Waktu orang tambang mulai masuk kampung kami, banyak yang bilang ini tanda kemajuan. Jalan akan diaspal, anak muda bisa cepat kerja—tamat SMA langsung masuk tambang, tidak perlu kuliah tinggi-tinggi. Harga tanah mulai naik. Aku tidak terlalu paham soal investasi, tapi ketika ada orang datang menawar tanah, aku pikir, ya sudah, kalau memang ada yang mau, kenapa tidak?

Tanah itu sudah lama dibiarkan. Dulu katanya bekas kebun kasbi, tapi sejak pemiliknya pindah ikut anaknya ke kota, tak ada yang mengurus. Sekarang penuh alang-alang, pohon pisang tumbuh liar, dan batu-batu besar ditumbuhi lumut. Letaknya di pinggir jalan baru katanya akan jadi akses utama ke lokasi tambang. Orang kantor desa bilang, tanah seperti itu gampang dijual asal ada suratnya. Urusan surat bisa dibantu.

Aku urus semua yang dibutuhkan. Fotokopi KTP, meterai, surat keterangan desa. Tidak susah, yang penting tidak bikin ribut. Setelah itu, surat kepemilikan keluar. Namaku tercetak di atasnya. Rasanya seperti diberi sesuatu yang tak pernah benar-benar kupinta.

Beberapa minggu kemudian, orang perusahaan datang—pakai helm putih, sepatu bot, dan rompi kuning terang. Bawa peta dan alat ukur. Mereka tanya, “Ini tanah Bapak?” Aku bilang, “Iya.” Mereka ukur, catat, cocokkan dengan peta, lalu bilang harga: lima belas ribu per meter.

Aku hitung cepat. Kalau sesuai luasnya, uangnya cukup buat daftar haji plus.

Waktu aku bilang ke istri, dia menutup mulutnya sambil menangis. Setelah itu dia sujud syukur di ruang tengah, lama sekali, seolah hendak memeluk lantai. “Akhirnya kita juga bisa ke sana yah, Pak.” katanya.

Besoknya, kami langsung ke kebupaten. Daftar lewat biro travel yang katanya cepat, tak perlu tunggu belasan tahun. Namanya sudah terkenal. Banyak orang penting juga pakai itu.

Dalam perjalanan pulang, istriku beli dua lembar kain putih. “Buat ihram nanti,” katanya sambil memeluknya seperti baju bayi pertama.

Malam itu, aku duduk di serambi rumah. Angin laut bawa bau garam dan sisa tanah basah dari halaman. Aku seruput kopi pelan-pelan. Di kejauhan tampak bintang jatuh, orang kampung percaya itu isyarat baik. Waktu bintang itu hilang dari pandangan, aku merasa ada sesuatu yang masih menggantung, belum tuntas dijawab waktu.

Kini tibalah hari doa selamat, syukuran haji. Rumah jadi ramai. Ibu-ibu datang bawa kue pisang, ikan bakar, ada juga yang bawa nasi kuning. Kursi plastik dipinjam dari kantor desa. Ibu-ibu duduk di tikar, bapak-bapak merokok sambil cerita dahulu naik haji masih pakai kapal laut.

Aku duduk di tengah, pakai baju koko baru warna gading dan kopiah putih yang masih keras dari toko. Di sebelahku, istriku duduk menunduk, wajahnya bersinar. Di depan rumah terbentang spanduk:

“Selamat Menunaikan Ibadah Haji: Bapak Karman & Ibu.”

Kepala desa datang. Dalam sambutannya dia bilang, “Semoga Pak Karman dan istri jadi haji yang mabrur. Doakan juga kampung ini agar tetap aman dan warga di sini diberi keberkahan.”

Aku tersenyum mengangguk. Setelah itu, orang-orang menyalami kami satu-satu. Ada yang bilang, “Titip doa di depan Ka’bah ya, Pak.” Ada yang bisik, “Doakan anak saya cepat kerja.” Ada juga yang bilang, “Doakan anak saya lulus jadi polisi, Pak Haji.” Ada yang minta difoto berdua—katanya buat kenang-kenangan sama calon haji pertama dari barisan RT mereka.

Istriku tampak bahagia. Di dapur, dia cerita ke sepupunya soal persiapan: sandal, obat-obatan, sampai daftar doa titipan dari saudara. “Dari harga kopra sampai cucu yang belum bisa jalan semua saya tulis,” katanya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa. Hari itu kami dikelilingi banyak senyum dan doa, seperti riak tenang yang tak putus mengusap pinggir hati. Koper sudah siap. Tiket sudah di tangan. Dan semua orang bilang, “Beruntung sekali Bapak. Bukan cuma tanahnya laku, tapi karena dipanggil jadi tamu Allah.”

Kami tiba di Jeddah malam hari. Langitnya bersih, angin panas seperti menempel di kulit, kering dan berat. Dari bandara, kami diarahkan naik mobil travel. Rombongan kami ada sekitar tiga puluhan orang—wajah-wajah cemas tapi penuh harap, dari Halmahera, Sulawesi, dan kampung-kampung kecil yang hanya terdengar saat musim haji.

Di dalam mobil, suasana semangat dan saling sapa. Istriku sesekali menoleh ke jendela, bertanya, “Ini arah ke Mekah kan, Pak?” Aku menjawab singkat, “Mungkin, nanti kita lihat.”

Kota mulai menghilang dari pandangan. Lampu toko dan papan reklame perlahan berganti bangunan yang makin jarang, jalan makin sunyi. Hampir satu jam, kami berhenti di depan sebuah gedung berlantai dua. Dinding luarnya pudar, beberapa jendela tertutup kayu lapis. Di salah satu sudut, kipas angin kecil berputar malas.

