Halmaheranesia – Hidup kadang membawa orang ke tempat yang tak pernah ia rencanakan, lalu memintanya bertahan sekuat yang ia bisa. Begitulah yang dialami Jafar Dailang, laki-laki Halmahera yang bertarung hidup di jantung Kota Ternate.
Siang itu, matahari menggantung tepat di atas langit Pasar Gamalama. Panasnya jatuh lurus ke kepala, memantul dari atap seng kios-kios dan aspal yang berkilau. Udara terasa pengap, bercampur aroma ikan, sayur layu, dan sisa dagangan yang mulai membusuk.
Di tengah hiruk pikuk itu, seorang lelaki berusia 69 tahun mendorong gerobak kayu yang sudah renta dimakan usia. Rodanya berdecit pelan setiap kali melewati jalan yang tak rata. Gerobak itu penuh oleh karung dan plastik besar berisi sampah pasar.
Bajunya basah oleh keringat. Topi lusuh di kepalanya tak banyak membantu menahan terik. Namun langkahnya tidak goyah. Namanya Jafar Dailang.
Tangannya cekatan memungut sisa barito—ikan dan daging yang tak lagi layak jual—kardus basah, botol plastik, hingga sisir pisang yang mulai menghitam. Semua ia angkat, pilah, lalu susun rapi di gerobaknya. Bagi sebagian orang, itu hanyalah sampah. Bagi Jafar, itu adalah sumber hidup.
“Kalau tidak diambil, menumpuk dan bau. Kalau diambil, bisa jadi uang,” katanya pendek, sambil mengikat karung plastik yang sudah penuh.
Gerobak yang ia dorong bukan miliknya. Ia menyewanya dari pelanggan pasar dengan biaya sekitar Rp 15 ribu sehari. Dari situlah ia berkeliling, mengangkut sampah langganan pedagang yang sudah mengenalnya sejak lama.
Jafar lahir dan besar di Desa Lalonga, Galela Utara, Halmahera Utara. Namun kampung halaman yang ia kenal berubah saat konflik perang agama pecah bertahun-tahun silam.
Situasi yang mencekam memaksanya pergi, meninggalkan tanah kelahiran demi keselamatan.
Cinta untuk Anak-anaknya
Ia datang ke Ternate tanpa banyak bekal. Hanya tenaga dan kemauan untuk bertahan. Di kota inilah hidupnya dimulai lagi dari nol. Pekerjaan mengangkat sampah sudah ia lakoni sejak lama, bahkan ketika Pasar Gamalama belum seramai sekarang.
Ia menyaksikan pasar itu tumbuh; dari kios-kios sederhana, jalan yang belum sepadat hari ini, hingga kini menjadi jantung perdagangan Kota Ternate.
“Saya sudah kerja waktu pasar belum begini padat,” kenangnya, matanya menyapu keramaian di sekeliling.
Wajah-wajah pedagang berganti, bangunan direnovasi, harga-harga naik, tapi Jafar tetap ada—mendorong gerobaknya dari lorong ke lorong.
Tak banyak yang tahu, di balik penampilannya yang sederhana, Jafar menyimpan cerita perjuangan seorang ayah. Ia memiliki dua anak. Keduanya kini telah bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Pendidikan anak-anaknya dibiayai dari hasil mengumpulkan dan menjual sampah. Setiap botol plastik yang dihargai receh, setiap kardus yang ditimbang kiloan, setiap hari yang dihabiskan menghirup bau pasar—semua perlahan menjelma menjadi seragam sekolah, buku pelajaran, dan uang kuliah.
“Saya cuma mau anak-anak sekolah tinggi. Biar hidupnya jangan seberat bapaknya,” ucapnya pelan.
Kalimat itu meluncur tanpa drama. Biasa saja. Tapi justru di situlah letak beratnya; mimpi besar yang dipanggul diam-diam, bersama karung-karung sampah.
Perjuangan itu dulu ia jalani bersama istrinya. Namun pada 2012, perempuan yang menemaninya bertahun-tahun itu meninggal dunia. Sejak saat itu, Jafar hidup sendiri.
Kini, tempat pulangnya bukan rumah permanen. Jafar tinggal di sebuah musala kecil di belakang Gedung Plaza Gamalama. Di situlah ia tidur dan beristirahat setelah seharian bekerja.
Pakaian gantinya tidak ia simpan di sana. Ia menitipkannya pada seorang teman yang memiliki rumah makan di kawasan pasar. Setiap kali perlu berganti baju, ia mampir sebentar, lalu kembali bekerja.
“Teman itu sudah lama. Jadi titip tas pakaian di sana juga sudah tidak apa-apa,” katanya.
Bukan Sekadar Bekerja, Tapi Pelajaran
Hidupnya berjalan dalam ritme yang sederhana dan berulang. Bangun, bekerja, istirahat, lalu kembali lagi ke pasar keesokan harinya. Tak ada keluhan panjang.
“Yang penting masih bisa makan, masih bisa jalan. Terus harus halal. Supaya rezeki dapat terus,” ucapnya.
Saat ditemui siang itu, matahari sedang garang-garangnya. Banyak orang memilih berteduh di balik lapak atau masuk ke dalam kios. Jafar justru terus bergerak.
Ia mengangkat karung, menumpuk kardus, lalu mendorong gerobaknya ke titik pembuangan. Nafasnya terdengar berat, tapi ia tak berhenti lama. Baginya, berhenti bekerja justru membuat tubuh terasa lebih sakit.
“Kalau tidak kerja, badan tidak enak. Kerja begini bikin tetap kuat,” ujarnya, sambil tersenyum tipis.
Di usianya yang 69 tahun, Jafar tidak lagi mengejar banyak hal. Ia tidak bicara tentang rumah besar atau tabungan. Yang ia jaga adalah satu hal sederhana; tetap bisa bekerja, tetap sehat, tetap berdiri di atas kaki sendiri.
Di antara riuh Pasar Gamalama, di tengah orang-orang yang sibuk menawar harga dan menghitung untung, sosok Jafar Dailang nyaris tak diperhatikan.
Namun dari gerobak kayu yang ia dorong setiap hari, tersimpan kisah tentang kehilangan, ketekunan, dan harga diri.
Selama matahari masih terbit di atas Ternate, lelaki asal Galela itu akan tetap berjalan menyusuri pasar—mengangkat sampah, sekaligus mengangkat martabat hidupnya sendiri.





