Jika

Jika langit berwarna merah,

maka warna apa yang

pantas mewakili darah?

 

Jika tanah berwarna

biru, maka warna apa yang

cocok untuk langit?

 

Jika tetumubuhan berwarna jingga,

apakah senja

akan cemburu padanya?

 

Jika pejabat suka menyuap,

maka apa pekerjaan yang

tepat bagi seorang ibu?

 

Purbalingga, 2025

 

Keresahan

Burung berterbangan di kepala

Awan kelam seperti enggan menetes

Otak dipenuhi semak belukar yang rindang

Pikirannya melalang buana ke entah

Sudah ratusan sajak ia tengguk

Ribuan kata ia eja dengan mata manja

Tapi tak satu pun kata menetas

Barangkali penulis bukanlah induk yang pantas mengerami kata-kata

Sesekali ingin ia melumerkan isi buku

Merajang-rajangnya dan memasaknya di dalam tungku yang panas

Akan ia jadikan semangkuk bubur dan ditelan begitu saja

Barangkali, kata-kata itu akan masuk ke dalam perutku,

ke dalam otakkku, ke dalam hatiku dan

Aku bisa berkicau dengan lancar

Serupa burung-burung

di ufuk timur sana.

 

Purbalingga, 2025

 

Hikayat Seorang Penulis Pada Pengguna

Telepon Genggam yang Suka Berkicau

Kata-kata adalah racun

Jangan menelannya setiap waktu

Kamu bisa saja menjadi pecandu akut.

Tidak ada yang bisa kamu imani dari

kata-kata yang menetas dari

jari seorang intelektual yang hobinya hanya

duduk di kursi empuk, ruangan ber-ac.

Kembalilah pada buku-buku

Pada kertas-kertas yang meneduhkan mata

Pada setiap cecap huruf yang nikmat

Setiap tanda baca yang melatihmu

bahwa hidup tidak boleh tergesa untuk mencapai ujung cerita.

 

Purbalingga, 2025

 

Melambat

Kita berjalan dari satu padang sabana ke padang sabana yang lain

Serupa petualang yang pemarah dan berbuat sekehendak hati

Onta kita pecut untuk bisa mengantarkan kita lebih cepat

Barangkali onta itu serupa nasib yang sering kita sumpah serapahi

Atau bisa jadi onta itu adalah otak kita yang sering kali lebih lambat dari orang lain

Atau bisa jadi onta itu adalah proses kita yang kerap kali tertinggal

Atau barangkali gaji kita yang tidak sampai menyentuh garis UMR.

Ah, onta.

Kenapa dia suka melambat.

Barangkali, di kehidupan modern ini onta menjelma becak

Dan, kita kerap melupa pada becak

becak yang melambat di pinggiran kota

selalu menjadi pengingat bahwa sesekali hidup memang harus lambat.

Bukan karena daya dan upaya tidak diperlukan

Namun karena seyogyanya manusia harus menata ritme.

 

Purbalingga, 2025

 

Pilihan

Pernahkah engkau berimajinasi bahwa di dunia yang sebentar ini

kita punya kekuatan super untuk bisa melaksanakan semua pilihan

sehingga tidak ada lagi kosa kata pilihan dalam hidup ini.

Apakah anda ingin menjadi penulis atau menjadi pembaca?

Saya adalah pembaca yang menulis dan saya adalah penulis yang membaca

Apakah anda ingin menjadi penyair atau penyiar?

Saya ingin menyiarkan berita dengan kata kata yang lembut serupa syair-syair pujangga

Saya juga ingin menjadi penyair yang membacakan sajak dengan artikulasi jelas serupa penyiar

Hidup memang pilihan, itu kata orang bijak.

Berbeda dalam puisi. Pilihan akan aku lumat dalam kata-kata.

Dalam banyak aspek, kita bisa menjadi multitalenta yang kompleks

“Pilihan adalah jebakan semu yang membuat kita takut untuk melangkah”

Jangan pernah lelah dan kalah dalam memilih

Buatlah pilihan menyesal karena sudah menjebak kita.

 

Purbalingga, 2025

______

Yanuar Abdillah Setiadi

Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024).  Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media di antaranya; mojok.co, maarifnujateng.or.id, Majalah An-Nuqtoh, litera.co.id, tajdid.id, mbludus.com, ruangjaga.com, sukusastra.com, gokenje.my.id, dan geger.id. Kontributor “Covid-19 Pandemi Dunia” (2020), “Lintang 3” (2020), dan “Di Ujung Tanjung” (2020). Instagram: @yanuarabdillahsetiadi. BRI 6817-01-025174-53-6 (Atas nama Yanuar Abdillah Setiadi)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *