Halmaheranesia – Kepala Rutan Kelas II B Soasio, Tidore Kepulauan, David Lekatompessy, menjelaskan awal mula kejadian dugaan pemukulan warga adat Maba Sangaji pada Senin, 20 Oktober 2025.
Dalam pemberitaan sebelumnya disebutkan, peristiwa itu pertama kali diketahui dari laporan Sahil Abubakar alias Ilo, salah satu warga adat Maba Sangaji yang menjadi narapidana dalam kasus penolakan tambang nikel PT Position.
Melalui sambungan telepon sekitar pukul 12.38 WIT, Ilo mengatakan bahwa dirinya sempat menanyakan jadwal pembebasan yang direncanakan pada Kamis atau Jumat pekan ini.
Namun, petugas rutan menjawab bahwa pembebasan masih menunggu konfirmasi dari pihak kejaksaan. Tak lama kemudian, Ilo dipanggil oleh petugas.
“Sekitar pukul 12.45 WIT, Ilo kembali menelepon dan mengabarkan bahwa dirinya bersama Jamaludin Badi alias Jamal (narapidana lain) telah dipukul oleh petugas rutan,” Kata Wetub Toatubun, perwakilan Tim Advokasi Anti Kriminalisasi (TAKI).
Wetub menyebutkan, Jamal dipukul hingga mengalami luka di wajah, sementara Ilo dan beberapa tahanan lain juga mendapat dorongan serta pukulan. Foto yang diterima tim advokasi memperlihatkan wajah Jamal lebam, bibir pecah, dan mata bengkak.
Kepala Rutan Kelas II B Soasio, Tidore Kepulauan, David Lekatompessy, mengatakan awalnya adu argumen antara Sahil Abubakar dan Jamaludin dengan Kepala Pelayanan Tahanan (Kapelta), Rahman.
“Karena menurut mereka, mereka ini kan diputuskan 5 bulan 8 hari. Lalu Kapelta telepon Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Halmahera Timur. Lalu menurut Kasi Pidum, 8 orang saja yang bebas hari Jumat besok ini, nanti 3 orang menyusul,” ucap David.
Ia menyebutkan, setelah mendapat jawaban itu, para narapidana kemudian masih mempertanyakan mengapa tiga terpidana lain masih ditahan, padahal mereka sama-sama ditahan dengan durasi penahanan yang sama.
“Ternyata yang tiga orang ini ada mempunyai masalah lain, jadi tiga orang ini dua bulan lagi, dan itu pengacara tahu,” ungkapnya.
Selanjutnya, saat sedang adu argumen, tiba waktu salat duhur. Pihak rutan meminta para narapidana untuk segera salat, karena itu sudah menjadi kewajiban di lingkungan rutan.
“Cuma Jamal bilang nanti baru salat. Tapi selama ini kalau sudah masuk jam salat ya salat, jadi terjadi percekcokan di situ,” katanya.
“Mungkin entah ada yang kasih keluar kata kasar atau apa, saya juga tidak tahu. Jadi saat adu argumen itu, mungkin petugas keluarkan kalimat begitu, lalu Jamal pukul duluan, ada rekaman video CCTV. Jamal dorong (pipi petugas),” papar David.
Menurutnya, saat itu hanya seorang petugas yang memukul Jamal, dan petugas lain di lokasi mencoba untuk melerai.
Pihak rutan mengaku akan menyeriusi masalah jika terbukti petugas mereka bersalah. Namun, sebaliknya, jika para narapidana ingin membawa masalah ini ke ranah hukum, maka pihaknya akan melaporkan balik karena merasa petugas mereka yang mendapat pemukulan terlebih dahulu.
Cerita dari Jamaludin
Jamaludin menceritakan, awalnya mereka memang ingin menanyakan soal kepastian kapan mereka dibebaskan. Namun, pihak rutan menjawab bahwa yang akan bebas terlebih dahulu 8 orang, sementara 3 lainnya belum.
“Informasi ini kemudian saya langsung bersama Sahil Abubakar meminta ke pihak rutan untuk meminta waktu telepon, menghubungi langsung pihak jaksa dan PH (penasihat hukum),” tutur Jamal.
“Di tengah proses apa yang kami sampaikan ke PH itu, kemudian salah satu petugas dari sipir, datangi torang (kami), lalu suruh torang (kami) untuk segera sembahyang,” sambungnya.
Ia pun menyahut akan melaksanakan salat usai menghubungi penasihat hukumnya. Sebab menurutnya hal itu penting untuk dituntaskan terlebih dahulu.
“Torang juga sudah dikasih kesempatan oleh kepala pengamanan rutan untuk telepon PH. Ketika saya kasih tahu itu (ke petugas sipir), dia juga langsung dengan keras memaki saya,” ungkapnya.
Setelah mendapat ucapan caci maki, Jamal lalu mendatangi petugas tersebut dan mendorongnya, perkelahian pun tak terhindarkan.
Ia pun membantah keterangan pihak rutan yang mengatakan tidak terjadi pengeroyokan.
“Saya di dikeroyok, bukan melerai, dikeroyok oleh sebagian petugas. Dan pada saat itu, saya punya ibu mencoba untuk melerai, dan dia juga termasuk kena pukulan oleh petugas,” jelasnya.