Seorang lelaki muda menyambut kami. Ia tampak kelelahan. Bajunya kusut. Bahasa Indonesianya patah-patah. “Bapak Ibu istirahat dulu di sini, nanti akan diberi kabar lebih lanjut.”

Istriku menarik lenganku pelan. “Tapi… kita belum langsung umrah?” bisiknya.

Aku tidak menjawab. Mataku menangkap sekilas papan kecil tergantung di pintu, tulisannya samar. Malam itu kami tidur di kamar sempit, berdua, menghadap jendela yang tidak bisa dibuka.

Tapi ada sesuatu yang lain: kegelisahan yang tidak punya bentuk. Aku hanya duduk lama, diam. Istriku tertidur lebih dulu.

Dan aku hanya teringat satu kalimat lama yang dulu sering kudengar saat kecil: “Haji jika mampu. Menghadiri undangan Ilahi.”

Hari-hari berikutnya terasa menggantung. Kami bangun, makan, berbincang seperlunya, lalu menunggu. Waktu mengalir seperti air yang tak tahu ke mana harus bermuara. Semuanya berjalan normal, kami tetap diam, seolah menunggu keajaiban.

Lalu hari pulang itu datang.

Waktu pesawat mendarat di Ternate, tubuhku terasa berat, seolah ada yang menggantung di punggung dan tak bisa kuletakkan. Bukan koper yang penuh barang belanja—tapi sesuatu yang tidak bisa aku letakkan di mana pun.

Di pelabuhan, suara rebana dan lantunan qosidah khas penyambutan jemaah haji lirih dan lambat. Dua mobil pick-up berdiri berjajar, dihias janur kuning yang mulai layu, bendera kecil menari-nari pelan di tiupan angin laut. Di depannya terbentang spanduk tulisan tangan: “Selamat Datang Pak Haji Karman & Ibu Hajjah!”

Orang-orang kampung bertadangan. Ada yang bawa bunga melati, ada yang siap dengan kamera. Di rumah, kami disambut seperti raja. Keluarga datang dari kampung sebelah. Ada yang datang hanya untuk melihat wajah orang yang “baru pulang dari Tanah Suci.” Anak-anak duduk bersila di bawah tenda. Ibu-ibu membagikan parfum dan air zam-zam dari botol yang dibeli di toko dekat apartemen kami di Jeddah.

Kepala desa datang lagi, ini kali membawa undangan khusus: “Bulan depan pengajian Majelis Taklim, kami minta Pak Haji jadi pembaca doa penutup.”

Aku mengangguk pelan.

Malamnya, aku duduk di ruang tamu. Spanduk di dinding belum dicopot. Foto kami berdua di depan gerbang bandara dicetak besar, dibingkai, dipajang di atas televisi—senyum kami tampak kaku, seperti sedang menahan napas. Di bawahnya tertulis: “Tamu Allah dari Kampung Kami.”

Istriku masuk membawa secangkir teh. “Besok kita mulai puasa Senin-Kamis lagi ya, Pak. Biar tetap jaga mabrur.” Aku mengangguk, menyesap teh yang tidak terasa manisnya.

Sore itu aku duduk di kursi bambu depan rumah. Angin dari laut datang perlahan, membawa bau garam dan suara anak-anak main bola plastik di halaman balai desa. Istriku di dapur, menyetrika baju yang akan kupakai ke pengajian nanti malam. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku setengah tenggelam dalam kantuk yang malas. Antara sadar dan tidak, seperti melayang di permukaan mimpi, aku mendengar suara kecil memanggil dari kejauhan, “Om Haji…”

Aku membuka mata perlahan. Di depanku berdiri seorang anak laki-laki, mungkin tujuh tahun, pakai kaus bola dan celana setinggi lutut. Wajahnya familiar, anak tetangga yang sering kulihat bermain di depan rumah. Semua serasa bagian dari mimpi yang samar—antara kenyataan dan bayangan.

“Iya,” jawabku pelan.

Dia duduk di tangga kayu, agak malu-malu. Tangannya main-main dengan ujung kausnya sendiri.

“Om Haji… waktu di Mekah, jumrahnya gimana? Yang lempar-lempar batu itu.”

Aku diam sejenak.

Dia menatapku, menunggu. Matanya bersih, polos. Ada kejernihan di sana, seperti kilau embun di daun pisang selepas subuh.

Aku tersenyum kecil. “Jumrah… ya gitu, kayak di cerita-cerita.” Suaraku pelan, nyaris berbisik.

“Batu yang dilempar besar atau kecil?” tanyanya lagi.

“Macam-macam.”

Dia mengangguk. Diam sebentar. Tangannya menggenggam kerikil kecil dari tanah halaman. Dia lari ke arah teman-temannya. Suaranya azan lembut, dari musala di ujung kampung, seperti tangan yang menggoyang bahuku. Aku tersadar, dan tahu: percakapan tadi bukan mimpi. Tapi entah mengapa, rasanya tetap seperti mimpi yang menyisakan gema.

Beberapa hari setelah Maulid, aku copot papan nama di pagar depan rumah. Kukendorkan dua paku kecil, kulepas pelan-pelan. Papan itu kusimpan di bawah rak pancing di gudang belakang, di antara sisa jaring dan bekas cat kaleng.

Malamnya aku tidak ikut ke musala. Katanya ada pengajian rutin dan aku diminta baca doa, tapi aku bilang ke istri, “sakit kepala.” Dia hanya mengangguk.

Kuraih kain putih pemberian istriku—yang dulu ia beli untuk ihram. Siapa tahu, suatu hari nanti, aku betul-betul diundang.

Bagikan:

M Said Marsaoly

Pegiat Salawaku Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *