Halmaheranesia – Dinas Kebudayaan Kota Ternate terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan merawat situs-situs sejarah yang memiliki nilai penting bagi pelestarian budaya dan sejarah daerah.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Rinto Taib, mengatakan pihaknya secara rutin melakukan perawatan terhadap sejumlah situs bersejarah, di antaranya Benteng Orange, Makam Sultan Babullah, dan Makam Sultan Palembang Mahmud Badaruddin II.
Menurut Rinto, pengelolaan dan pelestarian cagar budaya maupun situs sejarah menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangan masing-masing.
“Benteng Orange saat ini masuk dalam pengelolaan pemerintah pusat. Namun, pelestarian yang dikelola pemerintah pusat untuk Benteng Orange baru mencakup kategori bangunan, sementara aspek lainnya belum masuk dalam pengelolaan tersebut,” ujar Rinto, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menjelaskan, setiap cagar budaya dan situs sejarah memiliki kategori atau spesifikasi tersendiri yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dalam upaya pelestariannya.
“Pelestarian cagar budaya memiliki beberapa kategori, di antaranya situs, struktur, bangunan, benda, dan kawasan,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat Kota Ternate untuk tidak menggunakan area dinding Benteng Orange sebagai lokasi nonton bareng (nobar) perhelatan Piala Dunia 2026.
Menurut Rinto, dinding Benteng Orange yang selama ini sering digunakan masyarakat sebagai lokasi nobar memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan pengunjung karena kondisi bangunannya yang telah mengalami pelapukan.
“Kami hanya menindaklanjuti imbauan yang telah dikeluarkan Pemerintah Kota Ternate. Kondisi dinding Benteng Orange saat ini sudah lapuk dan berpotensi ambruk apabila digunakan untuk menampung banyak orang,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Di sisi lain, upaya menjaga kelestarian situs sejarah juga merupakan tanggung jawab bersama agar tidak mengalami kerusakan yang lebih parah.
“Keselamatan masyarakat Kota Ternate menjadi faktor utama. Selain itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk merawat situs sejarah Benteng Orange agar tetap terjaga dan tidak mengalami kerusakan,” ujarnya.
Rinto berharap masyarakat dapat meningkatkan kesadaran untuk tidak lagi memanfaatkan dinding Benteng Orange sebagai lokasi nobar karena berpotensi membahayakan keselamatan.
“Kami telah berupaya menerapkan larangan tersebut. Namun hingga saat ini masih ada masyarakat yang menggunakannya. Karena itu, kami meminta agar masyarakat tidak lagi melakukan tindakan serupa demi keselamatan bersama dan kelestarian situs sejarah,” pungkasnya.





