Apa alasan untuk menyuruh orang membaca, alasan itu saya dapatkan langsung dari mulut seorang sastrawan Muhidin M. Dahlan, ketika mengarsip di Radiobook miliknya pada tahun 2017 di Yogyakarta. Gus, begitu para komunitas literasi memanggilnya, ia bilang, apa alasanmu untuk menyuruh orang membaca, emang dengan membaca orang akan sadar, pintar, atau lainnya, saya lupa-lupa ingat.
Saya ketika mendengar itu, benar juga, untuk apa semua itu, buku-buku itu dibaca, saya juga tidak suka membaca, berapa persen orang di Indonesia ini suka membaca, atau data-data hadir dari penelitian orang Indonesia yang suka membaca.
Semua orang tahu membaca itu sangat membosankan, tidak menarik sama sekali, itu yang saya pahami ketika masih duduk di bangku sekolah, 2010 saya beranjak dari Maluku Utara lalu berkuliah di Yogyakarta, di sana saya menyadari betapa berharganya sebuah buku, satu yang bisa kita amati yaitu lingkungan. Selama berkuliah lingkungan itu mempertemukan pengalaman dan gagasan.
Membangun kesadaran, membentuk cakrawala, dari sana jatuh cintalah saya pada pandangan pertama yaitu buku Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Jibril Tidak Pensiun”. Buku itu diberikan oleh senior saya, Lalu Muhammad Iqbal, pria keturunan “Lalu” dari Lombok, “Bung Teguh baca buku ini, agar tidak tersesat,” dengan nada bercandanya. Saya membaca, seingat saya, di bawah pohon ketapang kampus UMY, setelah membacanya saya benar-benar terbuka otaknya.
Pengalaman pertama saya dengan buku itu membawa banyak perspektif pada ruang-ruang diskusi dan diskursus, lalu mengenal banyak penulis dari berbagai macam genre penulis. Bahkan doktrin senior, kurangi beli pakaian, perbanyak beli buku. Doktrin itu saya terima dan menjalaninya ketika kiriman datang dari Maluku Utara, saya sisipkan untuk membeli buku.
Buku mungkin bagian dari cerita kata hari ini, siapa tidak mengenal setiap kata-kata, setiap sejarah, bahkan bentuk beragam eksperimen untuk mempelajari ruang dan waktu semua dimulai dari buku, kata, lalu pencatatan, sehingga terjadi lintas generasi peristiwa.
Peristiwa perjumpaan saya dengan buku dimulai dari Jogjakarta bukan dari Maluku Utara, saya menyukai buku dari Jogjakarta bukan dari Maluku Utara, saya bertemu ruang literasi dari Jogjakarta bukan dari Maluku Utara.
Maka penting bagaimana literasi menemukan jalannya, saya justru melihat jarang di Maluku Utara para senior yang suka menulis dan menyukai literasi, yang benar-benar hidup dari pergerakan literasi, di Yogyakarta Muhidin M. Dahlan hingga detik ini masih setia melakukan kerja-kerja kebudayaan dan pengarsipan, ia mengarsipkan buku, majalah, koran, dan catatan tercecer dari Pramoedya Ananta Toer. Hal sama dilakukan Zen RS, masih setia pada kerja yang sama, buku, kebudayaan, dan pengarsipan, atau para dosen yang serius menggeliat perpustakaan rumahan yang bisa dikunjungi oleh penggerak mahasiswa dan pecinta buku. Yogyakarta menciptakan suasana itu, apakah Maluku Utara melakukan hal yang sama, kalaupun ada mungkin ada, tapi kita pasti perlu mempelajari bagaimana buku dan industri bisa bertemu, ini bisa dibahas pada tulisan yang lain.
Ketika mendengar bahwa Maluku Utara akan mengadakan kegiatan Bookfest Malut, ini adalah momentum yang kuat untuk memperbaiki ruang literasi, gerakannya perlu sampai pada akar rumput. Perlu melahirkan kembali para genetik baru, semisal penulis-penulis muda, penyair, novelis, cerpenis, dan juga kolumnis.
Namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan yang akan dimulai kegiatan ini sebisa mungkin harus menjadi sebuah gerakan festival buku yang bukan hanya berdiri di satu generasi, gerakan ini harus menyentuh seluruh lintas generasi.
Jangan sampai ia hanya menjadi ekspedisi festival yang seremonial, menjadi momentum forum pertemuan buku dan para penulis tua yang terkesan eksklusif.
Kita perlu mendata, berapa jumlah komunitas pergerakan literasi yang masih aktif di Maluku Utara, menginventarisir jumlah penulis dari lintas generasi sampai hari ini. Jika tidak maka yang dikatakan Muhidin ada benarnya.
Apa alasanmu menyuruh orang membaca? Jika membaca itu penting maka seberapa penting untuk bangsa dan daerah ini.
Zen RS pernah bilang yang berbahaya dari rendahnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar, hal sama juga pernah disampaikan oleh Katrina Supelli, astronot pertama Indonesia, menjamurnya budaya komentar tanpa substansi bagian dari kemunduran literasi. Pentingnya membaca adalah menyusun tembok-tembok yang rusak tersebut.
Pentingkah membaca?
____
Penulis: Teguh Barakati | Penulis Lepas
____
*Setiap tulisan yang diterbitkan di rubrik “Perspektif” bukan produk jurnalistik dari wartawan halmaheranesia atau pandangan redaksi.





