Halmaheranesia- Sekretaris Komisi I Dewan DPRD Kota Tidore Kepulauan, Sarmin Mustari, mengungkapkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di 8 Kecamatan wilayah Kota Tidore dipastikan berjalan lancar.
“Sejauh ini berjalan dengan baik. Hal tersebut disampaikan setelah Komisi I ditugaskan untuk melakukan cross-check peninjauan langsung ke lapangan, khususnya ke sejumlah dapur di masing- masing kecamatan,” kata Sarmin, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia menyebutkan, dari delapan kecamatan yang ditinjau, terdapat dua kecamatan yang masih dalam tahap rehabilitasi dapur, yakni Kecamatan Oba dengan lokasi dapur di Desa Bale serta Kecamatan Oba Selatan yang berada di Desa Wama.
“Untuk Kecamatan Oba Tengah, dapurnya direncanakan berlokasi di Lileo dan ditargetkan rampung kurang lebih dua bulan ke depan. Sementara Kecamatan Oba Utara, dapur berada di Kelurahan Guraping dan distribusinya berjalan maksimal,” ungkapnya.
Sementara di wilayah Pulau Tidore, kata Sarmin, bahwa Kecamatan Tidore Selatan titik dapur berada di SPN, sedangkan Kecamatan Tidore Utara, direncanakan berlokasi di Kelurahan Ome. Saat ini, distribusi makanan masih difokuskan ke Kelurahan Kalodi, meskipun terdapat kendala jarak dan keterbatasan kendaraan.
“Karena kendala rentang kendali dan akses kendaraan, kami menyarankan agar jika memungkinkan dapat disiapkan dapur alternatif di tingkat kelurahan, supaya distribusi lebih efisien dan tepat waktu,” tegas Sarmin.
Selain itu, ia menjelaskan, pola dapur induk dan dapur penunjang juga diterapkan di wilayah Oba. Selain dapur induk di Desa Bale, disiapkan dapur penunjang di Kususinopa. Begitu pula di Oba Selatan, selain dapur utama di Desa Wama, tengah dirancang dapur penunjang di sekitar Desa Lifofa atau Desa Tagalaya.
Dalam pengecekan langsung ke dapur dan sekolah- sekolah, dirinya memastikan bahwa ketersediaan bahan baku relatif aman. Selama sekitar empat hingga lima bulan pelaksanaan program, hampir seluruh bahan baku berasal dari wilayah Kota Tidore Kepulauan.
“Untuk saat ini, yang masih disuplai dari luar daerah hanya ayam dan telur, karena ketersediaan peternak lokal belum mencukupi. Kemudian bahan baku lainnya semuanya berasal dari Tidore,” jelasnya.
Terkait penerima manfaat, ia mengaku bahwa hasil pemantauan Komisi I di sejumlah titik sekolah belum menemukan adanya keluhan, baik dari pihak sekolah maupun siswa penerima manfaat.
“Dari hasil cross-check kami, siswa dan sekolah justru merasa bersyukur dengan adanya program MBG. Sampai hari ini belum ada keluhan yang kami temukan,” pungkasnya.





