“Di atas perahu yang merapuh, di tengah laut yang luas, air tenang. Tapi, arusnya berombak mematikan….”

Sebuah penggalan puisi dari Dr. Wildan Mattara, seorang penulis (penyair) yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair). Puisi berjudul “Menuju ke Pulau” yang ditulisnya pada medio Agustus 2019 itu–tak pernah tahu akan menepi pada takdir siapa, tapi di bagian berikutnya, pesan itu barangkali datang dari hati seorang ayah yang kuat.

Ayah berharap menemukan satu kado. Obat pengering luka yang tersisa disapu ombak, tadi sore….

Kata-kata itu bisa saja imajinasi seorang laki-laki yang sejak pagi bangun menemukan fajar pecah di halaman rumahnya, berangkat kerja, seharian bermandikan keringat, dan pulang ke rumah saat malam benar-benar menyapu. Dan kata-kata itu barangkali ditulis di bawah lampu temaram, dalam bayang-bayang azan isya yang baru saja usai, atau saat seteguk teh hangat yang masuk kala lelah benar-benar menghantamnya.

Ayah itu bernama Wildan.

Dalam tujuh hari ini, namanya ramai di beranda media sosial dan berita sepanjang Januari 2026. Penyair itu ikut menjadi korban dalam peristiwa tenggelamnya kapal kayu di perairan Bibinoi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Sebuah rilis menyebutkan, 59 orang selamat, 1 balita meninggal dunia, dan Wildan, sang ayah yang kuat itu belum ditemukan.

Semua upaya dilakukan. Tim SAR Gabungan dibentuk dan setiap lekuk laut selatan Halmahera dituju, berharap ada penulis “Menuju ke Pulau” sedang istirahat di sebuah pulau, atau sedang melawan kerasnya ombak, atau sedang lainnya–yang saat menulis ini–saya masih selalu berharap ia kembali atau ditemukan dalam keadaan baik.

Saya tak terlalu dekat dengan kepribadiannya. Tapi karya-karyanya seperti sebuah tangan yang menyalami, mengakrabi keseharian kita, memeluk kita dalam awas dan ikhtiar sebagai seorang manusia.

Wildan adalah puisi yang sebenar-benarnya. Di akun media sosialnya, puisi bagai etalase, tersusun dari imajinasi serta pengalaman intuitif yang selalu memeluk setiap penulis. Saya membaca pelan-pelan, dan pada puisinya yang berjudul “Pelaut”–ia seperti mengingatkan bahwa laut selalu punya pesan, sebagaimana ombak, ketakutan, dan keberanian.

Laut
tidak ada ketakutan
tanpa keberanian

Laut
tidak ada tujuan
tanpa pemberhentian

Puisi itu ditulisnya pada tahun 2019. Dan sepertinya ia menulisnya dalam keadaan sedang berlayar ke Taliabu, sebagaimana yang tertulis di bagian akhir puisi “Ternate-Taliabu 2019”.

Penulis memang pandai menyimpan perasaannya. Ia kadang sepi dan memilih untuk tak bercerita, meski sebenarnya ia dipeluk ketakutan dan kerisauan. Di atas karya-karya, ia sebenarnya sedang mengucapkan inti paling rahasia dari perjalanan. Saini KM menyebutkan, “Penyair itu, adalah ia yang berumah di sebuah kuil di tengah hutan. Ia juga kayu dalam pembakaran, ia pergi pada inti kehidupan.”

Wildan telah menulis perasaan-perasaannya. Ia berhasil mengucapkan cinta pada istri dan anak, pada kesepian-kesepiannya, pada ketakutan dan keberaniannya, sampai hari ini. Sampai hari ketujuh pencariannya.

Dalam sebuah standar SAR, hari ini pencariannya dinyatakan selesai meski hasilnya masih nihil. Tapi di laut selatan Halmahera yang luas, doa-doa masih terus ditembakkan ke langit, harapan masih seperti perasaan sang ayah–dalam puisi Wildan–bahwa kau harus kembali ke rumah untuk istri dan anak; menemukan satu kado. Obat pengering luka yang tersisa disapu ombak…. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *