Halteng, HN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Maluku Utara bekerja sama dengan PT Analitika Kalibrasi Laboratorium (ANKAL) Bogor, Jawa Barat merilis hasil uji kualitas air Sungai Sagea, Halmahera Tengah.

Kepala DLH Malut, Fachruddin Tukuboya, mengungkapkan hasil pengujian telah menunjukkan seluruh parameter kualitas air masih berada sesuai Baku Mutu, hal ini berarti bahwa air Sungai Sagea pada kondisi dan kategori aman untuk digunakan.

Menurutnya, Sungai Sagea merupakan jenis sungai kelas 2, yakni sungai yang airnya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

“Tujuannya adalah mengkaji kondisi kualitas air Bokimaruru, menyediakan informasi yang kredibel kepada publik tentang kondisi kualitas air di Bokimaruru,” katanya dalam rilis yang diterima lewat konferensi pers melalui Zoom Meeting, Selasa, 12 September 2023.

Ia mengatakan, sampling dilakukan sesuai dengan SNI 8995:2021 tentang metode pengambilan contoh uji air, untuk pengujian fisika dan kimia. Lokasi sampling adalah 1 titik di sekitar Gua Bokimaruru (Aliran sungai yang keluar dari Gua Bokimoruru).

“Sampling dilakukan pada tanggal 18 Agustus 2023. Hasil sampling secara umum pada seluruh parameter dengan Baku Mutu Sungai Kelas 2 sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021,” jelasnya.

Seperti halnya laporan hasil uji kualitas air Sungai Sagea yang dilakukan Analitika Kalibrasi Laboratorium (ANKAL) tahun 2023. Berikut hasilnya.

Total Dissolced Solid (TDS), merupakan jumlah padatan terlarut, kandungannya harus berada dibawah 1000 mg/L untuk menjaga proses regenerasi oksigen serta fotosintesis makhluk hidup di perairan. Hasil pengujian menunjukkan TDS Sungai Sagea adalah 37 mg/L, masih berada di bawah Baku Mutu.

Total Suspended Solid (TSS) padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan-bahan organik dan inorganic yang dapat disaring dengan kertas millipore berporipori 0,45 μm. Yang termasuk TSS adalah lumpur, tanah liat, bakteri dan jamur. TSS memberikan kontribusi untuk kekeruhan (turbidity). TSS sungai sagea 34 mg/L, masih berada di bawah baku mutu 50 mg/L.

pH Merupakan derajat keasaman air, pH air harus dijaga pada keadaan normal (6-9). Hasil pengujian menunjukkan pH masih berada pada rentang normal (7,21) derajat keasaman yang stabil, menunjukkan air mengalir tidak melewati sedimen/batuan yang bersifat asam.

Biochemical Oxygen Demand (BOD) parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air. BOD hasil pengujian (<1 mg/L), masih berada jauh di bawah baku mutu (3 mg/L) sehingga masih dapat mendukung proses penguraian secara alamiah di Sungai Sagea.

Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik. Hasil pengujian menunjukkan nilai COD (7,4 mg/L) masih berada dibawah baku mutu (25 mg/L).

Kondisi COD ini membantu menjaga kandungan oksigen terlarut, sehingga proses mikrobiologis dapat berlangsung dengan baik.

Dissolved Oxygen (DO) adalah kandungan oksigen terlarut, dimana semakin tinggi kandungan oksigen maka akan baik bagi kehidupan biota perairan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa DO 5,66 mg/L, masih berada pada kondisi yang baik sesuai dengan Baku Mutu.

Logam Berat Hasil pengujian parameter logam berat menunjukkan bahwa seluruh parameter berada di bawah Baku Mutu. Hasilnya adalah Hg (0,0004 mg/L), Se (<0,01 mg/L), As (<0,01 mg/L), Fe (0,4 mg/L), Cd (<0,001 mg/L) , Co (<0,005 mg/L) , Mn (0,07 mg/L), Ni (0,03 mg/L), Zn (<0,01 mg/L), Pb (<0,01 mg/L), Cu (0,007 mg/L), dan Mg (<1 mg/L).

Kandungan logam berat ini apabila berada di atas Baku Mutu dan pada konsentrasi yang tinggi, jika mengendap di dalam tubuh berpotensi menyebabkan berbagai penyakit toksik dan karsinogenik.

Bagikan:

Iksan Muhamad

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *