“… jika suara tanah tak lagi terdengar, maka kita pun akan kehilangan suara diri kita sendiri .” – Herman Oesman

Ternate: Sebelum membaca novel “Rempah Terakhir” karya Herman Oesman, sebaiknya kita menepi sejenak dari hiruk pikuk kota, berteduh di bawah pohon rindang, ditemani secangkir kopi hitam. Dalam keheningan itu, kita dapat benar-benar merasakan sunyi; membayangkan bagaimana hidup berubah ketika kebahagiaan yang lahir dari kedamaian dengan alam direnggut oleh hadirnya alat-alat berat yang mengoyak isi perut bumi. Rasanya sungguh sesak.

Kisah fiksi yang berakar dari realitas ini mengingatkan saya pada pengalaman ketika meliput ke pelosok desa, jauh dari keramaian ibu kota. Cerita itu benar-benar terjadi, dan melalui novel fenomenal ini, Bang Herman seakan membuka mata siapa saja yang membacanya.

Buku setebal 82 halaman ini bisa dikatakan sebagai salah satu novel sosiologi pertama yang lahir dari Maluku Utara. Halaman demi halaman disusun dengan apik; alurnya menyentuh dan dekat dengan kenyataan. Pada bagian pertama, “Aroma yang Hilang,” penulis menghadirkan Pulau Tefa, pulau imajinatif yang pernah dilukiskan pelaut Portugis sebagai “Pulau Surga Rempah.” Kini warnanya memudar dalam kabut logam. Amira hadir sebagai tokoh utama yang membawa pembaca menyaksikan perubahan itu dari dekat.

Memasuki bagian kedua, “Suara Tanah, Suara Diri,” kita bertemu Rafi. Ia tak pernah berniat menjadi penambang; mimpinya sederhana: mendaki bukit untuk memetik cengkeh muda. Namun dunia berubah begitu cepat. Di Pulau Tefa, pekerjaan seperti itu dianggap kuno, lambat, dan tidak menjanjikan. Dua bagian ini membawa pembaca termasuk saya menyelam ke dalam realitas getir, namun tetap mengikuti alur imajinatif yang dirangkai penulis.

Bagian ketiga, “Jejak Sahla di Tanah Sengketa,” memperkenalkan Sahla, seorang peneliti yang menapakkan kaki di dermaga Pulau Tefa. Ia datang bukan sebagai pelancong atau aktivis, melainkan seseorang yang ingin memahami bagaimana satu pulau dapat berubah arah hidup begitu drastis, dari rempah ke tambang.

Hari-harinya ia habiskan berkeliling dusun, mewawancarai perempuan-perempuan yang dulu mengolah pala menjadi minyak gosok dan manisan. Dalam perjalanannya, tumbuh keyakinan bahwa harum rempah itu belum sepenuhnya mati; ia hanya bersembunyi, menunggu ditemukan kembali.

Pada bagian berikutnya, “Tarian Terakhir di Hutan Dalam” penulis menggambarkan sebuah hutan kecil di tengah Pulau Tefa yang oleh orang tua disebut “Hutan Dalam”. Dahulu tempat itu dianggap misterius bukan dijaga oleh pagar kawat, melainkan oleh cerita dan pantangan yang diwariskan secara turun-temurun.

Hingga akhirnya, dalam epilog “Tanah yang Mengingat” penulis menegaskan bahwa Pulau Tefa tidak akan kembali seperti dulu. Ia tak lagi mampu menghadirkan harum cengkih atau laut sebening dulu. Sesuatu telah berubah. Amira mencatat kisah rempah, sejarah tanah mereka, dan perlawanan terhadap perusahaan tambang. Sementara Rafi yang sempat bekerja di tambang memilih berhenti dan menanam kembali pohon-pohon kenari. Pulau Tefa mungkin tak akan pernah muncul lagi di peta pelaut Portugis, tetapi bagi mereka yang pernah mencium aroma cengkeh, ia akan tetap hidup.

Bagi saya “Rempah Terakhir” bukan sekadar kisah tentang sebuah pulau yang kehilangan masa lalunya, tetapi juga pengingat bahwa tanah, hutan, dan rempah menyimpan ingatan lebih panjang daripada umur manusia. Novel ini menegaskan bahwa ketika alam terluka, manusia pun kehilangan sebagian dari dirinya.

Herman Oesman menghadirkan sebuah refleksi mendalam tentang keberanian menjaga yang tersisa, tentang harapan kecil yang tetap menyala di tengah kerusakan, dan tentang suara tanah yang harus terus kita dengarkan sebelum semuanya benar-benar hilang.

___

Penulis: Sofyan Togubu | Penggiat Literasi dan Jurnalis

Bagikan:

Sofyan Togubu

Penggiat Literasi dan Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *