Ratih tidak pernah menghitung berapa kali ayahnya batuk dalam satu putaran jam. Di balik sekat tripleks tipis yang membatasi kamar kos mereka, suara itu terdengar konstan, kering, dan pendek-pendek, serupa bunyi gesekan rantai mesin parut yang kekurangan pelumas. Jam di pojok layar gawai menunjukkan pukul dua dini hari. Pelipis kepalanya berdenyut, sisa ketegangan setelah sepuluh jam duduk menghadapi injakan pedal mesin jahit konveksi garmen.

Di atas meja kayu dekat pintu kamar mandi komunal, segelas air hangat yang ia siapkan sejak sore sudah mendingin, permukaannya ditutupi lapisan abu kelabu tipis yang merembes dari cerobong pabrik tekstil di belakang gang.

Sebuah getaran di atas kasur lantai memutus kesunyian. Teks dari nomor ayahnya masuk: Kaki tempat tidurku patah satu. Kasurnya miring.

Ratih tidak bergerak dari posisinya. Jemarinya yang kaku mengetik balasan: Ganjal pakai batako di dekat pintu. Besok aku shift subuh.

Dua detik kemudian, balasan masuk: Batakonya sudah remuk. Aku pakai potongan tali tambang goni silsilah sisa pelabuhan yang kubawa sore tadi. Tapi ujungnya harus ditarik dari kamarmu.

Ratih meletakkan kembali gawainya di atas lantai semen. Ia tidak berniat bangkit untuk membuka pintu kamar sebelah. Selama dua tahun menetap di bedeng kontrakan petak ini setelah rumah ulayat mereka di hulu rata oleh proyek pembangunan, komunikasi di antara keduanya telah bermutasi sepenuhnya menjadi barisan teks pendek. Mereka berbagi pancuran yang sama, memasak di atas kompor minyak tanah yang sama, tetapi hanya bergerak sebagai dua siluet anonim yang menolak bertukar suara udara. Ayahnya—seorang kuli panggul karung curah di pelabuhan—berangkat sebelum fajar pecah dan pulang saat seluruh lampu jalan arteri mati memutih.

Hubungan darah di antara mereka menyusut menjadi semacam birokrasi batin yang absurd. Mereka tidak pernah lagi bertatap muka secara langsung, seolah-olah melihat rupa wajah satu sama lain adalah sebuah pelanggaran hukum ketertiban yang bisa memicu pemutusan hubungan kerja.

Uhuk. Uhuk.

Bunyi batuk itu kembali terdengar, kali ini diikuti suara derit papan lantai yang janggal. Gawai Ratih bergetar lagi.

Ayah: Tolong pindai QRIS kelontong depan stasiun yang fotonya kukirim ini. Bayar dua puluh ribu untuk denda potongan tali goni pelabuhan ke nomor mandor. Akun kerjaku digembok kalau belum lunas subuh ini.

Ratih membuka lampiran gambar kode QRIS yang dikirim ayahnya. Toko kelontong depan stasiun itu memang merangkap sebagai agen penyalur tenaga kerja harian lepas pelabuhan. Dengan beberapa ketukan di atas layar gawai yang buram oleh noda minyak, saldo dompet digitalnya terpotong otomatis. Transaksi nirkabel itu selesai dalam hitungan detik, dingin, sunyi, tanpa perlu bertukar uang kertas atau membuang suara udara. Tanda terima digital dikirimnya kembali ke kamar sebelah sebagai bukti kepatuhan transaksi harian.

Ia memejamkan sepasang matanya yang perih akibat paparan cahaya biru monitor kerja. Di dalam ruang kepalanya yang pening, suara raung mesin kompresor pabrik tekstil yang terletak dua blok dari kosnya mendadak bergeser memicu retrospeksi ingatan masa lalu yang kusam.

Bzzzt.

Ayah: Dendanya sudah masuk ke sistem mandor. Sekarang lihat ke bawah sudut dinding kamarmu. Ujung tali goninya sudah kumasukkan lewat celah papan semen.

Ratih menoleh ke arah sudut lantai di samping kasurnya. Di sela-sela sambungan papan semen yang retak, seutas tali rami tebal berwarna kelabu merayap keluar sepanjang satu jengkal tangan. Tali itu bergerak pelan, meliuk-liuk di atas permukaan lantai semen yang dingin, basah oleh rembesan air parit gang luar yang mulai meluap masuk ke kolong dipan. Kelelahannya akibat kerja lembur menahun telah melumpuhkan ketepatan insting Ratih untuk membedakan antara halusinasi mental dan realitas kotor kota.

Ia menjangkau tali rami tersebut menggunakan jari tangannya yang kapalan, mengikat ujungnya pada kaki meja mesin jahit tuanya dengan simpul mati yang kaku. Dari balik dinding sebelah, suara napas ayahnya terdengar menghela panjang, menahan berat dipan kayu mereka agar tidak ikut terapung di atas genangan air luapan parit yang membawa sisa limbah deterjen putih.

Bzzzt.

Ayah: Sudah kencang. Kasurnya tidak bergoyang lagi. Tidurlah. Senin pagi tidak pernah menanti orang kalah.

Ratih merebahkan kembali tubuh fisiknya menantang dinginnya malam. Di luar jendela kamar, hujan musim barat mulai turun lebat, air parit pembuangan di sepanjang gang semakin tinggi membawa sampah plastik bekas makanan instan yang hanyut menuju selat mati.

Tidak ada mukjizat dari langit yang akan mengubah kekakuan sistem target kerja mereka esok hari. Subuh nanti, sirine cerobong pabrik akan kembali meraih napas, memaksa mereka masuk ke dalam antrean mesin absen digital yang menolak belas kasihan. Ayahnya akan berjalan kaki menembus pekatnya kabut fajar menuju dermaga galian, dan Ratih akan terseret arus penumpang kereta komuter menuju menara kaca hulu. Mereka akan terus hidup bersisian di dalam satu rumah kontrakan petak, merawat keterasingan batin mereka sendiri lewat sebaris teks pendek di layar gawai yang perlahan meredup menggelap, memandangi sisa pendar cahaya biru menembus kegelapan sejarah yang sunyi.

 

Banjarnegara, Juli 2026

____

Tentang Penulis

Dwi Scativana Isnaeni adalah asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email: dwi.scativana23@gmail.com

 

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *