Dukamu di Tengah Malam yang Dingin
pada suatu malam yang dingin
surat kabar dukamu
melintasi samudra halmahera
dikau tersedu-sedan,
menjelma dalam sukmaku
yang kian samar-samar,
meski semula tinggal tubuhku yang sudah busuk
lewat gemuru lautan dan langit gelap
telah menyisahkan tanda-tanda
dukamu yang nestapa
membawa kesepian dan kesakitan,
dikau terbaring dipangkuanku sedangkan aku keasyikan.
tanpa air mata dan cinta
matamu seakan menyaksikan
tubuhku diatas ranjang serba hitam itu
lewat ingatamu yang belum sirna
tetapi mataku senja
bagi cinta dukamu
giliran zaman musim kemarau
bayang-banyang pepohonan yang lapuk
diterjang angin kencang
tinggal sisa-sisa warna laut melukis matamu
lantas dikau,
mengapa selalu doyan dengan gaya ala-ala kolonialisme?
grusa grusu di rumah politik
dengan nyanyian-nyanyian lebih pedih dari kehilangan
(2023)
Rumah Hantu
dikau rumah hantu
tinggallah sebentar untuk hari ini
bersama hantu-hantu dari dunia asing
saling tatap di atas meja kayu yang sudah lapuk
dengan sihir dan wajah-wajah seram
lewat puisi dan cerita-cerita sejarah
mencuri tanah tinggal tanpa pamrih
membabat hutan-hutan bumi
tinggal air mata nampak di atas genting rumah
lautan berwarna dan pulau-pulau mati
orang-orang Halmahera
dari suara-suara mesin dan bau busuk,
atas nama investasi untuk bertahun-tahun
kian tinggal sisa-sisa dinding rumah hantu
dibawa tanah liat
(2023)
Kepada Sukmaku dan Sepotong Kenangan
sudah larut malam, aku setengah membatin
dari kedua matamu
berseloroh tentang sepotong kenangan
diantara sunyi dan hujan
jangan kau hidup dengan rindu
karena rindu adalah candu
yang membuatku tersesat dalam jarak
sedangkan kau tidak akan mengerti
sepotong kenangan ini tumbuh dalam jiwa
kau tidak akan mengerti
kebahagiaan dan kesedihan
dalam sunyi yang merepotkan
pada bayang-bayang sepotong kenangan
dunia tidak lagi terasa menyenangkan
di tengah kerumunan sebagai seorang pecinta
(2023)





