Waktu saya baru selesai wisuda di Jogja dan balik ke Ternate tahun 2019, untuk pertama kalinya saya duduk satu forum bersama bang Irfan Ahmad dan Soekarno M. Adam. Dua orang senior ini mengapit saya, memenuhi permintaan kawan-kawan mahasiswa Hiri yang terhimpun dalam organisasi Gerakan Anak Pencinta Ilmu (GAPI).
Kami berbicara pembangunan Ternate di Kedai Orecele, dekat Masjid Siko, milik saudara Ikra. Saya dikasih bab kebijakan kebudayaan, Soekarno M. Adam mengulas aspek sosiologis pembangunan dan Irfan Ahmad menyentil dimensi sejarah Kota Ternate.
Sejak saat itu, perkenalan saya dengan bang Irfan jadi lebih akrab. Saat masih di Jogja, saya diingatkan seorang senior, Rahmat R. Wali, agar sepulang dari Jogja nanti, sering-seringlah berdiskusi sejarah dengan bang Irfan, katanya, Irfan Ahmad itu kaya dengan data-data sejarah.
Data dan Legasi Pengetahuan
Saya pribadi melihat hari-hari setelah pertemuan itu merupakan hari pembuktian bahwa bang Irfan memang satu-satunya sejarawan muda asal Maluku Utara yang tidak bisa “bergerak” tanpa dokumen dan arsip sebagai rujukan utama membaca sejarah, sebagaimana diktum konvensional disiplin ilmu sejarah.
Sampai-sampai dalam satu forum kecil, seorang kawan pernah bilang bang Irfan itu ketergantungan pada “sejarah kolonial”. Maksudnya, jika tidak ada dokumen-dokumen kolonial yang dapat diakses, maka bang Irfan tidak akan “sekeren” itu ngomong dan menulis sejarah Maluku Utara. Jika kita memperhatikan tulisan-tulisan bang Irfan, sebagian besar dipenuhi sumber arsip dan dokumen-dokumen yang dianggap kredibel.
Saya percaya, seperti anjuran Fernand Braudel, bahwa tidak sedikit juga dokumen-dokumen kolonial adalah bentuk pengalihan budaya, sebuah upaya penjajahan dalam “membunuh” pengetahuan tempatan, membatasi akses kosmologi Indonesia yang lebih ke perawatan budaya lisan, termasuk mengenai sejarah.
Kolonialisme akan memaksa orang Nusantara harus diperkenalkan dengan pengetahuan luar melalui arsip dan dokumen yang dibikin orang luar, dan itu efektif untuk memperluas hegemoninya melalui jalur pendidikan. Seolah tidak pernah ada sesuatu yang bernilai di luar data arsip dan dokumentasi. Inilah mengapa ada juga orang turut meragukan data-data kolonial.
Sejarawan terkenal Indonesia seperti Sartono Kartodirjo juga menyerukan kita butuh penulisan sejarah yang tidak sepenuhnya bergantung pada data-data dan cara berpikir Barat. Sejarah Indonesia harus ditulis menurut data-data Nusantara, menurut cara berpikir dan wawasan Nusantara.
Sebab pada akhirnya, sejarah bukan sekadar lukisan peristiwa dan pengetahuan, sejarah mengaksentuasi identitas dan klaim kekuasaan tertentu. Pendeknya, sejarah adalah “klaim kebenaran”, sebagaimana dunia mengklaim filsafat berawal dari Yunani, padahal di luar Yunani sejarah filsafat bahkan jauh lebih kaya.
Bang Irfan, dalam tarikan napas kepenulisan dapat direpresentasikan sebagai dosen dan penulis sejarah yang secara bersamaan menaruh dua perspektif berbeda. Di satu sisi bersikukuh pada rujukan primer berupa dokumen, namun ia juga tidak sepenuhnya meninggalkan sumber-sumber sekunder.
Dalam sejarah, dokumen adalah sumber primer. Beda lagi dalam ilmu sosial, dokumen merupakan data sekunder. Meskipun begitu, saya membaca bang Irfan punya kecenderungan kuat untuk menempatkan data-data kredibel dalam dokumen itu sebagai pedestal menulis sejarah.
Ia bukan hanya konsisten, tapi juga energik di bidangnya. Banyak kolega, guru, dan murid beliau bersaksi untuk ini. Diskusi kurang panas tanpa bang Irfan. Sejumlah mahasiswa juga mengaku beliau tipe dosen yang mudah bikin mengerti.
Dalam kasus klaim kesejarahan tadi, berpuluh tahun bangsa Indonesia dicekoki data kolonial dengan efek yang tak main-main. Orang dipaksa percaya pemikiran mainstream bahwa di luar dokumen kolonial bukanlah kebenaran sejarah. Kekuasaan menyisir identitas dengan segala klaim sesatnya: untuk memahami Indonesia harus memulai dari Jawa. Di luar Jawa, sejarah tidak kredibel.
Watak Jawasentris ini menjadi residu langsung pengaruh mental dan pengetahuan kolonial. Hilmar Farid dalam pidato kebudayaan (2014) “Arus Balik Kebudayaan: Sejarah sebagai Kritik”, mengulas pergeseran kuat dan luas pengetahuan sejarah Nusantara abad ke-17 dan 18 yang berbasis kultur maritim ke suatu dinamika kultur agraris oleh Belanda.
Selanjutnya sejarah Nusantara diarahkan menuju tipe kontinental yang secara mendasar berbeda tipologi dengan karakter kelautan masyarakat Nusantara. Dunia tak lagi menganggap ada pengetahuan perkapalan dan navigasi orang Indonesia.
Padahal ilmu-ilmu kenavigasian, sistem pelayaran di atas laut, dan konsolidasi pesisir di Indonesia itulah yang membuat Baabullah berhasil mengusir Portugis, Nuku berhasil memukul Belanda, Malahayati berhasil membunuh Cornelis De Houtman, Zainal Abidin berhasil mempertahankan kedaulatan bangsa, dan banyak lagi. Sistem kolonial “menguburkan” itu semua sebagai bentuk penghancuran kebudayaan intangible Nusantara.
Di sudut ini, bang Irfan justru hadir bagai oase sejarah baru Indonesia dari Maluku Utara. Ia aktif melangkah dari pinggiran. Konsisten meracik naskah akademik tiga tokoh Maluku Utara yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia: Sultan Baabullah Datu Sjah dari Ternate (2020), Salahuddin dari Halmahera Tengah (2023), dan Sultan Zainal Abidin dari Tidore (2025).
Ia juga menulis tentang sejarah pers Indonesia melalui kisah Prince Fatimah dari Bacan, Halmahera Selatan, termasuk kontribusi Tuan Guru dari Tidore yang ditetapkan Pahlawan Nasional untuk Afrika Selatan. Secara umum, bang Irfan telah banyak menorehkan tinta sejarah Indonesia dari Maluku Utara. Saya memaknai tulisan-tulisannya secara tak langsung bermakna sebuah “kampanye” untuk melawan hegemoni Jawasentris dalam pengajaran sejarah Indonesia.
Bahwa sejarah bukan tentang raja-raja, bukan pula tentang orang besar, tetapi jauh lebih holistik menyentuh orang kecil dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahwa Maluku-Maluku Utara itu laboratorium masa lalu Indonesia yang butuh dieksplorasi lebih jauh oleh sejarawan, negara, dan generasi hari ini.
Seluruh dokumen akademik pahlawan nasional di atas harus dibaca dalam kerangka “perlawanan” terhadap sejarah kontinental bentukan Eropa/Jawasentris, sehingga di samping usaha mengembangkan literatur sejarah Indonesia, kita termasuk memberi ruang pada kekuatan identitas pesisir dalam merekonstruksi masa depan bangsa dan negara kepulauan terbesar di dunia ini. Tugas pemerintah secara kontinu, naskah-naskah itu harus disederhanakan dalam bentuk buku ajar, sehingga bisa didistribusikan ke sekolah-sekolah, khususnya seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara.
Buku terakhir beliau, “Sejarah Ternate”, menurut saya adalah Magnum Opus bang Irfan mengenai sejarah kota pesisir. Bentuk kompendium kesadaran betapa identitas, kosmologi, dan dinamika pesisir kota-kota di Timur Indonesia merupakan nadi sejarah Indonesia.
Melalui bang Irfan, kita diajak untuk membatasi sejarah naratif menuju keberpihakan sejarah yang lebih luas dan realistis tanpa menekankan pada satu supremasi kekuasaan tertentu. Adalah legasi pengetahuan yang dapat kita ambil hikmahnya dari seluruh proses provokasi intelektualnya.
Perangai dan Ingatan yang Menyejarah
Saya patut berterima kasih pada beliau karena perkenalan yang begitu singkat justru memupuk energi besar. Tahun 2021, beliau ikut menyemangati dan membantu saya dan kawan-kawan pengurus Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) dalam usaha merenovasi Masjid Nurul Aaminin di kampung saya, Pulau Hiri. “Wawan, teruslah berbuat untuk orang banyak”, begitu pesannya pada saya.
Pada penghujung 2023 ketika saya sedang mengoordinir pembangunan Pangaji Baba Lifa, beliau menelpon dan meminta saya datang ke RSUD Chasan Boesoerie. Saat itu beliau sedang menjenguk koleganya, Pak Andi, yang sedang dirawat.
Kami bertemu di ruang depan samping IGD, lalu beliau memberi saya “sedekah” dengan harapan semoga pembangunan Pangaji berjalan lancar dan anak-anak bisa belajar ngaji, masyarakat bisa memanfaatkan ruang tradisional ini sebagai wadah membicarakan kebutuhan kampung.
Bang Irfan pribadi yang suka peduli. Kemampuannya secara intelektual tak diragukan. Sependek pengetahuan saya mengenal beliau, banyak terlibat memberi ide dan menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) pada hampir seluruh kabupaten/kota Maluku Utara.
Terlepas dari kontroversinya menjalani proses tersebut, ini dokumen wajib bagi pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan kebudayaan sebagaimana amanat Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Undang-undang ini memberi kesempatan besar menggali, memahami, dan mengembangkan budaya “intangible” dari yang “tangible”.
Sebagai orang haus data dan ilmu, bang Irfan merawat proses akademik di luar kampus yang beliau kerjakan bersama teman-teman dosen dan sejumlah mahasiswa melalui Yayasan The Tebings. Pelbagai riset dilakukan di daerah-daerah Maluku Utara, termasuk penyusunan PPKD.
Ia juga aktif mengembangkan komunitas Jakofi yang doyan membicarakan seni, sastra, politik, budaya, pendidikan hingga ekonomi. Kegemarannya membentuk jejaring intelektual lewat lembaga di luar kampus yang melibatkan banyak pihak hingga perkawanan beliau dengan kelompok jurnalis maupun politisi Maluku Utara mengantarkan dirinya jadi pribadi yang dikenal luas.
Hari-hari belakangan bersama komunitas ini beliau sangat bersemangat membahas buku-buku tentang Halmahera, tentang perampasan ruang hidup akibat industri ekstraktif secara gila-gilaan di Maluku Utara. Tujuannya satu, bahwa keadilan harus menyentuh semua lapisan masyarakat.
Bahwa dalam komunitas manusia, sekecil apa pun komunitas itu, tidak boleh ada akar sejarah komunitas yang dihapuskan. Menghapus akar sejarahnya sama saja membunuh kehidupan manusia. Mungkin, inilah hakikat dari langkah bang Irfan memilih disiplin sejarah dan membaca bagaimana sebuah bangsa tumbuh, berkembang, bahkan mengalami kemunduran peradaban.
Sungguh, saya pribadi benar-benar merasa kehilangan dosen, senior, dan juga orang muda energik seperti beliau. Waktu terus berlalu dan hari ini beliau telah menjadi “sosok sejarah”, karena sejak beliau menghembuskan napas terakhirnya, seluruh aktivitas, seluruh kontribusi, seluruh eksistensinya berubah menjadi ingatan yang akan selalu menyejarah di negeri ini.
Bang Irfan orang baik. Semoga legasi ilmu dan seluruh perangai baik yang pernah kita semua rasakan menjadi penerang dan petunjuk beliau di hadapan Sang Pencipta.
Selamat jalan, bang. Terima kasih untuk segalanya.
____
Penulis: Wawan Ilyas





