Waktu orang tambang mulai masuk kampung kami, banyak yang bilang ini tanda kemajuan. Jalan akan diaspal, anak muda bisa
Relokasi Rumah-rumah tua pagar-pagar beton jalanan berdebu mengudara di langi-langit tak berhati sedangkan orang-orang beranjak riang di kaki langit
Aku melihatnya pertama kali dari kejauhan—tanah yang menjorok ke laut seperti lidah yang dijulurkan untuk menjilat gelombang. Di atasnya
Dekadensi Sefrustrasi diriku masih saja aku mengucap nama-Mu : Tuhan Di rongga-rongga mulut manusia menggaung igauan apayamuka Senang sekali
Lelaki Kalap Dalam sebuah kata cinta yang telah mengartikan rindu kutau bahwa jarak dan waktu hanyalah suatu permainan orkestra
Bayang-Bayang Siang dan Malam (I) di suatu penelantara bayang-bayang siang dan malam segala macam serupa menampaki batas jalan raya
Aku Membawa Mayatku dan Hanya Itu I Aku membawa mayatku ke mana-mana, tapi aku tak tahu di mana keranda.
“Benarkah semua laki-laki memang sepertimu?” KALAU kecewa telah menghantam gadis-gadis kota, mereka akan percaya pada kebencian, seperti memaki lelaki,
Dukamu di Tengah Malam yang Dingin pada suatu malam yang dingin surat kabar dukamu melintasi samudra halmahera dikau
Lelaki Sunyi bila serangkai mata batin tersingkap dikau setengah curang dalam rindu di bawah senja menghias pancaran wajah
Di Desa kecil, tepat di unjung Pulau Halmahera Selatan hampir sebagian besar sudah dipadati orang-orang pertambangan. Keadaanya berantakan mirip
Sebab Mencintaimu buat Tan Sebab mencintaimu adalah anugerah aku tak ingin lagi menduga-duga dari mana bahagia itu datang ketika