Halmaheranesia — Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara (Malut) menyebutkan luas panen padi, produksi padi, maupun produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala BPS Maluku Utara, Simon Sapary, dalam rilis resminya mengatakan luas panen padi pada tahun 2025 mencapai 6.655 hektare. Angka ini mengalami penurunan sebesar 2.712 hektare atau 28,95 persen dibandingkan luas panen padi tahun 2024 yang mencapai 9.367 hektare.
Sementara itu, produksi padi pada 2025 tercatat sebanyak 22.642 ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah tersebut turun sebanyak 8.591 ton atau 27,51 persen dibandingkan produksi padi pada 2024 yang mencapai 31.233 ton GKG.
“Produksi beras pada 2025 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 12.670 ton, juga mengalami penurunan sebanyak 4.808 ton atau 27,51 persen dibandingkan produksi beras pada 2024 yang sebesar 17.478 ton,” ujar Simon, Rabu, 1 April 2026.
Simon menjelaskan, berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 6.655 hektare atau turun 2.712 hektare (28,95 persen) dibandingkan tahun 2024.
Menurutnya, puncak panen padi pada 2025 mengalami pergeseran ke bulan Januari, dari sebelumnya terjadi pada Februari 2024. Luas panen padi pada Januari 2025 tercatat sebesar 1.385 hektare, sedangkan pada Februari 2024 mencapai 1.801 hektare.
“Potensi luas panen padi pada Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 2.038 hektare atau mengalami penurunan sekitar 764 hektare (27,26 persen) dibandingkan Januari–Maret 2025 yang sebesar 2.802 hektare,” jelasnya.
Produksi Padi GKP
Simon menyampaikan produksi padi Gabah Kering Panen (GKP) di Provinsi Maluku Utara sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 28.140 ton GKP. Angka ini turun sebanyak 10.678 ton GKP atau 27,51 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 38.818 ton GKP.
“Produksi padi tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 5.692 ton GKP, sedangkan produksi terendah terjadi pada bulan Juli, sekitar 1.006 ton,” katanya.
Ia juga menyebutkan potensi produksi padi pada Januari–Maret 2026 diperkirakan masih mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi Padi GKG
Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 22.642 ton atau turun 8.591 ton (27,51 persen) dibandingkan 2024.
Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi GKG tertinggi pada 2025 adalah Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kabupaten Pulau Morotai. Sementara daerah dengan produksi terendah yakni Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Kepulauan Sula, dan Kabupaten Halmahera Selatan.
“Penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2025 terjadi di beberapa wilayah sentra produksi padi seperti Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Halmahera Utara,” ujarnya.
Di sisi lain, terdapat beberapa daerah yang mengalami peningkatan produksi padi, di antaranya Kabupaten Pulau Morotai, Kabupaten Halmahera Selatan, Kota Tidore Kepulauan, dan Kabupaten Halmahera Tengah.
Simon menjelaskan, jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka total produksi beras sepanjang Januari hingga Desember 2025 setara dengan 12.670 ton. Angka ini turun 4.808 ton (27,51 persen) dibandingkan tahun 2024.
Produksi beras tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Januari sebesar 2.563 ton, sedangkan produksi terendah terjadi pada bulan Juli yang hanya mencapai 453 ton.
“Potensi produksi beras pada Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 4.120 ton atau turun sekitar 1.388 ton (25,19 persen) dibandingkan Januari–Maret 2025 yang sebesar 5.507 ton,” pungkasnya.





