Halmaheranesia – Asap mengepul dari dapur rumah, harum rempah menyengat hingga ke jalanan setapak pesisir pantai. Di kejauhan, senja kemerah-merahan menggantung di langit Jambula, Ternate Selatan, Kota Ternate.
Pada hari itu, sebuah festival bertajuk ‘Pesta di Selatan’ yang diinisiasi oleh Kagounga tengah berlangsung. Kegiatan yang mengangkat tema gastronomi ini digelar selama dua hari, Kamis–Jumat, 18–19 Desember 2025.
Festival ini melibatkan pemuda dan masyarakat Jambula dengan menghadirkan beragam rangkaian kegiatan sebagai upaya merawat dan menjaga kebudayaan di Kota Ternate dan Maluku Utara.
Di bibir pantai Jambula, riuh suara ombak berpadu dengan kesibukan anak-anak serta percakapan warga yang mengalir begitu saja. Suasana akrab tanpa kecanggungan menyerupai pesta rakyat yang hangat dan penuh antusiasme.
Meski berlangsung sederhana dan tidak terlalu formal, acara ini terasa magis karena menampilkan rangkaian kegiatan bernuansa kebudayaan tradisional. Di tengah rutinitas kehidupan kota modern, hajatan tersebut seolah menarik kembali ingatan pada kebiasaan masa lalu.
Pada hari Kamis, rangkaian kegiatan diisi dengan pasar jajan, lokakarya seni visual, permainan tradisional, lomba momasa dan pesta popeda, gelar wicara gender sagu, panggung majarita, pertunjukan musik etnik, pasar barter pangan, tungku dan buku, serta doa penutup malam.
Kegiatan dilanjutkan pada Jumat dengan prosesi tola parahu, teatrikal orang pesisir, santap ikan tangkap, meja komunal dan bacarita raba, sambayang sama-sama, kupas Jumat dari dapur, parodi keluarga nelayan, senandung para puan, pasar barter pangan, pikul obor jou mabala, makan sareat, hingga ditutup dengan pembacaan doa selamat dan tolak bala.
Koordinator acara Pesta di Selatan, Aiya Lee, mengatakan penamaan festival tersebut merupakan upaya memperbaiki stereotip bahwa kegiatan kebudayaan tidak harus selalu berpusat di tengah kota.
“Membuat festival di wilayah selatan juga kondusif dan layak menjadi pilihan. Jika kita bicara hajatan, maka harus adil,” ujar Aiya, Kamis, 18 Desember 2025.
Menurut Aiya, Pesta di Selatan merupakan ajakan untuk kembali ke akar. Selama dua hari di Jambula, sagu dan ikan memimpin ingatan tentang hutan, laut, bahasa, serta ritual yang hampir hilang.
“Dengan obor, langkah tanpa alas kaki, dan bahasa Ternate yang memenuhi ruang komunal, festival ini seperti menghidupkan kembali cara lama manusia untuk saling terhubung,” katanya.
Ia menegaskan bahwa gastronomi bukan sekadar soal rasa, melainkan identitas yang harus dijaga. Gastronomi, menurutnya, berbicara tentang perilaku, budaya, dan nilai-nilai yang melekat di balik makanan.
Aiya mencontohkan proses pembuatan popeda yang sarat makna, mulai dari memilih pohon sagu, menentukan hari baik untuk menebang, hingga proses pengolahan yang melibatkan gotong royong serta pamali yang tidak boleh dilanggar.
“Semua tahapan itu memiliki makna tersendiri,” jelasnya.
Festival ini, lanjut Aiya, ingin membuktikan bahwa sagu dan ikan bukan sekadar pilihan pangan, tetapi menjadi penutur yang menghubungkan masa kini dengan warisan leluhur.
“Gastronomi di Jambula bertutur melalui cara-cara leluhur,” ujarnya.
Sementara itu, Afdi, mewakili ketua panitia kegiatan sekaligus Ketua Pemuda Jambula, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sengaja dikemas secara sederhana dan tradisional agar masyarakat tidak melupakan masa lampau.
“Meski hidup di zaman yang serba maju, kegiatan ini mengingatkan bahwa kita berjalan terlalu cepat dan terlalu jauh. Ketika teknologi tidak lagi berfungsi, yang tersisa adalah pangan yang bisa diolah untuk bertahan hidup,” tuturnya.
Ia menilai kesederhanaan justru memudahkan masyarakat memahami makna gastronomi, istilah yang selama ini jarang dikenal oleh masyarakat pesisir.
“Pemuda dan warga Jambula sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kami berharap Pesta di Selatan dapat menjadi agenda tahunan untuk memperkenalkan gastronomi sekaligus menguatkan identitas,” pungkasnya.
Menjelang malam, senja tenggelam dan langit kian gelap. Arak-arakan obor jou mabala anak-anak menerangi lokasi acara, disusul senandung para puan dan pasar barter pangan yang romantis. Penutupan dengan doa selamat dan tolak bala berlangsung khidmat.
Asap dapur memang tak lagi mengepul, namun aroma rempah dan anyir ikan masih tercium. Suasana itu tetap melekat dalam ingatan, seolah festival belum benar-benar usai meski telah mencapai penghujungnya.





