Hujan hari itu memanah seantero Ternate. Anak kecil bernama Rayan (bukan nama sebenarnya) berlarian ke arah pintu timur Gelora Kie Raha. Di tribun, nyanyian masih terdengar, meski sebagian sudah turun berteduh, sebagiannya lagi mengenakan mantel.
Rayan dan ayahnya memilih menerobos rinai, membuang semua ketakutan, meski garis petir begitu silau di langit Ternate, seolah-olah sedikit lagi menyambar seisi stadion. Mereka masuk ke kerumunan Laskar Kie Raha, mengisi nyanyian yang semakin sayup dipeluk badai hujan.
Malut United adalah definisi cinta bagi mereka yang basah kuyup, tak peduli sedingin apa malam itu. Sepak bola memberi ruang yang adil di dada seorang anak kecil, setelah sekian lama, cerita superioritas sepak bola di Maluku Utara hanya melintasi dari generasi ke generasi.
Kini, ia tak ingin melewatkan sejarah. Sebuah klub yang menghidupkan kembali memori kolektif orang Maluku Utara, ingin ia saksikan bersama sang ayah—yang barangkali juga menyimpan sepak bola di dadanya, selain sang istri tentunya.
Bibirnya bergetar, menahan dingin, melawan badai yang terus meniup dari segala sisi. Di tribun itu, ia justru menggenggam tangan sang ayah, ikut meloncat, meniru seorang capo yang kian berteriak, menandingi gemuruh hujan.
Dan saat malam kian larut, lalu pertandingan berakhir, kehangatan paling terasa adalah pulang membawa cerita kemenangan. Rayan barangkali tak sabar menceritakan keseruan pada sang ibu di rumah, bahwa ia baru saja melihat Wbeymar Angulo dkk mencetak gol ke gawang lawan, bertarung habis-habisan untuk publik Kie Raha.
“Ibu sudah tidur, besok saja Dek ceritanya,” ungkap sang ayah. Saya membayangkannya demikian.
Tapi cerita Rayan adalah kepingan puzzle anak-anak dari kenyataan yang ada di tribun Gelora Kie Raha. Ini bukan dongeng sebelum tidur. Ini kebanggaan.
Saya berdiri di tribun barat, tepat di barisan para jurnalis. Mengamati detail-detail pertandingan, tapi perasaan cinta terhadap sepak bola selalu subjektif. Lahir dan besar di Maluku Utara, tentu membuat segalanya menjadi dilema. Melihat cinta mekar di setiap sisi tribun–senyuman, kebanggaan, emosional, dan hal-hal takjub lainnya, membuat saya memiliki perasaan yang sama dengan mereka, di sisi tribun mana pun, yang datang ingin melihat Alwi Slamat atau Frets Butuan memenangkan laga.
Sudah tiga tahun berjalan. Sepanjang musim yang membanggakan itu, klub milik David Glen, seorang pengusaha tambang, sebenarnya telah menandai sejarah hebat bagi Maluku Utara. Ia datang dari percakapan sepak bola yang sepi, lalu membuat kota ini menjadi riuh, selalu punya ruang untuk membicarakan dan mendiskusikan sepak bola.
Berita kebanggaan berlalu-lalang di jagad maya. Sebelum laga, tiket gratis kerap dibagikan kepada para imam dan pendeta, anak-anak SSB, hingga mereka yang yatim dan piatu. Seolah-olah kebaikan menjadi begitu lengkap; memenangkan laga, memenangkan hati orang Maluku Utara.
Jauh sebelum itu. Gelora Kie Raha hanyalah rumah sepak bola yang kesepian. Benar-benar kesepian. Tak terurus, hanya ilalang yang tumbuh liar memeluk segala sisi tribun. Seorang komika asal Ternate, Ali Akbar, pernah membuat video satir, menertawakan kondisi Gelora Kie Raha yang benar-benar hancur. Tapi saya tahu hati Ali, ia sebenarnya sedang belajar menertawakan kesedihan. Begitulah komedi bekerja. Satu-satunya saluran untuk menyampaikan kritik adalah menertawakannya. Lucu. Tapi menyakitkan. Ali saat itu adalah kita semua—yang merindukan Gelora Kie Raha kembali menemukan magisnya, setelah bertahun-tahun sebelumnya pernah riuh, pernah hidup karena sebuah klub yang bernama Persiter Ternate.
Tunggu dulu. Kita lupakan. Saya sedang membicarakan Malut United.
David Glen tiba. Ia pulang membawa klub yang diberi julukan Laskar Kie Raha setelah bertarung habis-habisan di Liga 2 Indonesia. Kota ini sibuk. Sebuah layar besar di depan kantor wali kota Ternate menjadi saksi paling ikonik, bagaimana kerinduan benar-benar pecah, kehangatan begitu guyup. Dan saya berada di sana, menyaksikan sejarah dimulai usai Malut United menaklukan Persiraja Aceh.
Namun, ada banyak layar kecil di rumah-rumah, di sebuah gang, di pangkalan ojek, di kedai-kedai kopi, juga turut menyaksikan sejarah hari itu. Kegembiraan yang lengkap.
Satir Ali Akbar dalam sebuah video akhirnya terjawab. David Glen dan manajemennya mengubah wajah Gelora Kie Raha yang kumuh menjadi begitu mewah. Akun-akun sepak bola di media sosial sangat takjub. Stadion kecil yang megah ini seolah-olah disamakan dengan Stadio Giuseppe Sinigaglia, markas Como 1907 di Italia; berada di pesisir, pegunungan, dan hamparan rumah.
Tak berhenti di situ, David Glen pun turut membangun training ground Malut United sekaligus sebagai pusat pengembangan sepak bola Akademi Merah Putih, tepatnya di punggung Gamalama, ke arah utara Ternate.
Peresmian digelar. Sejumlah pejabat ada di sana. Publik Maluku Utara ikut berbangga. Suatu ketika seorang teman sempat berkelakar, “Jangan coba-coba tolak perusahaan David Glen di Gebe. Lingkungan hancur tidak masalah, asal torang bisa nonton Malut United terus.”
Kami tertawa. Benar juga. Euforia yang besar semacam ini akan menutup kenyataan pahit yang terjadi Pulau Gebe. Sepak bola telah menjadi “agama kedua”—sulit untuk menolaknya. Selama Malut United ada, selama itu pula “karpet merah” untuk pengusaha seperti David Glen selalu terbuka, apalagi jika ia benar-benar mendukung penuh sepak bola. Kira-kira seperti itu arti kelakar seorang teman tadi. Ya, itu kelakar, tapi sebagaimana komedi, saluran kritik adalah dengan menertawakannya.
Jika kalian pernah berkunjung ke Pulau Gebe. Dilematis paling pilu akan dirasakan. Sebuah pulau kecil itu dikelilingi sejumlah perusahaan tambang. Bukit-bukitnya sudah terkelupas, tersisa lubang-lubang tambang yang menganga, terhampar hingga ke batas pesisirnya. Warga kesulitan air bersih, dan mereka yang menggantung hidup di laut, makin susah berburu ikan di dekat Pulau Gebe. Nelayan-nelayan Kapaleo, sebuah desa di Pulau Gebe, misalnya. Mereka harus berburu ikan hingga mendekati Raja Ampat di Papua.
Itu bukan dongeng sebelum tidur. Itu kesedihan yang nyata. Apalah daya, euforia dan cinta terhadap Malut United benar-benar tak tertandingi. Namun, cinta itu berhenti di tiga tahun perjalanannya. Malut United resmi mengumumkan kepindahannya ke Jawa Tengah sekaligus berganti nama klub: Java United.
Kau tahu patah hati?
Seseorang yang kecewa akan pergi ke tempat paling sepi, atau mencari ketenangan, atau dengan cara-cara lain. Ada yang memilih menghabiskan malam di pantai, ada yang ke tempat hiburan, mabuk-mabukan, bahkan ada yang memilih menemui Tuhannya di malam-malam peluhnya. Cinta palsu macam apa yang membuat seseorang begitu patah hati?
Ia datang membawa harapan, kebanggaan, serta masa depan. Tapi ia sontak pergi tanpa pamit sedikit pun. Begitu tiba-tiba.
Cerita Rayan dan ayahnya adalah puzzle dari patah hati anak-anak yang rela basah kuyup, menghabiskan malam panjang, menyusun impian, untuk sebuah cinta yang pura-pura. Ya, pura-pura. (*)





