Pagi itu, aku dan Nenek berangkat dari Ambon menuju Negeri Pelauw. Sejak beberapa hari sebelumnya, Nenek sudah mengajakku untuk melihat langsung suasana dan budaya di Pelauw.

Kami berangkat pagi-pagi sekali. Setelah menyiapkan barang-barang, kami menuju Pelabuhan Tulehu untuk melanjutkan perjalanan menyeberang menuju Pulau Haruku.

Di perjalanan, aku duduk di samping Nenek sambil melihat pemandangan laut dari kejauhan. Angin pagi terasa sejuk dan suara ombak membuat perjalanan terasa menyenangkan.

“Nek, masih jauh lai?” tanyaku.

Nenek tersenyum. “Seng talalu jauh, Nak. Katong sebentar lai su sampe.”

Aku kembali melihat ke arah laut. “Beta su seng sabar mau lia Negeri Pelauw.”

“Sabar e. Nanti kalau su sampe, baru ale bisa lia sendiri bagaimana ramainya di sana.”

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua sampai tiga jam dari Ambon, akhirnya kami tiba di Negeri Pelauw. Suasana di sana terasa berbeda. Banyak warga mulai berkumpul dan terdengar suara tifa dari kejauhan.

Dung… dung… dung…

Aku langsung merasa penasaran.

“Nek, itu suara tifa to?”

“Iyo. Itu tandanya acara su mulai ramai. Mari katong pi lia.”

Kami kemudian berjalan menuju tempat pelaksanaan acara. Di sepanjang jalan, suasana Negeri Pelauw semakin ramai. Anak-anak berlarian, sementara orang-orang tua duduk berbincang sambil menunggu acara dimulai.

“Ose su datang dari tadi ka?” tanya seorang ibu kepada temannya.

“Belom e. Beta baru sampe. Ramai skali di sini hari ini.”

“Iyo, banyak orang mau lia cakalele.”

Aku berjalan di samping Nenek sambil memperhatikan suasana di sekelilingku. Semakin dekat, suara tifa dan gong semakin terdengar jelas. Tak lama kemudian, para penari cakalele memasuki halaman. Pakaian tradisional mereka tampak gagah. Gerakan mereka mengikuti irama tifa dan gong. Langkah kaki yang kuat dan gerakan tubuh yang tegas membuatku terpukau.

Aku berbisik kepada Nenek, “Nek, kenapa cakalele ini penting skali bagi orang Pelauw?”

Nenek memandangku dengan wajah penuh kebanggaan.

“Karena ini bukan cuma tarian, Nak. Di dalam cakalele ada cerita tentang katong pung orang-orang tua dolo. Ada keberanian, ada persatuan, deng ada rasa hormat terhadap negeri.”

Aku terus memperhatikan para penari.

“Berarti katong harus jaga budaya ini, Nek?”

“Iyo. Kalau bukan katong yang jaga, sapa lai? Budaya ini harus tetap hidup, supaya anak cucu nanti masih bisa lia dan belajar.”

Aku mengangguk perlahan.

Di tengah pertunjukan, aku melihat beberapa anak muda berdiri di dekat para penari. Mereka tampak bersemangat menyaksikan pertunjukan.

Seorang anak berkata kepada temannya, “Bagus e! Beta mau belajar cakalele jua.”

Temannya menjawab sambil tertawa, “Kalau mau belajar, jangan cuma lia. Harus berani ikut!”

Mereka kemudian tertawa bersama.

Aku tersenyum mendengar percakapan itu. Dalam hati, aku mulai menyadari bahwa budaya seperti cakalele tidak akan bertahan jika generasi muda hanya menjadi penonton.
Setelah pertunjukan selesai, aku berjalan bersama Nenek menuju tempat kami beristirahat.

“Nek,” kataku, “beta mau belajar tentang adat cakalele.”

Nenek menatapku dengan mata berbinar.

“Kenapa tiba-tiba mau belajar?”

Aku tersenyum.

“Supaya nanti kalau beta su besar, beta bisa cerita tentang budaya Pelauw kepada anak-anak. Karena beta kan keturunan Pelauuw. Dan juga Beta seng mau budaya ini hilang.”

Nenek kemudian menepuk bahuku.

“Bagus, Nak. Itu Nenek pung cucu. Ingat, budaya seng bisa hidup kalau katong cuma cerita. Katong harus belajar, menjaga, deng meneruskannya.”

Aku mengangguk.

Sore mulai turun di Negeri Pelauw. Cahaya matahari menyentuh rumah-rumah dan pepohonan di kejauhan. Suara tifa perlahan menghilang, tetapi semangat cakalele masih terasa di hatiku.

Hari itu, aku tidak hanya melihat sebuah tarian.

Aku menemukan sebuah pesan tentang jati diri.

Aku sadar bahwa selama generasi muda mau mengenal, menjaga, dan menghargai warisan leluhurnya, budaya Negeri Pelauw akan terus hidup mengikuti irama tifa, langkah para penari, dan denyut kehidupan masyarakat Maluku.

Cakalele bukan sekadar tarian. Cakalele adalah suara keberanian, persatuan, dan ingatan sebuah negeri.

 

Lembah, 2026.

______

Cerpen Siti Nur Nabila Hunta

Siti Nur Nabila Hunta lahir pada 27 April 2011. Ia merupakan alumni MTs Alkhairaat Ambon dan kini melanjutkan pendidikan di MAN Insan Cendekia Halmahera Barat. Baginya, menulis adalah cara merawat ingatan dan menghidupkan kembali cerita melalui kata. Lewat Dentang Cakalele di Negeri Pelauw, ia mencoba menorehkan sepotong kisah dari tanah Maluku, tempat tradisi dan kenangan terus berdentang.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *