Halmaheranesia – Sore itu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome, Kota Ternate, bau busuk menguasai udara. Tapi bagi Rahia, perempuan 60 tahun asal Kelurahan Sulamadaha, bau itu justru tanda bahwa hari masih berjalan, bahwa masih mungkin mengais rezeki dari gunungan sampah kota yang terus bertambah.

Sejak pukul tujuh pagi, Rahia sudah tiba di TPA, bergabung dengan sekitar 50 pemulung lain. Dari kejauhan, langkah-langkah kecil mereka tampak seperti titik-titik bergerak di atas hamparan sampah.

Truk-truk pengangkut bergantian masuk membawa muatan baru, sumber harapan bagi mereka yang hidup dari sisa masyarakat kota.

Sudah 20 tahun Rahia menekuni pekerjaan ini. Ia menyambut setiap truk yang datang seperti menyambut peluang hidup. Dengan cekatan, ia bersama yang lain berebut plastik, botol, besi, atau apa saja yang masih bernilai jual.

“Kerja begini so (sudah) lama. Jadi kalau ada orang kota masuk sini, jangan bilang bau, kami tersinggung. Itu singgung torang (kami) punya pekerjaan,” kata Rahia, sambil mengayunkan parang kecil untuk mencacah plastik-plastik tebal.

Kawasan TPA Kota Ternate. Foto (Rifki Anwar/halmaheranesia)

Kru halmaheranesia pada 7 Mei 2025, sore itu berkunjung ke lokasi, menyaksikan langsung bagaimana para pemulung itu bekerja. Mereka terus memilah, tanpa alat pelindung, tanpa masker, tanpa sarung tangan. Hanya sepatu boot usang dan pakaian tipis yang melekat di tubuh.

Di tengah deru alat berat dan debu yang berterbangan, Rahia menuturkan bahwa setiap karung plastik yang penuh adalah napas baru bagi keluarganya. Barang-barang itu akan dijual ke pengepul, yang mereka sebut juragan, dengan harga yang terus berubah-ubah.

“Kalau satu karung besar sudah penuh, juragang datang ambil. Yang mahal itu besi, aluminium, tapi jarang dapat. Andalan kami plastik, karena banyak dan orang kota malas pilah sampah,” ucapnya sambil senyum tipis.

Menurut dia, harga plastik dibeli Rp 3.000 per kilogram. Kadang cukup untuk makan sehari, kadang cukup untuk mencicil kebutuhan lain. Tapi fluktuasi harga itu tak pernah menyurutkan langkah Rahia ke TPA, setiap pagi hingga sore.

Pekerjaan Rahia dan teman-temannya penuh risiko. Di sela-sela pemilahan, ia bercerita tentang sesekali hampir pernah tertabrak alat berat, tercekik debu truk, bahkan diseruduk sapi liar yang berkeliaran di TPA.

Kawasan TPA Kota Ternate. Foto (Rifki Anwar/halmaheranesia)

“Itu semua torang pe (punya) risiko kerja. Tapi kalau bukan ini, torang (kami) makan apa,” katanya pelan.

Ia menjelaskan, mirisnya di TPA, alat berat yang seharusnya membantu pemerataan sampah justru terbengkalai. Dari lima unit ekskavator dan buldoser, kini hanya satu yang masih bisa beroperasi. Itupun, katanya, lebih sering disewakan ke tempat lain ketimbang digunakan di TPA ini.

“Alat cuman satu, itupun biasa disewakan. Jadi, kami para pemulung yang bantu kurangi sampah ini, supaya tidak numpuk terus,” jelasnya.

Di sela tumpukan sampah, di sisi kanan TPA, ada rumah-rumah kecil tempat para pemulung berteduh. Bangunan sederhana dari kayu dan seng bekas, yang menampung setidaknya lima orang. Rahia juga punya satu, tempatnya beristirahat saat lelah menyergap.

“Biasanya kalau datang ke sini untuk foto-foto, harus izin dulu sama petugas,” ujar Rahia, sambil menunjuk kantor pemerintah yang berdiri tegak tak jauh dari sana.

Di sisi kiri, para petugas terlihat duduk santai, memantau setiap truk masuk. Kursi sedikit empuk yang lumayan bersih, termasuk fasilitas kantor juga masih sangat memadai. Berbeda seperti rumah milik pemulung.

Menurut Rahia, mengutip keterangan petugas kebersihan, produksi sampah Kota Ternate mencapai 100 hingga 200 ton per hari. Angka besar yang tak sebanding dengan kondisi di lapangan. Dengan alat berat yang terbatas, pekerjaan pemerataan sampah kini justru banyak dibebankan kepada para pemulung seperti Rahia.

“Alat berat di sini cuma satu yang jadi. Sayang sekali itu, akhirnya kewalahan kalau kerja,” tambahnya.

Sore itu, saat matahari mulai turun, Rahia masih bertahan. Tangannya tak henti memilah, kakinya tetap cekatan melangkah di antara tumpukan sampah. Bagi Rahia, di balik bau menyengat dan risiko yang mengintai, setiap karung plastik yang penuh adalah harapan baru.

Rahia bukan sekadar pemulung. Ia adalah sosok yang mengajarkan bagaimana bertahan hidup dengan martabat, meski di tengah gunungan sampah kota.

“Kalau bukan ini, kami makan apa,” pungkasnya sembari bersiap untuk pulang.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *