Mereka datang tanpa dialog. Demokrasi telah mati di tanah yang kaya nikel. Seperti kata Yudi Latif, “Industrialisasi masuk, warga setempat dianggap tidak ada. Mereka terusir dari tanah sendiri, kehilangan akses pada lahan, sehingga menjadi orang yang paling miskin.”
Kami melaju dengan motor menuju sisi timur PT IWIP, tepat di belakang Kampung Gemaf. Di sana ada bangunan yang dulu ditempati aparat penjaga investasi Proyek Strategis Nasional. Sejak era Presiden Jokowi, kawasan ini ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional yang harus dijaga ketat aparat.
Bangunan itu, pintu depannya dipagari setinggi sekitar 3 meter. Saat kami melewati gerbang, hanya ada sebuah kursi usang yang berdiri kokoh. Di sampingnya, pos kecil yang hampa, tanpa manusia. Kami disambut kursi kosong, tanpa penjaga.
Matahari belum di atas kepala, tapi teriknya sudah menyengat. Cuaca hari itu sangat cerah, tapi menyesakkan.
“Di sini so tara ada dia pe penjaga ka?” saya melempar tanya.
“So tarada… hanya ada sekuriti tadi di gedung sebelah yang ada motor tu,” jawab pria yang mengantar kami ke kebunnya.
Akhir-akhir ini suhu bumi makin naik akibat perubahan iklim. Saya percaya itu. Coba saja buka Google, di sana banyak data tentang kenaikan suhu yang mengkhawatirkan semua makhluk penghuni bumi.
Dari arah timur bangunan itu, jelas terlihat aktivitas perusahaan raksasa. Asap dari cerobong pabrik menyembur konsisten dan tebal. Mobil-mobil merah keluar masuk dari gerbang besar. Di dalamnya, tempat penampungan batu bara. Asap itu bebas beterbangan, tanpa malu.

Sejak bangunan ini berdiri, Max Sigoro dan istrinya harus berhadapan dengan sekuriti, sesekali bertemu tentara. Kini, ini satu-satunya akses jalan menuju kebun. Dulu jalannya dekat. Sebelum perusahaan menggusur hutan dan kebun milik warga Gemaf yang terlanjur melepas tanah. Kini mereka harus memutar jauh, lewat pos batalyon, baru sampai di kebun yang jadi penopang hidup.
Kisah Kebun Terakhir
“Dulu itu dekat saja, tong kamari di kobong. Sekarang harus ron jaoh, karna jalan yang dulu dong so gusur. Makanya tong harus masok lewat pos batalyon baru kamari di kobong,” ucap Max.
Kebun terakhir yang berbatasan langsung dengan PSN Hilirisasi Nikel adalah ujian bagi Max, 49 tahun, dan istrinya. Mereka hidup dalam bayang-bayang kegundahan. Ini aset masa depan yang masih bertahan di tengah gempuran investasi ekstraktif.
“Kebun ini ibaratkan anak saya. Kalau kebun ini harus dibayar perusahaan, sama halnya saya menjual anak saya.”
Pernyataan itu Max ucapkan tepat di tengah kebunnya, yang kini hanya berjarak selemparan batu dari area kerja PT IWIP. Lagi-lagi ia terjebak dalam kapitalisme yang jauh dari bayangannya. Ia hanya ditabrak kekhawatiran.
Ia bersikukuh menolak, meski berulang kali dibujuk melepas kebun yang ditanami pala, cengkeh, cokelat, langsat, dan kelapa. Ia berkisah, sering mendapati karyawan perusahaan masuk dan mengambil hasil kebunnya.
“Karyawan dong jaga pancuri pala. Kalau langsat babua, dong jaga pancuri lagi,” ucapnya kesal.
Dia bilang bibit pala itu dia ambil dari Patani, tahun 2012. Total 1.500 pohon, ada yang anakan, ada yang dari biji pilihan terbaik. Selama hidup, kebun inilah sumber penghidupannya.
Dulu, tiap panen ia bisa dapat 150–200 kilo pala. Cokelatnya bisa 100 kilo. Tapi itu dulu. Penurunan hasil ia rasakan sejak 2023, setelah 2018 perusahaan menancapkan kuasanya, didukung negara dan aparat.
Sekarang masa panen menurun. Kalau dulu ia bisa menjemur di terpal besar, kini cuma muat di atas karung. Hasilnya jauh beda.
Max dan istrinya adalah petani dan nelayan yang masih bertahan. Kalau tidak ke kebun, mereka melaut. Jadi petani dan nelayan adalah dua profesi yang melekat pada orang Maluku Utara. Ini budaya kami.
Max dan istrinya adalah keluarga yang konsisten menjaga ruang hidup. Mereka mungkin termasuk “orang-orang kalah” di tanah Sawai, seperti yang ditulis Roem Topatimasang: kekuasaan, pemodal, dan politik merenggut tatanan hidup Masyarakat Adat Sawai di Halmahera Tengah. Perusahaan datang, semuanya hilang.
Hidup dalam bayang-bayang industri adalah kegundahan Max. Ia diselimuti ketakutan kebunnya bernasib sama dengan teman-temannya: kebun digusur tanpa ganti rugi yang adil, ada yang diserobot begitu saja.

Ia meringis. Di tengah kebun, suara burung yang dulu menemaninya kini kalah oleh deru mesin buldoser yang menggali tanah hanya 20 meter dari kebunnya.
Tak jarang ia mendapati daun tanaman tertutup abu industri. Debu itu menghalangi fotosintesis. Ia menduga, penurunan hasil panen akibat aktivitas perusahaan yang terlalu dekat.
Max dan kebunnya seperti hanyut di tengah samudra, bertahan pada sebatang kayu. Terombang-ambing kuasa pemodal. Ia masih berharap kebunnya jadi sumber produksi untuk anak-cucunya. “Kebun itu tabungan masa depan,” ucapnya.
Sejak 2018 IWIP menancapkan kuasa modalnya. Banyak kisah pahit yang Max lihat dan rasakan. Kisah penyingkiran komunitas Sawai ini sudah ditulis dalam buku Kisah Orang-Orang Kalah: Kisah Penyingkiran Masyarakat Adat di Maluku.
Akumulasi primitif. Terpaksa jadi tunakisma di tengah penaklukan kuasa modal. Max hanyalah orang biasa yang berharap pada sumber produksinya. Kerelaan kehilangan kebun akan jadi sejarah kelam baginya.
Akses ke kebun kami lewati tepian jurang, berjalan di atas tanah galian perusahaan. Ini satu-satunya jalan. Ia benar-benar merasa sendiri. Dulu ia masih bisa menyapa tetangga kebun, melantunkan baule. Kini budaya itu tak akrab lagi di telinga. Baule ditelan mesin ekstraktivisme.
“Saat ini seolah masa depan adalah waktu yang kosong dan tidak ada penghuni. Pemerintah Indonesia bebas mengeruk dan menghabisi sumber daya alam, seolah pada masa depan nanti tidak ada manusia lagi. Indonesia sangat jahat.” — Yudi Latif.
___
*Setiap tulisan yang diterbitkan di rubrik “Perspektif” bukan produk jurnalistik dari wartawan halmaheranesia atau pandangan redaksi.





