau hajatan pemerintahan.

“Kadang sehari dapat dua sampai tiga pesanan, kadang juga bisa sampai sepuluh. Soalnya pembuat stempel di sini juga banyak,” ujarnya.

Meski begitu, ia tak pernah merasa kalah oleh keadaan. Hidup, baginya, adalah soal bertahan dan terus bergerak. Dengan keteguhan, ia tetap bekerja—sebab dari sanalah satu-satunya harapan untuk menopang kehidupan keluarganya tumbuh.

Kini, di ruang kecil yang sama, ia tak sekadar menorehkan tinta di atas karet. Ia sedang merawat masa depan anak-anaknya, perlahan. Dari setiap usaha yang ia hasilkan, tersimpan jejak panjang tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *