Halmaheranesia – Acara puncak Festival Keanekaragaman Hayati Maluku Utara (KehatiMU) berlangsung dengan meriah di Benteng Oranje, Ternate, pada Minggu, 10 November 2024.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Burung Indonesia berkolaborasi dengan Halmahera Wildlife Photography dan Magazin Art Space ini berisikan beberapa acara, seperti pameran fotografi keanekaragaman burung di Makuku Utara, pameran organisasi pemerhati lingkungan, pameran kreasi mewarnai untuk anak-anak, cerdas cermat, hingga talkshow dan pemutaran film.
Festival KehatiMU berlangsung selama empat hari, yakni sejak tanggal 6-10 November 2024.
Dalam kegiatan puncaknya, dihadiri oleh pihak Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku Utara, pengurus pusat Penasihat Kemitraan Konservasi Burung Indonesia, serta beberapa komunitas yang bergerak di bidang konservasi dan satwa di Kota Ternate.
Kurator Magazin Art Space, Fadriah Syuaib, mengatakan bahwa kegiatan kolaborasi ini perlu diapresiasi. Sehingga ketika ada kegiatan berikutnya seperti ini, maka secara ide dan konsepnya harus lebih secara luas dan adaptif.
“Saya berpikir ketika kegiatan seni dengan menggunakan pendekatan lingkungan, itu perlu dikembangkan lagi ke depan” ucap Fadriah.
Koordinator Burung Indonesia Kepulauan Maluku, Benny Aladin, menyebutkan bahwa Festival KehatiMU adalah event besar dari hari Merayakan Keberagaman Burung Indnonesia (MKBI).
Sehingga itu ada beberapa perlombaan yang menjadi momen dalam memperkenalkan keanekaragaman burung di Maluku Utara.
“Jadi event ini dibuat dalam bentuk festival, biar kita memperkenalkan ke seluruh Indonesia, bahwa Maluku Utara juga selalu mengadakan kegiatan keanekaragaman hayati,” ujar
Benny.
Benny menambahkan, selain memperkenalkan keberagaman burung-burung, tentu ada kegiatan kampanye mengenai beberapa jenis endemik burung di Maluku Utara yang sedang mengalami tren penurunan, salah satunya jenis burung Paruh Bangkok. Secara habitat sudah mulai berkurang.
“Secara endemik Paruh Bangkok cuman tiga di Maluku Utara, Kaka Tua Putih, Kasturi Ternate, dan Serindit Maluku. Ketiga jenis endemik ini, berdasarkan riset dari Burung Indonesia, mulai menunjukkan tren penurunan sejak 2019 – 2020,” ujarnya.
Perwakilan Halmahera Wildlife Photography HWP, Dewi Anindita, menjelaskan untuk melestarikan keberagaman burung-burung di Maluku Utara, perlu ada upaya memperkenalkan ke seluruh kalangan dengan cara unik.
Cara itu, salah satunya melalui fotografi dengan mengajak mereka untuk memotret kehidupan burung yang kian hari semakin terancam habitatnya.
“Jadi selain mengambil foto, kami dari HWP juga mencoba melakukan pendataan dan pemetaan lokasi kehidupan masing-masing habitat, agar mampu menjadi rekomendasi ke pemerintah,” ucap Dewi.
Sementara itu, Penasihat Kemitraan Konservasi Burung Indonesia, Ria Sarianti, mengaku sangat terinspirasi ketika menghadiri dan melihat keterlibatan komunitas anak muda mulai tumbuh dalam melestarikan keberagaman burung di Indonesia, khususnya di kegiatan Festival KehatiMU.
“Jadi ini adalah cara untuk mendorong generasi muda agar selalu menjaga kelestarian alam, salah satunya burung-burung yang ada di Maluku Utara,” ungkap Ria.
Ria menjabarkan, bahwa ada beberapa jenis endemik yang sudah dilindungi oleh peraturan serta penanganan dari beberapa program Burung Indonesia. Hanya saja harus ada peningkatan upaya penanganan yang melibatkan partisipasi masyarakat lokal.
“Ke depan kita harus melibatkan banyak pihak, terutama pemerintah daerah, pihak swasta, serta partisipasi peran masyarakat,” pungkasnya.
___
Reporter: Musmaulana





