Halmaheranesia – Kawasan Pantai Falajawa, Kota Ternate, Maluku Utara, yang menjadi destinasi wisata permandian kerap menimbulkan bahaya bagi pengunjungnya. Dalam tiga tahun terakhir, sudah lima orang yang ditemukan meninggal dunia di lokasi tersebut.

Berdasarkan penelusuran halmaheranesia, rata-rata korban yang ditemukan di kawasan perairan Pantai Falajawa sudah dalam usia lanjut.

Kapolsek KP3 Ahmad Yani Ternate, Iptu Mirna Oramali menyebutkan, selama masa jabatannya di tahun ini, ia sudah menerima dua laporan terkait penemuan mayat di kawasan Pantai Falajawa.

Ia mengaku, penemuan mayat di kawasan tersebut rata-rata sudah di usia lanjut dengan dugaan memiliki penyakit bawaan.

“Karena ini taman kota jadi minimal pemerintah harus membuat semacam imbauan bagi warga, bahwa kalau ada warga yang sudah usia 50 tahun ke atas minimal ada pengawasan keluarga atau penjagaan dari pihak yang ditugaskan dari pemerintah,” kata Kapolsek KP3 Ahmad Yani Ternate, Iptu Mirna Oramali.

Risiko Tinggi bagi Lansia

Ketua Nukila Dive Center sekaligus pegiat selam, Rio Alting, menjelaskan kriteria Pantai Falajawa memiliki kedalaman air hampir 170 meter lebih. Dalam kawasan tersebut, ketika ada yang melakukan aktivitas berenang, itu sangat berisiko bagi orang dengan kondisi fisik tubuh yang kurang baik, terutama para lansia.

“Apa lagi kalau ada yang memilki penyakit gejala struk atau penyakit bawaan jangan memaksakan diri untuk berenang, karena kurang siap fisiknya takutnya kecapean jantungnya lemah akan berisiko tenggelam,” ujar Rio kepada halmaheranesia, Jumat, 5 Desember 2025.

Ia menilai, isu habitat berbisa di kawasan tersebut yang menyebabkan kematian seorang lansia pada bulan Oktober 2025 lalu secara presentasinya sangat kecil. Apalagi daerah tropis seperti Indonesia rata-rata habitat laut yang berbisa hanya bersifat defense (pertahanan diri).

“Kalau saya bukan tempatnya yang dipersoalkan, tapi kembali ke pribadi sendiri bahkan harus minimal ada pengawasan dari darat,” ujarnya.

Pentingnya Manajemen Pengelola

Sementara itu, hal yang sama juga disampaikan oleh Dr. Nurhalis Wahidin, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun (Unkhair). Bagi Nuhalis, penyebab kematian di kawasan Pantai Falajawa diduga karena faktor kelelahan sehingga tidak mampu mengontrol ritme pada area pernapasan.

“Apalagi tidak dibantu dengan pelampung dan belum mencapai daerah dangkal untuk berpijak, maka saluran pernapasan akan kemasukan air laut, apalagi ditambah dengan usia yang sudah tua bisa jadi membuat kondisi jantung berhenti,” jelasnya.

Menurutnya, kawasan pantai yang menjadi tempat wisata berenang maupun kegiatan selam di Ternate perlu didukung dengan peraturan maupun standarisasi dari pihak pemerintah daerah.

Sehingga itu, ia menyarankan agar ada pengawasan aktivitas tempat wisata renang atau perlu ada penanggung jawab seperti petugas wisata yang betul-betul memahami penanganan kecelakaan di area pantai.

“Jadi sebaiknya pemerintah setempat bersama petugas penanggung jawab harus sosialisasi atau minimal didampingi oleh lembaga yang berkompeten untuk memahami standar pelaksanaan kegiatan berenang di pesisir laut,” pungkasnya.

Bagikan:

Musmaulana

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *