02
November
2026
Senin - : WIB

Ibu Pantri dan Seratus Piring Hangat

halmaheranesia
November 1, 2026 pada Senggang
Ilustrasi cerpen “Ibu Pantri dan Seratus Piring Hangat”. (Dibuat oleh AI)

Kita sering sibuk menghitung apa yang kurang dalam hidup kita, sampai lupa menghargai tangan-tangan yang membuat hidup kita terasa cukup.

Sering kali aku bertanya-tanya saat melihat ibu-ibu pantri.

“Sejak kapan mereka mulai memotong sayur-sayur itu?”

“Sejak kapan mereka membersihkan ikan-ikan ini?”

“Sejak pukul berapa mereka duduk di depan tungku yang menyala itu sampai kayu-kayunya lumat menjadi arang?” Dan pertanyaan yang paling sering berputar-putar di kepalaku adalah,

“Kapan, sih, mereka punya waktu buat sekadar memejamkan mata yang dihiasi kerut lelah itu?” Aku tidak benar-benar tahu jawabannya.

Namaku Karis. Aku siswi kelas sepuluh di MAN Insan Cendekia Halmahera Barat, atau yang biasa kami sebut MAN IC HALBAR. Tahun ini adalah tahun pertamaku tinggal di asrama. Tempat baru, teman baru, kebiasaan baru, dan tentu saja, segudang pengalaman yang sebelumnya tidak pernah terlintas di pikiranku.

Dulu, aku membayangkan kehidupan asrama bakal seru banget. Bisa punya banyak teman, belajar bareng, bercanda sebelum tidur, dan punya cerita yang suatu hari nanti bisa dikenang sambil tertawa.Ternyata, hidup di asrama tidak cuma soal seru-seruan.

Ada pagi-pagi ketika alarm berbunyi berkali-kali, tetapi rasanya tubuh masih ingin menyatu dengan kasur. Ada jadwal kegiatan yang rapat sampai waktu istirahat terasa singkat. Ada tugas yang harus diselesaikan ketika mata sudah berat, pakaian kotor yang menumpuk di sudut lemari, sampai drama kecil sekamar yang kadang bikin ingin pulang saja. Belum lagi rasa kangen rumah yang suka datang tiba-tiba.

Pernah suatu malam, aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi foto keluarga di tanganku. Aku rindu masakan bunda, suara ayah yang suka bercanda, dan suasana rumah yang dulu sering kuanggap berisik.

“Ris, ngapain bengong? Kangen rumah, ya?” tanya Yia, teman sekamarku.

“Nggak. Biasa aja.”

“Biasa aja, tapi fotonya dilihatin dari tadi. Kalau kangen, bilang aja. Nggak ada yang ngelarang, kali.”

Aku mendengus. “Aku cuma kangen masakan bunda.”

Yia langsung tertawa. “Nah, ketahuan! Berarti masalahnya bukan kangen rumah, tapi kangen makanan gratis dari bunda.”

“Eh, enak aja! Di rumah juga aku bantu cuci piring, tahu!”

 Kami tertawa. Namun, setelah tawaku mereda, aku kembali memandangi foto itu.

Tinggal di asrama membuatku sadar bahwa ada banyak hal sederhana yang dulu kunikmati tanpa perlu memikirkannya. Dulu, ketika lapar, aku tinggal membuka tudung saji. Kalau haus, tinggal mengambil air di dapur. Kalau lelah, aku bisa rebahan sebentar tanpa perlu memikirkan kegiatan berikutnya. Sekarang, semuanya terasa berbeda.

Namun, di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang hampir selalu sama, makanan yang tersedia tepat pada waktunya. Setiap kali aku melewati dapur, selalu ada saja yang dikerjakan ibu-ibu pantri. Ketika sebagian besar dari kami masih berguling di balik selimut, mereka mungkin sudah lebih dulu menyalakan api. Ketika kami berbondong-bondong menuju kelas, aroma masakan telah memenuhi udara. Dan ketika kami sibuk mengeluh tentang tugas atau jadwal kegiatan yang padat, mereka masih berada di tempat yang sama, di antara tumpukan sayuran, ikan, beras, panci besar, dan asap tungku yang perlahan menempel di pakaian.

Suatu pagi, saat berjalan menuju ruang makan bersama Yia, aku kembali memperhatikan kesibukan mereka.

“Yia, menurutmu mereka mulai kerja jam berapa, sih?” tanyaku.

Yia melirikku sekilas. “Mana aku tahu. Mungkin sebelum kita bangun.”

“Serius? Sepagi itu?” tanyaku dengan nada terkejut.

“Ya, mungkin. Emangnya kamu pernah bangun subuh terus langsung ke dapur buat ngecek?”Aku menggeleng.

“Nah, berarti kita sama-sama nggak tahu. Udah, makan dulu. Nanti telat.” Aku tertawa kecil, tetapi pertanyaan itu tetap tinggal di kepalaku. Bagaimana mereka bisa terus bekerja setiap hari?

***

Di sekolah berasrama seperti MAN IC HALBAR, waktu seolah berjalan lebih cepat. Pagi datang terlalu cepat, siang berlalu di antara pelajaran, sore dipenuhi kegiatan, dan malam sering kali belum benar-benar berakhir ketika tugas-tugas masih harus diselesaikan. Namun, sesibuk apa pun kami, selalu ada makanan yang menunggu. Nasi hangat, lauk, sayur, dan piring-piring bersih untuk ratusan siswa. Kami tinggal datang, mengambil makanan, duduk, lalu makan. Sesederhana itu.  Setidaknya, begitulah yang selama ini kupikirkan.

Suatu pagi, ruang makan lebih ramai daripada biasanya. Beberapa siswa datang terburu-buru karena takut terlambat mengikuti kegiatan. Ada yang masih menguap, ada yang sibuk mencari teman duduk, dan ada pula yang mengeluh karena lauk favoritnya tidak tersedia. Aku mengambil nasi cukup banyak, lalu menambahkan ayam dan sayur ke piringku. Yia yang berdiri di sampingku langsung melirik.

 “Ris, yakin habis?” Aku menoleh.

 “Kenapa? Emangnya aku kelihatan nggak sanggup makan?”

“Bukan begitu. Kemarin aja nasimu sisa banyak”

“Ya, kemarin aku udah kenyang.”

“Makanya ambil secukupnya dulu. Kalau masih lapar, kan, bisa nambah.” Aku menghela napas.

“Yia, kamu kenapa, sih? Dari kemarin ngomongin makananku terus.”

“Karena kemarin aku lihat banyak banget yang buang makanan. Sayang banget, tahu.”

Aku mulai merasa terganggu. Beberapa teman di dekat kami bahkan ikut menoleh.

 “Ya, terus masalahnya apa? Masa harus dipaksa habis kalau udah kenyang?” Yia menatapku dengan ekspresi tidak percaya.

 “Lho, aku nggak nyuruh kamu makan sampai kekenyangan. Aku cuma bilang ambil secukupnya aja. Udah itu aja.”

“Ya udah, nggak usah ngatur-ngatur. Aku tahu batas makanku sendiri.”

“Ris, aku cuma ngingetin!”

“Dan aku nggak minta diingetin!” jawabku dengan nada kesal.

Suasana di antara kami mendadak canggung. Yia terdiam, sedangkan aku buru-buru membawa piringku ke meja makan. Aku tahu perkataanku barusan cukup kasar. Namun, gengsi membuatku enggan meminta maaf. Bagiku, Yia terlalu mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Toh, nanti juga ada makanan lagi.

Setelah sarapan, aku meninggalkan ruang makan tanpa banyak bicara. Yia berjalan ke arah yang berbeda. Sepanjang perjalanan menuju kelas, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, entah mengapa, ekspresi Yia terus terbayang. Aku menepis pikiran itu. Sudahlah, paling nanti juga baik-baik lagi. Aku tidak tahu bahwa beberapa hari kemudian, aku akan mengingat percakapan itu dengan perasaan yang jauh berbeda.

***

Hari-hari berlalu. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan asrama, meskipun belum sepenuhnya bisa beradaptasi. Ada kalanya aku menikmati suasana ramai bersama teman-teman. Ada kalanya aku bingung karena jadwal terasa terlalu padat. Kadang aku tertawa sampai lupa waktu. Kadang juga ingin menangis karena tugas terus bertambah di sela rasa kangen rumah datang bersamaan.

Namun di tengah semua itu, makanan selalu menjadi bagian dari rutinitas kami. Pagi, siang, dan malam, kami datang ke ruang makan. Ada yang mengambil lauk sesuai selera, ada yang buru-buru karena dikejar waktu, dan ada pula yang mengeluh ketika menu hari itu tidak sesuai keinginan. Aku awalnya pun begitu. Kalau lauknya enak menurutku, aku bisa mengambil lebih banyak. Kalau sayurnya tidak kusukai, aku akan menyisihkannya di pinggir piringku.  

Kalau sudah kenyang, terkadang aku membiarkan nasi tersisa tanpa memikirkan apa pun. Bukan karena aku sengaja ingin bersikap tidak peduli. Aku hanya terlalu terbiasa menganggap makanan sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia. Aku tidak pernah benar-benar memikirkan perjalanan panjang sebelum makanan itu sampai di hadapanku. Aku tidak memikirkan siapa yang mencuci beras, siapa yang memotong sayuran, siapa yang membersihkan ikan, atau siapa yang berdiri di depan tungku ketika udara pagi masih dingin. Bagiku, makanan hanyalah makanan. Sampai suatu siang, aku melihat sesuatu yang mengubah cara pandangku.

Siang itu, aku berjalan menuju dapur dengan dua botol kosong di tanganku. Aku ingin mengisi air sebelum kembali ke asrama.  Dapur terasa berbeda. Biasanya, tempat itu dipenuhi suara panci beradu, percakapan para pekerja, dan langkah-langkah yang berlalu-lalang. Namun, kali ini suasananya jauh lebih sepi. Aku berjalan menuju dispenser. Beberapa langkah sebelum sampai, gerakanku terhenti. Ada suara lain. Sangat pelan. Hampir seperti bisikan. Seseorang sedang bersenandung. Aku mengernyitkan dahi. Suara itu berasal dari sebelah kanan, dari sebuah lorong sempit yang selama ini jarang kuperhatikan. Lorong itu agak remang. Cahaya matahari hanya masuk sedikit melalui celah bangunan, membuat suasananya terasa lebih teduh dan lembap.

Entah mengapa, kakiku justru bergerak mengikuti suara itu.  Pelan-pelan. Satu langkah. Dua langkah. Lalu aku berhenti di ujung lorong. Pemandangan di hadapanku membuatku terdiam. Di atas sebuah kasur lusuh tanpa seprai, seorang ibu pantri sedang berbaring. Di sampingnya, seorang gadis kecil tertidur pulas. Tubuh mungil itu meringkuk dengan tenang, sementara tangan ibunya mengusap rambutnya perlahan.

Sang ibu bersenandung pelan. Bukan lagu yang kukenal. Tidak ada musik, tidak ada iringan apa pun. Hanya suara seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Aku berdiri cukup jauh agar tidak mengganggu. Untuk beberapa saat, aku bahkan lupa bahwa aku datang ke dapur hanya untuk mengisi air. Ada sesuatu dalam pemandangan itu yang membuat dadaku terasa sesak.

Selama ini, aku mengenal ibu-ibu pantri sebagai orang-orang yang menyiapkan makanan. Orang-orang yang selalu ada ketika perut kami lapar. Orang-orang yang membuat nasi dan lauk tersedia tepat pada waktunya. Namun, hari itu aku melihat mereka sebagai manusia yang juga bisa lelah. Sebagai seorang ibu. Sebagai seseorang yang memiliki keluarga, persoalan, dan kehidupan yang jauh lebih panjang daripada yang pernah kami bayangkan.

Aku memperhatikan wajah ibu itu. Ada kerut di sana, kerut yang mungkin tidak muncul dalam satu malam. Kerut yang terbentuk dari hari-hari panjang, dari pekerjaan yang terus berulang, dari panas tungku dan rasa lelah yang mungkin tidak selalu sempat ia ceritakan. Tiba-tiba, aku teringat percakapanku dengan Yia. Kalimat-kalimat yang kuucapkan saat itu kembali terdengar di kepalaku. Aku menunduk.

Betapa mudahnya aku mengucapkan kalimat itu tanpa pernah memikirkan orang-orang yang bersusah payah di balik makanan yang kusantap setiap hari. Aku teringat nasi yang pernah kubuang karena terlalu kenyang. Aku teringat sayuran yang kusisihkan hanya karena tidak menyukai rasanya. Aku teringat lauk yang kutinggalkan begitu saja, seolah tidak ada tenaga yang dikeluarkan untuk memasaknya. Dan aku teringat caraku membentak Yia hanya karena ia berusaha mengingatkanku.

Saat itu, aku merasa bersalah. Bukan karena telah melakukan sesuatu yang besar. Aku baru menyadari betapa seringnya aku melakukan hal-hal kecil tanpa pernah memikirkannya. Aku membayangkan tangan yang mencuci beras berulang kali. Aku membayangkan orang-orang yang memotong sayuran dalam jumlah banyak, membersihkan ikan, mengangkat panci besar, dan berdiri di depan tungku ketika kami masih terlelap. Aku membayangkan mereka bekerja sejak pagi, sementara kami baru saja bangun dengan wajah kusut dan keluhan karena tidur kurang nyenyak.

Lalu aku memandang gadis kecil yang masih tertidur di samping ibunya. Entah mengapa, pemandangan itu terasa begitu dekat dengan kehidupanku sendiri. Aku juga seorang anak yang terkadang ingin pulang. Aku juga punya seorang ibu yang ingin kudengar suaranya ketika sedang lelah. Aku juga tahu rasanya merindukan rumah.

Namun, selama ini aku terlalu sibuk memikirkan rasa lelahku sendiri sampai lupa bahwa orang-orang yang melayani kebutuhan kami juga memiliki kehidupan pribadi. Mereka tidak hanya orang-orang yang muncul ketika kami lapar. Mereka punya cerita, punya keluarga, punya anak yang membutuhkan pelukan, punya rasa lelah yang mungkin tidak pernah kami lihat. Senyandungan ibu itu semakin pelan. Putrinya masih tertidur, sesekali bergerak kecil sebelum kembali tenang.

Aku tidak tahu apakah ibu itu menyadari keberadaanku. Aku juga tidak berani memanggilnya. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa diam adalah cara paling sopan untuk menghormati seseorang yang sedang beristirahat. Aku mengambil botol kosongku dan berjalan kembali menuju dispenser. Namun, langkahku terasa berbeda, di kepalaku, satu pertanyaan terus berulang. Berapa banyak pengorbanan yang selama ini tidak pernah kami lihat?

***

Ketika kembali ke asrama, aku mendapati Yia sedang duduk di ranjang sambil merapikan buku-bukunya.

“Eh, dari mana aja? Lama banget,” katanya.

“Dari Pantri, habis ngisi air”

“Ngisi air doang sampai selama itu?” Aku duduk di sampingnya.

“Yia, aku mau cerita sesuatu.” Ia menoleh.

“Apa?”

“Tadi aku lihat salah satu ibu pantri lagi istirahat sama anaknya.”

“Di pantri?” Aku mengangguk.

“Anaknya masih kecil. Lagi tidur di samping ibunya. Terus ibunya ngusap kepala anaknya sambil bersenandung.” Yia menghentikan gerakannya.

“Terus?” Aku menarik napas pelan.

“Aku jadi kepikiran omonganmu waktu sarapan kemarin.” Yia tidak langsung menjawab.

“Aku sadar aku sering banget mengeluh soal makanan. Kadang ambil banyak, terus nggak habis. Kadang ninggalin sayur cuma karena nggak suka.” Aku menunduk, memainkan ujung bajuku.

 “Padahal, aku nggak tahu apa-apa tentang kehidupan mereka. Aku nggak tahu kapan mereka mulai kerja, kapan mereka istirahat, atau apa yang mereka pikirkan setelah selesai bekerja.”

“Dan tanpa mikirin hal itu aku tanpa sadar diri mengambil makanan seenaknya tanpa berfikir bisa habis atau tidak” Yia terdiam sejenak.

“Aku juga nggak tahu, Ris,” katanya.  

“Tapi setidaknya kita bisa belajar menghargai pekerjaan mereka.” Aku mengangguk.

“Maaf, ya, soal kemarin. Aku malah marah waktu kamu ngingetin aku.” Yia menghela napas, lalu tersenyum kecil.

“Ya udah, aku maafin. Aku juga nggak bermaksud bikin kamu malu.”

“Aku tahu. Aku aja yang gengsi.”

“Tumben ngaku.”

“Eh, jangan mulai, deh!”

Kami tertawa kecil. Namun, setelah itu, aku kembali terdiam.

“Yia?”

“Hm?”

“Menurutmu, kita bisa ngelakuin sesuatu buat mereka nggak?” Yia berpikir sebentar.

“Bisa, lah. Mulai dari diri sendiri dulu. Ambil makanan secukupnya, jangan dibuang, terus kalau ketemu mereka, ya, hargai. Nggak harus bikin acara besar-besaran.” Aku mengangguk pelan.

Mungkin benar. Aku tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa untuk menunjukkan rasa terima kasih. Aku hanya perlu mulai memperhatikan hal-hal sederhana yang selama ini kuabaikan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar memahami arti belajar mandiri di asrama. Bukan cuma belajar mengurus diri sendiri, aku juga belajar menghargai orang lain.

***

Keesokan paginya, aku kembali ke ruang makan. Seperti biasa, aroma masakan memenuhi udara. Teman-temanku datang silih berganti, beberapa masih mengantuk, sementara yang lain sibuk bercanda. Aku mengambil nasi secukupnya, lalu memilih lauk. Saat hendak duduk, aku melihat Liya mengambil makanan dalam jumlah cukup banyak.

“Wah, banyak banget! Yakin habis?” tanyaku. Ia tertawa.

“Tenang aja, Ris. Aku lapar banget, nih.” Aku ikut tersenyum.

“Ya udah, kalau memang habis, bagus. Kalau masih kurang, kan, bisa nambah lagi.” Liya mengangguk dan melanjutkan mengambil makanan.

Aku duduk di sebelah Yia. Kali ini, tidak ada perdebatan, tidak ada nada tinggi, dan tidak ada rasa kesal hanya karena seseorang mengingatkanku. Setelah makan, aku membawa piringku ke tempat pengembalian alat makan. Piringku bersih, tanpa sisa nasi atau lauk.

Ketika melewati salah satu ibu pantri, aku berhenti sebentar.

“Bu,” panggilku pelan.

Beliau menoleh. “Iya, Nak?”

Aku tersenyum.

“Terima kasih, ya, Bu, sudah masakin kami setiap hari.”

Ibu itu tampak sedikit terkejut. Kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya. “Iya, sama-sama, Nak. Yang penting kalian makannya cukup, belajarnya rajin.”

Aku mengangguk. “Siap, Bu.”

Hanya percakapan singkat. Tidak ada kata-kata panjang, tidak ada adegan dramatis. Namun, entah mengapa, hatiku terasa lebih ringan setelah mengucapkannya. Aku baru sadar bahwa rasa terima kasih tidak harus disampaikan dengan cara yang besar. Kadang, satu kalimat sederhana yang tulus sudah cukup untuk membuat seseorang merasa dihargai.

Sejak hari itu, setiap kali duduk di hadapan sepiring makanan, aku berusaha mengingat kembali pemandangan di lorong dapur. Aku mengingat tangan-tangan yang mencuci beras, memotong sayuran, dan membersihkan ikan. Aku mengingat orang-orang yang mengangkat panci besar dan berdiri di depan tungku ketika udara pagi masih dingin. Aku mengingat pagi-pagi ketika kami masih terlelap, sementara mereka mungkin sudah sibuk menyiapkan sarapan. Aku juga mengingat seorang ibu yang mengusap kepala putrinya sambil bersenandung pelan. Dan aku mulai memahami bahwa kehidupan asrama bukan hanya tentang diriku sendiri. Bukan hanya tentang bagaimana aku beradaptasi, bagaimana aku mengatur waktu, atau bagaimana aku menghadapi rasa kangen rumah. Ada banyak orang di sekitar kami yang ikut memastikan kehidupan kami berjalan dengan baik. Ada petugas kebersihan yang menjaga lingkungan tetap nyaman, petugas keamanan yang berjaga, para guru yang menyiapkan pelajaran, dan ibu-ibu pantri yang memastikan perut kami terisi. 

Pekerjaan mereka mungkin terlihat biasa saja. Tapi, tanpa mereka, kehidupan kami di asrama tentu tidak akan berjalan dengan cara yang sama. Mereka mungkin jarang mendapat tepuk tangan atau pengakuan dari jerih payah mereka. Namun percayalah, bukan itu yang mereka inginkan.

Suatu malam, setelah kegiatan selesai, aku berjalan melewati pantri bersama Yia. Lampunya masih menyala. Dari kejauhan, terlihat beberapa ibu pantri sedang membereskan peralatan makan. Suara panci terdengar sesekali, diselingi percakapan pelan di antara mereka. Aku memperlambat langkah.

 “Yia,” panggilku.

 “Hm?”

“Menurutmu, mereka capek nggak, sih, setiap hari begini?” Yia menatapku, lalu tersenyum tipis.

“Ya jelas capek, Ris. Mereka juga manusia.”

Dulu, aku mungkin akan melewati dapur itu begitu saja. Aku mungkin hanya akan memikirkan tugas yang belum selesai, kegiatan esok hari, atau jam tidur yang semakin berkurang. Namun, sekarang aku tahu bahwa di balik lampu dapur yang masih menyala itu, ada orang-orang yang sedang berjuang menyelesaikan pekerjaannya. Ada waktu yang mereka korbankan, ada tenaga yang mereka keluarkan, ada keluarga yang mungkin sedang mereka rindukan.  Dan ada seorang ibu yang, di sela-sela kesibukannya, masih menyempatkan diri mengusap kepala anaknya sambil bersenandung pelan. Aku tidak tahu apakah aku akan selalu mengingat setiap kejadian selama setahun pertamaku di asrama.

Mungkin suatu hari nanti, aku akan lupa siapa yang pertama kali duduk di sebelahku saat sarapan, siapa yang meminjamkan pulpen ketika aku lupa membawa alat tulis, atau siapa yang membuatku tertawa saat aku sedang kangen rumah. Namun, aku yakin, aku tidak akan mudah melupakan pemandangan di lorong dapur itu. Seorang ibu, seorang anak kecil, sebuah kasur lusuh, dan senandung sederhana yang membuatku menyadari bahwa orang-orang yang selama ini kami anggap hanya sebagai bagian dari rutinitas ternyata memiliki kehidupan yang jauh lebih luas daripada yang kami bayangkan.

Kini, setiap kali duduk di hadapan sepiring makanan, aku tidak lagi melihatnya sebagai sekadar nasi, lauk, dan sayur. Aku melihat wajah-wajah yang pernah berdiri di depan tungku, aku melihat tangan-tangan yang telah memotong sayuran, aku mendengar kembali senandung lirih seorang ibu di lorong sempit, dan aku kembali teringat pada seorang gadis kecil yang tertidur pulas di samping ibunya. Barangkali, bagi kami, satu piring makanan hanyalah satu dari sekian banyak piring yang akan kami temui hari itu. Namun, bagi mereka, setiap piring adalah bagian dari pekerjaan yang dimulai jauh sebelum matahari terbit.

Seratus piring, seratus perut yang harus dikenyangkan, seratus alasan untuk terus bekerja. Dan mungkin, seratus cara bagi kami untuk belajar tentang rasa syukur. Sebab di balik setiap piring yang kami habiskan dengan mudah, ada keringat, waktu, kesabaran, dan pengorbanan yang tidak pernah benar-benar bisa dihitung harganya.

Aku, Karis, yang awalnya hanya ingin tahu kapan ibu-ibu pantri mulai bekerja dan kapan mereka punya waktu untuk beristirahat, akhirnya menemukan jawaban yang jauh lebih besar daripada pertanyaan itu sendiri. Aku mungkin tidak akan pernah benar-benar tahu seluruh cerita di balik setiap piring yang tersaji di meja makan kami. Aku mungkin tidak akan pernah memahami sepenuhnya bagaimana mereka membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadi mereka. Namun, aku tidak perlu mengetahui semuanya untuk mulai menghargai mereka.

Aku hanya perlu belajar mengambil makanan secukupnya, menghabiskan apa yang sudah kuambil, dan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah bekerja keras untukku dan untuk kami. Karena bisa jadi, sebelum sampai ke piring kami, makanan itu telah melewati tangan seseorang yang bahkan belum sempat mengambil piringnya sendiri. Seseorang yang juga punya rasa lelah, seseorang yang juga punya rumah untuk dirindukan, seseorang yang juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarganya. Namun, pagi berikutnya, ia kembali bekerja. Kembali menyalakan tungku, menyiapkan lauk, dan memastikan seratus piring tersaji untuk kami.

Dan di antara seratus piring yang mereka siapkan setiap hari, mungkin ada satu hal yang tidak pernah mereka minta, tetapi pantas mereka dapatkan dari kami. Rasa hormat, kepedulian, dan ucapan terima kasih yang tulus untuk mereka. “Terima kasih mama”, “Terima kasih kaka.”

Lembah, 2026.

Cerpen Marissa Agustin Dayana

Andi Marissa Agustin Dayana, yang akrab disapa Risa, adalah seorang pelajar muda berbakat kelahiran Makassar pada 8 Agustus 2010. Saat ini, Risa sedang menempuh pendidikan jenjang menengah atas di MAN Insan Cendekia Halmahera Barat dan duduk di kelas X-C. Berbekal semangat belajar yang tinggi dan lingkungan pendidikan di MAN IC Halbar yang unggul, Risa terus bertekad untuk mengembangkan potensi diri serta mengukir prestasi di bidang akademik maupun non-akademik.

Disalin

Pos Terkini

Oktober 19, 2026
Oktober 11, 2026
Oktober 8, 2026
Oktober 3, 2026
September 25, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

copyright halmaheranesia
MENU