Halmaheranesia — RSUD Chasan Boesoirie Ternate mulai memperkuat pelayanan penyakit jantung melalui pelaksanaan prosedur intervensi non-bedah jantung perdana di Maluku Utara.

Pelaksanaan tindakan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengembangan layanan jantung terpadu di RSUD Chasan Boesoirie, yang ditandai dengan peresmian gedung pelayanan jantung terpadu serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama dengan rumah sakit kabupaten/kota se-Maluku Utara.

Direktur RSUD Chasan Boesoirie Ternate, dr. Rosita Alkatiri, mengatakan penguatan layanan jantung tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Kementerian Kesehatan, serta rumah sakit pengampu nasional dan regional.

Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita ditetapkan sebagai rumah sakit pengampu nasional. Sementara itu, rumah sakit pengampu regional turut memberikan pendampingan dalam peningkatan kapasitas pelayanan jantung di Maluku Utara.

Rosita mengungkapkan, kebutuhan terhadap layanan penyakit jantung di Maluku Utara terus meningkat. Berdasarkan data internal RSUD Chasan Boesoirie, jumlah pasien dewasa yang mendapatkan pelayanan penyakit jantung meningkat dari 439 kasus pada 2020 menjadi 820 kasus pada 2025.

Peningkatan juga terjadi pada pasien rawat inap, dari 291 kasus pada 2020 menjadi 580 kasus pada 2025.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan penyakit jantung yang cepat, lengkap, berkualitas, dan terintegrasi.

Selain peningkatan jumlah pasien, angka rujukan keluar daerah juga masih cukup tinggi. Pada 2025 tercatat sebanyak 117 pasien harus dirujuk ke luar Maluku Utara, dengan tujuan utama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita serta sejumlah rumah sakit rujukan lainnya.

“Angka-angka tersebut menjadi cermin nyata bahwa masyarakat Maluku Utara membutuhkan akses pelayanan jantung yang lebih cepat, lebih lengkap, dan lebih terintegrasi,” ujarnya.

Penguatan layanan jantung ini mendapat dukungan Kementerian Kesehatan melalui bantuan alat cath lab serta sejumlah peralatan kesehatan lainnya. Pemerintah daerah juga mendukung pembangunan gedung pelayanan jantung terpadu secara bertahap melalui anggaran APBD.

Dalam pelaksanaan intervensi non-bedah jantung perdana, tindakan dilakukan terhadap lima pasien selama dua hari. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui transfer ilmu dan pendampingan dari dokter rumah sakit pengampu.

Tim jantung RSUD Chasan Boesoirie mendapat pendampingan langsung dari dokter berpengalaman dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita serta rumah sakit rujukan lainnya.

Selain layanan intervensi non-bedah, RSUD Chasan Boesoirie juga tengah mempersiapkan pelayanan bedah jantung terbuka.

Dari sisi kebutuhan alat kesehatan, sebanyak 23 item telah diakomodasi melalui anggaran APBD, sembilan item melalui dukungan sharing, dan empat item melalui bantuan. Namun, masih terdapat sembilan item utama yang belum teralokasi.

Sementara dari sisi sumber daya manusia, sejumlah tenaga pendukung telah memenuhi persyaratan pelatihan. Beberapa tenaga lainnya masih menjalani pendidikan dan pelatihan, termasuk dokter spesialis anestesi klinik serta dokter dan perawat bedah khusus.

Rosita menargetkan pelayanan bedah jantung terbuka dapat diwujudkan tahun ini, dengan target pelaksanaan mulai Desember 2026.

“Walaupun masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan, baik pembangunan SDM maupun pelayanan kesehatan, kami tetap optimistis untuk dapat mewujudkan pelayanan bedah jantung terbuka di rumah sakit kami pada tahun ini,” jelasnya.

Gedung pelayanan jantung terpadu yang baru dibangun dirancang untuk memberikan pelayanan secara komprehensif, mulai dari rawat jalan, tindakan medis, hingga perawatan intensif.

Gedung tiga lantai tersebut memiliki fungsi berbeda. Lantai pertama diperuntukkan bagi pelayanan rawat jalan yang dilengkapi empat poliklinik atau klinik spesialis jantung.

Lantai dua menjadi pusat tindakan medis dengan fasilitas cath lab atau laboratorium kateterisasi, ruang operasi, dan ruang bedah. Sementara lantai tiga digunakan untuk pelayanan rawat inap serta ruang perawatan intensif khusus jantung atau ICU Jantung.

Pemindahan layanan poliklinik jantung dari gedung lama ke gedung baru akan dilakukan setelah RSUD Chasan Boesoirie memperoleh persetujuan dan izin operasional dari BPJS Kesehatan.

Untuk layanan cath lab, fasilitas tersebut kini telah mulai dioperasikan. Tindakan pemasangan ring jantung terhadap lima pasien menjadi tindakan intervensi jantung perdana yang dilakukan di Maluku Utara.

Saat ini, RSUD Chasan Boesoirie didukung empat dokter spesialis jantung, yakni dr. Arif, dr. Fikri, dr. Zulkifli, dan dr. Felix.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis dalam persiapan operasi bedah jantung terbuka, pihak rumah sakit juga telah mengajukan usulan pengadaan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular (BTKV) melalui program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS).

Dari sisi sarana penunjang, peralatan cath lab bantuan Kementerian Kesehatan dipastikan telah lengkap dan siap digunakan. Sementara sejumlah peralatan pendukung untuk operasi bedah jantung terbuka masih dalam proses pengiriman.

“Dengan pengembangan tersebut, RSUD Chasan Boesoirie diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap rujukan pasien jantung ke luar daerah sekaligus memperluas akses masyarakat Maluku Utara terhadap pelayanan jantung yang lebih cepat dan terintegrasi,” pungkasnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *