Halmaheranesia – Di bawah bayang-bayang rinai hujan malam itu, suara Nurmianti seperti terbata-bata saat menuturkan nasib sang suami yang ditangkap polisi usai melawan perusahaan tambang nikel, PT Position, di Maba Sangaji, Halmahera Timur, Maluku Utara.
Suami Nurmianti bersama 10 warga lainnya ditangkap polisi pada Minggu, 18 Mei 2025. Mereka yang melakukan aksi penolakan itu ditangkap dengan tuduhan membawa barang-barang tajam. Kini status hukum mereka dijadikan sebagai tersangka.
11 Warga Penolak Tambang di Halmahera Ditetapkan Jadi Tersangka
“Saya kecewa, mereka itu tidak bersalah. Torang (kami) pe (punya) hidup hanya berharap di torang pe suami. Torang pe anak pe sekolah, hidup sehari-hari. Tapi mereka disiksa dan ditahan,” ucap Nurmianti, dalam sesi diskusi pada Rabu, 18 Juni 2025 bersama istri dari warga lain yang ditangkap polisi.
Diskusi ini dibuat di Kedai Coffe Sua, Benteng Oranje, Kota Ternate.
Cuaca malam itu sedikit gerimis. Sebelum malam benar-benar larut, ada sekitar lima perempuan duduk di bawah lampu temaram, membelakangi spanduk bertuliskan, “Bebaskan 11 Tahanan Politik Warga Maba Sangaji”.
Kesaksian Warga Ditangkap Polisi saat Aksi Tolak Tambang di Halmahera
Para istri dari mereka yang ditangkap polisi itu berusaha mengeja sekuat tenaga cerita para suami yang berjuang membela hutan dan tanah adat. Empat dari mereka berbagi cerita. Satunya lagi memilih diam, hanya menunduk, seolah tak sanggup untuk bertutur.
Asnia Salamudin dalam forum itu tak setuju pernyataan polisi yang menyebut “preman”. Bagi Asnia, warga di Maba Sangaji adalah pejuang lingkungan dan masa depan anak-cucu.
“Di sini torang mau bilang bahwa torang pe orang tua-tua, saudara-saudara, itu bukan preman, dong (mereka) itu hanya ingin pertahankan tanah leluhur yang memang sudah dari sana (diwariskan),” tutur Asnia.
Kini tanah yang diwariskan untuk anak-cucu itu mulai porak-poranda karena perluasan industri tambang nikel. Pohon-pohon tumbang dihantam alat-alat berat perusahaan. Sungai dan hutan yang menjadi bagian dari kehidupan orang-orang Maba Sangaji pun ikut terdampak.
“Nah terus, besok-besok torang mau berkebun makan lewat apa. Kalau torang mau pigi (pergi) kebun torang so tra (sudah tidak) bisa makan sudah,” kata Asnia.
Ia pun mengajak mereka, terutama peserta diskusi yang datang agar bersama-sama ikut menjaga tanah yang sudah diwariskan untuk anak-cucu Maba Sangaji dari ancaman industri tambang nikel.
Begitu juga yang dituturkan Jumiati Lakambori. Ia mengungkapkan air sungai di Maba Sangaji sudah tidak seperti dulu.
Teringatnya, sebelum hutan dihantam alat-alat berat perusahaan, sungai tersebut masih rutin dipakai untuk mandi dan mencuci pakaian. Kini, warna sungai Maba Sangaji tak sejernih dulu lagi.
“Dulu torang pigi bacuci (mencuci), anak-anak mandi, sekarang sudah berubah warna. Kami berharap saudara-saudari, teman-teman semua, keluarga kami jangan berputus asa untuk mendukung suami-suami kami,” ungkap Jumiati.
Dukungan itu tentu sangat diharapkannya. Bagaimana tidak, hanya dari tangan sang suami, ia dan anak-anaknya dapat melihat asap kembali mengepul dari dapurnya.
Cerita dan harapan yang sama datang dari Kamaria Malik. Bagi Kamaria, suaminya tak pantas ditangkap karena berjuang menjaga ruang hidup.
“Torang pe laki (suami), torang pe orang tua, torang pe saudara-saudara dong cuman pertahankan dorang pe ruang hidup. Kasihan torang pe pala yang dipinggir kali (sungai), sudah mati, karena banjir air naik,” katanya.
Tak hanya itu dampak dari pembukaan lahan perusahaan. Kamaria mengaku, sungai Maba Sangaji yang dulunya kerap digunakan untuk mengolah sagu, kini sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan.
Kesedihan melihat ruang hidup yang kian parah itulah yang membuat mereka memilih berjuang mengusir perusahaan tambang.
“Torang cuman pertahankan yang itu. Kemarin-kemarin torang pe kali (sungai) di sana, itu orang bikin sagu, mau bahalo (mengolah sagu), itu orang pakai air (sungai) itu, tapi sekarang itu sudah tidak bisa,” ucap Kamaria, dengan nada sedikit geram.
Ia memang geram, tak kuasa menyaksikan hutan dan tanah yang menjadi tumpuan hidup, kini dalam wajah yang muram, benar-benar muram, hancur dihantam tambang.
____
Catatan redaksi: Kami meminta maaf, narasumber atas nama Asnia Salamudin hadir menjadi pembicara diskusi bukan sebagai istri dari suami yang ditangkap polisi. Dalam forum tersebut, Asnia hadir menyampaikan nasib yang dialami dua kakak kandungnya dan keluarganya yang juga ikut ditangkap polisi. Sehingga itu, kami telah mengeditnya dan menghapus bagian kalimat yang menyebutkan suami Asnia juga ditangkap.
____
Reporter: Musmaulana | Redaktur: Ajie





