Di Halmahera, malam sering kali datang sebagai tontonan ketakutan yang dirawat secara telaten. Ia hadir bersama jelaga batok kelapa yang terbakar dan aroma menyan yang merayap dari celah-celah ventilasi, melintasi ambang jendela, lalu melayang menuju tanjung. Di sana, dalam imajinasi warga yang dibesarkan oleh kecurigaan, ribuan Suanggi berkumpul.

Namun, di dalam cerpen Rajif Duchlun, hantu tidak benar-benar datang dari alam gaib. Hantu itu lahir dari tungku dapur yang dingin dan piring yang kosong.

Santi adalah gambaran dari ironi itu. Perempuan itu suka bangun lebih pagi, menyapu sisa ritual Papanya, lalu mengetuk pintu tetangga dengan mengulurkan piring berisi pisang goreng, dabu-dabu, atau jagung rebus. Kehadirannya adalah kehangatan yang mencurigakan. Dari bibirnya yang memerah akibat mamah pinang, keluar pertanyaan-pertanyaan yang diberondongkan bagai tembakan,

“Ada kulkas?” tanya Santi. “Ada mesin cuci? So ada televisi? Ada kipas angin?”

Pertanyaan itu terdengar ganjil, tetapi di sanalah letak kritik sosialnya yang paling tajam. Bagi warga pemilik televisi dan mobil, rentetan pertanyaan Santi bukan basa-basi tetangga. Itu adalah ancaman. Ada semacam kecemasan implisit bahwa siapa pun yang datang dari rumah berbau menyan dan berani mempertanyakan harta benda mereka, tentulah seorang monster yang membawa kedengkian.

Kemiskinan, dalam kebudayaan yang terobsesi pada kelas, kerap dianggap memancarkan bau busuk yang mengganggu. Dan ketika masyarakat tidak sanggup atau tidak mau melihat ketimpangan itu sebagai kegagalan sistem sosial, mereka mengubahnya menjadi mitos. Kemiskinan pun dipaksa berpakaian sebagai “hantu”.

Sejarah “kehantuan” keluarga Santi bukanlah dongeng mistis tentang perjanjian dengan iblis di tengah hutan. Sejarah itu ditulis oleh perut yang lapar. Santi bercerita kepada anak-anaknya tentang Tete (kakek mereka) seorang nelayan yang melaut pun tak sanggup lagi karena dadanya digerogoti sakit.

“Di dapur tidak ada makanan. Sedangkan di dalam rumah ada tujuh orang. Hanya sagu sisa dan daun teh yang so agak basi. Mau tidak mau, harus ambil kasbi di tetangga.”

Ketika sang Tete menjadi papancuri (pencuri singkong) dan dihajar hingga babak belur oleh warga, yang hancur adalah fisiknya, juga ruangnya di tengah komunitas. Rasa malu dan pengasingan itu mengendap menjadi luka yang menahun.

“Jadi Papa, maksudnya Tete, mulai simpan hati di orang-orang. Tete mulai banyak belajar ilmu di pedalaman Halmahera. Salah satunya menjadi Suanggi.”

Frasa “simpan hati” di sini adalah metafora yang luar biasa getir. Frasa itu adalah luka batin yang membusuk, dendam terselubung kelas bawah yang tersisih. Ketika mereka yang berpunya sibuk memamerkan oto (mobil), televisi, dan lantai keramik, ilmu Suanggi menjadi satu-satunya “senjata” yang tersisa bagi yang terpinggirkan. Mitos Suanggi adalah cara si kaya memenjarakan si miskin dalam stigma, sekaligus cara si miskin merayakan sisa kekuatannya untuk menakut-nakuti kenyamanan kelas atas.

Maka, Santi pun berkeliaran di tengah malam. Rambutnya terurai awut-awutan, matanya menyala dalam remang, menatap wajah-wajah tetangganya yang sedang terpesona oleh kilatan layar televisi dari balik jendela glass. Santi tidak ingin memangsa daging mereka; ia hanya ingin menyaksikan kemewahan yang tak pernah bisa dimilikinya.

“Mereka so punya televisi,” kata Santi, tertawa pelan, sangat pelan.

Tawa pelan di kegelapan malam itu tawa kegembiraan supranatural juga desah kepedihan. Sebuah tontonan tentang bagaimana kapitalisme dan barang mewah telah memisahkan manusia ke dalam dua ruang. Mereka yang tertawa di dalam hangatnya ruang tamu, dan mereka yang kedinginan mengintip di balik kaca.

Namun, Rajif Duchlun tidak membiarkan narasi ini berhenti pada klise perseteruan kaya dan miskin. Di bagian akhir, ia melayangkan sebuah pukulan satire yang merobohkan seluruh konstruksi pemikiran tokoh utamanya.

Santi mendatangi tetangga barunya, membawa pisang goreng, lalu melemparkan pertanyaan “tembakan”-nya. Namun, tetangga baru itu menjawab dengan nada suara yang hampir tak terdengar,

“Bagaimana mau beli kulkas, beli makanan saja susah. Di rumah ini hanya ada sagu sisa… Semoga makanan ini bisa bertahan sampai malam.”

Jawaban itu meretakkan seluruh doktrin yang diwariskan oleh Tete dan Papanya. Santi yang kebingungan kemudian meluncurkan kesimpulan yang terbalik dan jujur dari sudut pandangnya,

“Orang yang tidak ada beras di rumah, orang yang hanya bisa bertahan hidup dengan sagu, orang yang tidak punya kulkas, orang yang tidak punya oto, orang yang hidupnya susah, saya percaya orang-orang itu pasti Suanggi.”

Tetangga itu tertawa. “Bukannya terbalik, ya?”

Di sinilah kesadaran kita diuji. Santi mengira “Suanggi” adalah predikat bagi siapa saja yang menderita karena baginya, penderitaan adalah syarat mutlak untuk menjadi monster. Ia tidak menyadari bahwa masyarakatlah yang telah menuduhnya sebagai Suanggi justru karena ia miskin. Santi lalu berpikir panjang dan sangat lama. Sebuah jeda yang hening di akhir cerita.

Mungkin, kita pun harus berpikir panjang bersama Santi. Mitos Suanggi dalam cerpen Rajif Duchlun adalah cermin yang memantulkan wajah kita. Kita kerap menciptakan “hantu-hantu” baru setiap hari. Kita melabeli mereka yang kumuh sebagai kriminal, mereka yang pinggiran sebagai ancaman, dan mereka yang lapar sebagai pembuat onar.

Kita lebih mudah percaya pada keberadaan hantu yang terbang di atas tanjung Halmahera daripada mengakui bahwa ada tetangga kita yang malam-malam tertidur dengan perut kosong. Selama ketimpangan dipelihara dan empati ditutup rapat-rapat, kemiskinan akan selalu dipaksa menjadi hantu yang mengetuk-ngetuk jendela kita di tengah malam, menagih kemanusiaan kita yang tersisa.

Sebab di negeri yang pandai merawat takhayul ini, menuding orang lain sebagai hantu selalu jauh lebih murah dan mudah, daripada menyerahkan seperempat piring pisang goreng untuk menyelamatkan jiwa yang karam oleh kemiskinan.

Lembah, 2026.

______

Penulis: Abi N. Bayan

Klik di sini: Baca Cerpen ‘Suanggi’ oleh Rajif Duchlun

Bagikan:

Abi N. Bayan

Abi N. Bayan, penulis dan seorang guru di Halmahera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *