Halmaheranesia – Pemerintah Kota Ternate mulai menjajaki kolaborasi strategis dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam pengembangan Benteng Oranje sebagai pusat pendidikan, kreativitas, dan diplomasi budaya berbasis sejarah rempah.
Kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan antara Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, dan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., di Yogyakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Pertemuan ini menjadi bagian dari langkah Pemerintah Kota Ternate dalam memperkuat city branding sebagai Kota Rempah yang memiliki jejak penting dalam jalur perdagangan rempah dunia.
Dalam pembahasan tersebut, Benteng Oranje diproyeksikan tidak hanya sebagai situs warisan sejarah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas edukasi, inovasi, dan kolaborasi global.
Kedua pihak menggagas konsep pengembangan sebagai living laboratory atau laboratorium hidup lintas disiplin yang mengintegrasikan sejarah rempah, kewirausahaan kreatif, kepemimpinan, hingga diplomasi budaya dalam satu ekosistem pembelajaran aplikatif.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly menyampaikan Benteng Oranje akan dikembangkan menjadi “Creative Hub Rempah” yang mempertemukan pelajar, akademisi, komunitas, hingga pelaku industri kreatif.
“Benteng Oranje akan dikembangkan sebagai living laboratory lintas disiplin sekaligus Creative Hub Rempah—ruang kolaborasi bagi pelajar, akademisi, komunitas, dan pelaku industri kreatif,” ujarnya.
Menurut dia, sejumlah program akan difokuskan pada pendidikan berbasis sejarah, inkubasi bisnis rempah, pengembangan kuliner lokal, hingga pelatihan kepemimpinan bagi generasi muda.
Selain itu, berbagai aktivitas kreatif juga akan dikembangkan, mulai dari inovasi produk kuliner berbasis rempah, pameran budaya, hingga forum inovasi yang mengangkat identitas Ternate sebagai pusat rempah dunia.
Salah satu agenda strategis yang diusulkan adalah program pertukaran pemuda dan pelajar internasional, khususnya dengan Belanda, mengingat kuatnya hubungan sejarah perdagangan rempah antara Ternate dan negara tersebut.
Program ini diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus memperkuat diplomasi budaya dan jejaring global generasi muda Ternate. Selain itu, kedua pihak juga membahas program youth training dan capacity building yang berfokus pada penguatan keterampilan bisnis, kepemimpinan, serta inovasi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Sementara untuk sektor kuliner rempah menjadi salah satu fokus utama sebagai upaya memperkuat identitas Kota Rempah dalam konteks ekonomi modern.
Dalam kesempatan itu, ia turut mengundang Prof. Baiquni sebagai narasumber pada Seminar Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
Kehadiran akademisi UGM tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif pengembangan kota pusaka yang adaptif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu mentransformasi Benteng Oranje menjadi pusat edukasi dan inovasi berbasis warisan sejarah, sekaligus memperkuat daya saing Ternate di tingkat global,” pungkasnya.





