03
Oktober
2026
Sabtu - : WIB

Malam di Tanah Ibu

halmaheranesia
Oktober 3, 2026 pada Senggang
Ilustrasi cerpen “Malam di Tanah Ibu”. Gambar (Gemini)

Tanah punya cara mengingat kaki yang pernah menginjaknya. Pagi itu, ketika telapak kaki Shinta pertama kali menyentuh tanah Ibu, ia tidak tahu bahwa kelak tempat itu akan menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia hanya tahu bahwa matahari sedang terang-terangnya, bahwa seragam kafillah Kecamatan Loloda terasa sedikit kaku di tubuhnya, dan bahwa dadanya seperti menyimpan seekor burung yang terus-menerus mengepakkan sayap. Ia ingin berlari. Atau menari. Entahlah. Barangkali begitulah rasanya datang ke sebuah tempat yang selama ini hanya hidup sebagai nama.

Ibu. Nama yang terdengar seperti seseorang. Nama yang membuat Shinta teringat pada rumah, pada suara perempuan yang biasa membangunkannya, pada tangan yang pernah menyeka keringat dari dahinya, pada sepiring makanan yang selalu terasa lebih enak jika dimakan setelah perjalanan jauh. Tetapi pagi itu ia tidak sedang pulang kepada ibunya. Ia sedang datang ke Tanah Ibu. Ada perbedaan antara keduanya, meski Shinta belum tahu detailnya.

Di sepanjang jalan, manusia bergerak seperti arus yang tak putus. Pawai ta’aruf menjadi awal dari Musabaqah Tilawatil Qur’an Ke-XXXI. Kafilah-kafilah datang membawa nama daerah, pakaian, lambang, dan harapan. Mereka berjalan dalam barisan masing-masing, seolah setiap kecamatan sedang membawa sebuah rumah di atas pundaknya. Shinta berjalan bersama kawan-kawannya. Di kiri, orang-orang menyaksikan. Di kanan, beberapa anak kecil berlari mengejar barisan. Sesekali terdengar suara orang memanggil. Sesekali kamera ponsel terangkat. Dan di antara semua itu, Shinta merasa dirinya sedang berada di dalam sebuah mimpi yang sangat terang. Ada kegembiraan yang sulit ditampung tubuh. Dadanya penuh. Seperti langit sebelum hujan. Ia tersenyum tanpa tahu kepada siapa. Barangkali kepada orang-orang yang tidak dikenalnya. Barangkali kepada dirinya sendiri. Atau barangkali kepada kedua orang tuanya yang jauh dari tempat itu, tetapi namanya diam-diam ikut berjalan bersamanya.

Lalu cuaca tiba-tiba berubah. Matahari yang sejak pagi seperti hendak membakar seluruh jalan, perlahan menjadi sesuatu yang harus dilawan. Panas melekat di kulit. Keringat mengalir. Perut mulai meminta haknya. Kaki terasa berat. Kegembiraan yang tadi berlarian di dalam dada mulai kehabisan napas. Shinta baru mengerti, bahkan kebahagiaan pun memiliki batas dan yang diinginkannya hanya satu. Rumah inap. Tempat sederhana yang sejak awal mungkin tidak pernah ia anggap penting. Namun setelah tubuh lelah, sebuah rumah bisa berubah menjadi pelukan.

Ia tiba. Melepas sepatu. Duduk. Kemudian secangkir teh hangat datang ke tangannya. Shinta menatap uap yang naik dari permukaan teh. Uap itu sebentar membentuk sesuatu yang menyerupai kabut, kemudian hilang. Ia meminumnya perlahan. Hangat. Ada sesuatu yang pulang melalui tenggorokannya. Untuk beberapa saat, ia tidak memikirkan perlombaan. Tidak memikirkan lawan. Tidak memikirkan hasil. Tidak memikirkan apa pun. Hanya teh. Hanya rumah. Hanya tubuh yang akhirnya diberi izin untuk beristirahat. Tetapi malam selalu punya rencana lain.

Malam datang tanpa banyak suara. Satu demi satu cahaya dinyalakan. Rumah inap kembali ramai, tetapi keramaian kali ini berbeda. Tidak ada kegembiraan seperti pagi. Yang ada adalah suara halaman dibuka, lembaran dibalik, ayat-ayat dilafalkan, dan materi perlombaan yang diulang berkali-kali. Orang-orang sibuk dengan kecemasan masing-masing. Ada yang membaca. Ada yang menghafal. Ada yang berdiskusi. Ada yang diam, mungkin sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Shinta duduk di antara mereka. Matanya membaca. Pikirannya berusaha menyimpan. Tetapi tubuhnya meminta sesuatu yang lain. Tidur. Ia menahan kantuk seperti seseorang menahan pintu agar tidak didobrak angin. Satu jam. Dua jam. Malam semakin dalam. Pukul sepuluh lewat. Sebelas. Jarum jam terus bergerak dengan tenang, seolah tidak peduli kepada manusia yang sedang mempertaruhkan harapan. Lalu pukul dua belas. Tengah malam.

Rumah yang sejak tadi dipenuhi suara perlahan kehilangan penghuninya. Satu per satu orang berbaring. Buku ditutup. Percakapan berhenti. Sunyi mengambil kembali rumah itu. Shinta masih terjaga. Di tangannya, materi perlombaan masih terbuka. Di kepalanya, huruf-huruf mulai berjatuhan seperti daun tua. Ia mengusap mata. Ada saat ketika seseorang merasa bahwa tubuhnya adalah pengkhianat paling dekat. Ia ingin berjuang, tetapi tubuh meminta menyerah. Ia ingin terus membaca, tetapi matanya ingin menutup dunia.

Malam itu Shinta belajar bahwa perjuangan kadang tidak membutuhkan musuh. Cukup kantuk. Cukup lelah. Cukup rasa ragu yang tumbuh diam-diam. Ia teringat rumah. Entah mengapa, di tengah malam, rumah selalu terasa lebih dekat sekaligus lebih jauh. Ia membayangkan ibunya. Mungkin sudah tidur. Mungkin belum. Mungkin sedang memikirkan anaknya yang berada jauh dari rumah. Ia membayangkan ayahnya. Mungkin diam seperti biasa. Tetapi mungkin juga sedang menyimpan doa yang tidak pernah ia dengar.

Ada orang-orang yang mencintai kita dengan cara yang tidak bersuara. Dan barangkali doa adalah salah satu bentuk suara yang paling sunyi. Shinta kembali membaca. Malam terus berjalan. Ia tidak tahu kapan akhirnya matanya menyerah. Yang ia tahu, ketika suara azan subuh terdengar, malam telah selesai menjalankan tugasnya.

Azan subuh menebas keheningan. Suara itu datang seperti pisau yang membelah kain gelap. Shinta bangun. Air wudu menyentuh wajahnya. Dingin. Dan untuk pertama kalinya sejak malam, tubuhnya terasa kembali menjadi miliknya. Ia berdiri di hadapan Tuhan dengan tubuh yang lelah dan hati yang penuh. Di sujud terakhir, ia menyimpan doanya di tempat paling rendah. Ia meminta kelancaran. Ia meminta kekuatan. Ia meminta agar apa yang sudah dipelajarinya tidak hilang ketika dibutuhkan. Dan di antara permintaan-permintaan itu, ada satu yang ia ucapkan dengan suara paling sunyi. Semoga orang tuaku bangga.  Sebab terkadang seorang anak tidak benar-benar takut kalah. Ia hanya takut pulang membawa mata orang tuanya yang kecewa.

Setelah salam, hari yang dinanti akhirnya benar-benar datang. Perlombaan langsung memasuki babak final karena jumlah regu yang bertanding tidak banyak. Tidak ada waktu untuk mengintip kemampuan lawan. Tidak ada kesempatan untuk menunggu tubuh benar-benar pulih. Semua harus terjadi hari itu. Shinta duduk bersama kawan-kawannya. Wajah-wajah mereka menyimpan ketegangan yang sama. Mereka tahu bahwa persiapan belum sempurna. Shinta tahu itu. Bahkan ia merasa terlalu tahu. Materi yang dipelajari semalam belum seluruhnya matang. Ada bagian-bagian yang masih terasa rapuh dalam ingatan. Keraguan datang. Pelan. Kemudian membesar. Seperti air yang masuk melalui celah kecil di perahu. Namun di atas semua itu ada satu kata yang membuatnya tetap duduk tegak. Amanah. Ia membawa nama Loloda. Ia membawa nama regunya. Dan jauh lebih dalam daripada semua nama itu, ia membawa harapan orang-orang yang percaya kepadanya.

Maka Shinta maju. Bukan karena sudah tidak takut. Ia hanya tahu, ketakutan tidak akan pernah memberikan jalan keluar jika terus dipelihara. Perlombaan berlangsung. Pertanyaan datang seperti hujan. Jawaban menyusul. Waktu bergerak tanpa menoleh. Aneh, pikir Shinta, bagaimana sesuatu yang semalam terasa begitu sulit mendadak menemukan jalannya ketika saatnya tiba. Mungkin pengetahuan memang seperti doa. Ia tidak selalu terasa ketika disimpan. Tetapi ketika dibutuhkan, ia bisa muncul dari tempat yang tidak kita sangka. Shinta menjawab. Kawan-kawannya menjawab. Mereka saling menguatkan dalam diam. Dan ketika semuanya selesai, ia hanya bisa menarik napas panjang. Ia tidak tahu apakah itu cukup. Ia tidak berani berharap.

Pengumuman dibacakan. Nama-nama disebut. Angka-angka disampaikan. Shinta mendengarkan dengan dada yang kembali menjadi sangkar. Kemudian angka itu terdengar: 1.725. Sesaat ia tidak mengerti apa artinya. Kemudian ia melihat wajah kawan-kawannya. Mereka tersenyum. Ada yang berteriak. Ada yang memeluk. Barulah Shinta tahu. Mereka menang. Sesuatu yang semalam ia anggap mustahil telah berdiri di hadapannya dalam bentuk sebuah angka. Ia menangis. Air mata turun begitu saja, melewati pipi tembem yang kemerah-merahan. Ia tidak malu. Bagaimana mungkin seseorang menyembunyikan air mata ketika malam panjang akhirnya sampai pada pagi? Ia menangis untuk dirinya. Untuk kawan-kawannya. Untuk malam yang tidak tidur. Untuk buku-buku yang dibuka berulang kali. Untuk rasa takut yang akhirnya dilewati. Dan mungkin untuk kedua orang tuanya. Sebab pada saat itu Shinta mengerti bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang datang ketika nama kita disebut.

Kemenangan mungkin telah terjadi jauh sebelumnya. Ketika ia memilih untuk tetap membaca saat kantuk memintanya berhenti. Ketika ia memilih berangkat meski ragu. Ketika ia berdiri meski takut. Angka 1.725 hanyalah cara dunia mencatat sesuatu yang sebenarnya jauh lebih besar.

Pulang selalu punya rasa yang berbeda. Terutama setelah seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak ia sangka akan dirindukan. Tanah Ibu perlahan berada di belakang Shinta. Rumah inap yang semula menjadi tempat berteduh kini menjadi kenangan. Jalan yang dilalui saat pawai menjadi bagian dari ingatan. Teh hangat itu menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terasa sama ketika diminum di rumah. Dan malam. Ah, malam itu. Malam ketika rumah hampir seluruhnya tidur sementara Shinta masih terjaga dengan buku di tangan. Malam ketika ia merasa begitu lelah. Malam ketika ia diam-diam ingin pulang. Malam yang ternyata menjadi jembatan menuju sebuah kemenangan. Ia berpisah dengan teman-teman seregunya dalam suasana haru. Mereka telah menjadi lebih dari sekadar teman selama perjalanan itu. Mereka adalah orang-orang yang sama-sama menahan kantuk, sama-sama cemas, sama-sama berharap, dan akhirnya sama-sama menangis.

Ada perpisahan yang tidak benar-benar selesai ketika seseorang pergi. Sebab sebagian orang tetap tinggal di dalam ingatan. Begitu pula tempat. Tanah Ibu akan tinggal di dalam diri Shinta sebagai sebuah musim dalam hidupnya.

Namun perjalanan mereka belum berakhir. Masih ada tingkat selanjutnya. Masih ada panggung lain. Masih ada materi yang harus dikuasai. Masih ada malam-malam yang mungkin akan kembali memintanya mengorbankan tidur. Shinta tahu sekarang, kemenangan tidak pernah menjadi akhir. Ia hanyalah pintu. Dan setiap pintu yang terbuka selalu menyimpan jalan lain di belakangnya. Ketika kendaraan membawanya semakin jauh, Shinta menoleh melalui jendela. Tanah itu perlahan mengecil. Rumah-rumah menjadi titik. Jalan menjadi garis. Manusia berubah menjadi bayang-bayang. Tetapi semakin jauh ia pergi, semakin jelas sesuatu tumbuh di dalam dadanya. Rindu.

Ia akhirnya mengerti mengapa sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana ada sesuatu yang terasa ganjil. Bukan karena Tanah Ibu sedang memanggilnya. Mungkin karena ia sedang belajar meninggalkan sesuatu. Dan setiap kepergian selalu menyisakan lubang kecil yang kelak diberi nama rindu. Ia menutup mata. Membiarkan bayangan pagi, pawai, teh hangat, ayat-ayat suci, tengah malam, azan subuh, perlombaan, angka 1.725, dan wajah-wajah kawan-kawannya berputar sekali lagi dalam ingatan.

Barangkali kelak ia akan lupa sebagian pertanyaan yang diberikan dewan hakim. Barangkali ia akan lupa urutan materi yang dipelajari. Barangkali ia bahkan akan lupa warna seragam yang dikenakannya hari itu. Tetapi ia yakin tidak akan pernah lupa pada satu malam. Malam ketika semua orang tidur dan ia masih terjaga. Malam ketika rasa kantuk begitu berat, tetapi sebuah amanah membuatnya bertahan. Malam ketika di sebuah tanah bernama Ibu, ia untuk pertama kalinya memahami bahwa pulang bukan hanya perkara kembali ke rumah. Pulang adalah mengetahui untuk siapa kita berjuang. Dan malam itu, jauh sebelum ia meninggalkan Tanah Ibu, Shinta sebenarnya sudah menemukan jalan pulangnya. Jalan itu bernama doa. Jalan itu bernama keluarga. Jalan itu bernama keberanian kecil untuk tidak menyerah.

Kendaraan terus melaju. Tanah Ibu semakin jauh. Shinta membuka mata sekali lagi. Di kejauhan, tanah itu seperti menyimpan cahaya. Ia tersenyum. Tidak semua tempat yang kita datangi akan menjadi rumah. Beberapa tempat, entah bagaimana, akan menjadi bagian dari diri kita. Dan Tanah Ibu adalah salah satunya. Ia tidak tahu kapan akan kembali. Namun ia tahu satu hal, jika suatu hari ia menginjak tanah itu lagi, mungkin ia tidak akan datang sebagai anak perempuan yang sama.

Jailolo, 24 Agustus 2026.

________

Cerpen Shinta Kumil Laily Salim Ode | Shinta adalah siswa kelas X MAN Insan Cendekia Halmahera Barat.

Disalin

Pos Terkini

September 25, 2026
September 18, 2026
September 16, 2026
Agustus 14, 2026
Maret 23, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

by halmaheranesia
MENU
close