Bolanesia – Kasus rasisme yang menimpa Yance dan Yakob atau ‘Duo Sayuri’ akhir-akhir ini menjadi sebuah alarm keras. Semacam ada sistem yang lemah sedang menyasar ke dalam tubuh sepak bola.
Di setiap papan iklan yang menghiasi stadion di Indonesia, kalimat “No Racism” terlihat jelas, meski begitu–ia hanya sebatas ajang seruan, prakteknya tak menyentuh para pelaku, dan hanya menjadi atribut selebrasi semu.
Sebelum laga Malut United vs Persib Bandung pekan lalu di Gelora Kieraha, kasus rasisme sebenarnya sudah dialami Yakob dan Yance, dan bahkan sudah dilaporkan ke pihak kepolisian, namun tindakannya hanya sebatas riak-riak kecil yang malu-malu–tak ada progres sama sekali.
Rasisme itu justru terus berlanjut saat Yakob tampil tak memuaskan dan gagal membawa timnas melaju ke Piala Dunia dalam kualifikasi zona Asia. Lalu terjadi lagi pada laga Malut United vs Persita Tangerang pada Minggu, 23 November 2025.
Seusai laga melawan Persita, sempat terjadi insiden antar ke dua tim. Yakob kemudian mendapatkan perlakuan bernada rasis saat mencoba mencegah seorang oknum menggunakan rompi media masuk mengambil gambar di area yang secara regulasi sebenarnya dilarang, bahkan tim media sekalipun.
Bukannya mendapat perlakuan adil atas tindakan rasis tersebut, Yakob malah diberi sanksi larangan bermain selama tiga pertandingan tanpa ada proses pembelaan. Dalam posisi ini, Yakob benar-benar disudutkan sebagai orang paling bersalah dengan mengaburkan akar masalahnya.
Tak berhenti di situ, puncak paling memerihkan saat laga Malut United vs Persib Bandung. Yance dan Yakob menjadi bahan ejekan, anak dan istri Yance pun turut menjadi korban kebengisan oknum suporter dengan perkataan yang sangat tidak manusiawi.
Kasus rasisme yang menimpah Sayuri bersaudara itu adalah sebuah gambaran pata hati, sebuah romansa yang telah dilecehkan; euforia yang kehilangan empati.
Dari titik putih ke ruang ganti, kita telah bertahun-tahun mengenal solidaritas, menghidupi mimpi, memeluk perbedaan hingga belajar menjaga air mata tanpa kesedihan. Namun pada titik yang lain, luka yang bernama rasisme itu justru mengalir deras, menghantam semua atribut dan selebrasi keindahan.
Sepak bola itu cinta yang sebenarnya, ia tak mengenal suku, agama, apalagi warna kulit. Di atas lapangan dan tribun, setiap orang bisa tertawa, menangis, berteriak sekeras-kerasnya, bahkan merayakan selebrasi tanpa rasa takut–tak ada kepura-puraan; semua tampak mengalir dengan jujur, sungguh sangat jujur.
Sementara di sisi lain, rasisme adalah musuh bersama, ia kapan saja bisa menenggelamkan cinta ke dasar nurani, menyalakan bara kebencian yang memenuhi isi stadion.
Dan sekali lagi jangan biarkan rasisme makin akut dan melemahkan gairah sepak bola kita, ia tak boleh hidup dalam faksi suporter, apalagi tumbuh di tengah lapangan. Tak Boleh!





