Aku melihatnya pertama kali dari kejauhan—tanah yang menjorok ke laut seperti lidah yang dijulurkan untuk menjilat gelombang. Di atasnya berdiri ekskavator dan truk, seperti binatang besi yang sibuk membangun sesuatu tanpa suara. Mereka menyebutnya jetty. Tapi bagiku, itu seperti luka yang dibuka paksa, lalu disumbat dengan timbunan batu—seolah laut tak berhak lagi bernapas.
Tak ada pengumuman. Tak ada arwahan—doa bersama untuk meminta restu dari arwah leluhur dan alam. Orang perusahaan datang, membawa map dan cerita yang katanya ringan—mereka bilang mau bikin kandang ayam. Tapi pagi berikutnya, lima ekskavator datang. Hari berikutnya, dua traktor. Lalu truk-truk besar berdatangan seperti iring-iringan yang tak pernah dijanjikan. Siang harinya, pantai sudah dipetak dan ditandai. Warga banyak yang tak tahu, karena tak pernah diajak bicara. Kepala desa juga terkejut, tapi langkah kakinya selalu lebih cepat ke arah kantor perusahaan dibanding ke rumah-rumah warga. Diamnya seperti kesepakatan yang tak pernah ditulis.
Langit hari itu mendung, tapi tak menyejukkan. Angin membawa bau tanah basah yang diangkut dari tempatnya semula. Aku berdiri di ujung pasir, tempat dulu kami berlari mengejar kepiting-kepiting kecil, menatap hamparan yang kini tak lagi dikenal oleh tubuhku sendiri.
Dulu, jika purnama datang, aku suka melihat rusa-rusa yang turun dari hutan, minum di mulut sungai dan bekejaran di pesisir pantai. Dulu, kami menunggu penyu datang dan diam-diam menggali lubang, menaruh telur dengan pelan atau beberapa kita rebus, makan. Kini suara mesin menggantikan suara ombak. Dan tanah yang dulu lembut kini mengeras, dipadatkan oleh roda-roda yang tak kenal jeda.
Mereka bilang jetty itu penting, agar kapal tongkang bisa merapat dan tambang bisa jalan. Tapi tak ada yang bicara tentang pasir yang hilang, tentang kelapa yang digusur, tentang pandan laut yang digilas rata.
Aku berdiri di sana, diam. Di tanganku, helm proyek. Di dadaku, sesuatu yang pelan-pelan seperti remuk. Aku datang tidak sebagai warga, tapi sebagai operator. Tugasku menekan pedal, bukan bertanya. Dan di bawah kakiku, pantai yang pernah menghidupi tubuh kami, kini diam tak bisa membantah.
Semua ini bermula dari kunjungan-kunjungan senyap ke kebun kelapa. Orang perusahaan datang dengan percakapan kecil di bawah pohon dan tawaran ringan: mereka bilang ingin membangun kandang ayam. Butuh sedikit tanah saja, katanya, nanti bisa diatur. Tak ada rapat kampung, tak ada berita yang menyebar, hanya bisik-bisik yang akhirnya menjadi pondasi dari sesuatu yang tak bisa dibatalkan.
Beberapa orang mengangguk. Beberapa lainnya saling pandang, diam. Aku sendiri duduk di belakang, dekat jendela yang menghadap laut. Angin masuk perlahan, membawa bau kelapa muda dan sisa asin dari air surut. Di luar, ombak kecil terdengar seperti suara orang tua yang bergumam.
Dua minggu kemudian, alat berat datang makin banyak. Tidak ada ayam. Tidak ada pagar bambu. Yang datang justru batu dan tanah. Pesisir yang dulu kami injak tanpa ragu kini ditimbun, ditindih dan diratakan. Dan yang lebih menyakitkan, beberapa orang mulai berkata, “Memang lebih baik begini. Daripada tanah kosong, lebih baik jadi uang.”
Ibuku tidak pernah ikut rapat-rapat itu. Tapi suatu pagi ia berkata sambil menyapu halaman, “Kalau kita jual kebun kelapa, sama saja kita jual tubuh kita.” Kalimat itu pelan, tapi seperti dihantamkan ke dinding dadaku.
Aku ingin membantah, tapi tak punya kata. Aku sudah terlanjur menerima pekerjaan sebagai operator. Dalam hati aku bercita-cita ingin membeli motor dan handphone, agar terlihat seperti orang kota. Tapi setiap kali aku melewati halaman rumah-rumah yang tanahnya mulai ditandai patok-patok kayu, ada yang menggeliat dalam perutku, seperti rasa lapar yang tak bisa disuapi.
Beberapa warga diam saja. Bukan karena setuju, tapi karena lelah. Mereka tahu, kadang, yang lebih menyakitkan dari kehilangan adalah harus pura-pura baik-baik saja.
Pohon kelapa itu tumbuh sendiri di tepi pantai, tinggi dan miring sedikit ke arah laut, seolah sedang menunduk memberi hormat pada gelombang. Kata orang tua-tua, ia tumbuh dari buah yang terbawa ombak, tanpa ditanam, tanpa dipatok. Ia hidup dari pasir dan cahaya, dan semua orang merasa memilikinya.
Hari ini, aku disuruh merobohkannya.
“Langsung sikat saja,” kata mandor. “Biar jalur jetty bersih.”
Aku naik ke dalam ekskavator. Mesin menyala, tuas dalam genggaman. Tapi mataku tertumbuk pada siluet kelapa itu, berdiri sendirian seperti bapak tua yang tetap menjaga halaman meski rumahnya sudah lama rata.
Aku ragu. Bukan karena takut. Tapi malu.
Dulu, di bawah pohon itu aku mengejar kepiting-kepiting kecil, bermain seperti laut tak akan pernah berubah. Kepiting-kepiting itu bergerak pelan, tangannya terangkat, badannya membulat seperti cangkang dunia yang sederhana. Dan kini, aku mengemudikan ekskavator—mesin besar yang bentuknya mirip: tangan menjulur ke depan, badan menggembung di tengah. Tapi jika kepiting mengaduk pasir untuk hidup, ekskavator menggali bumi untuk menguburnya.
Aku teringat masa kecil—ayah memanjat pohon kelapa sambil bersiul. Aku duduk di bawah, menunggu buah jatuh. Kadang kami makan langsung dari batoknya, airnya dingin, manis, menyegarkan. Sekarang aku membawa mesin yang akan memutus akar dari ingatan itu.
Klakson truk berbunyi dua kali. Aku tekan tuas perlahan. Gigi besi menyentuh batang kelapa. Ada jeda. Lalu bunyi retak yang terdengar seperti tulang patah dalam dada sendiri.
Kelapa itu tumbang. Perlahan. Tenang. Tanpa suara gaduh. Daun-daunnya menggaruk tanah, aku turun dari kabin dengan napas yang tidak utuh. Tak ada yang bersuara. Tapi aku merasa pasir di sekitarku menjadi lebih dingin.
Dan dalam diam itu, tubuhku sendiri seperti kehilangan satu poros yang tak bisa kutanam ulang.
Senja datang pelan, membawa angin yang basah dan cahaya yang seperti diperas dari langit mendung. Aku duduk di atas karung bekas beras, tak jauh dari garis air. Di depan, ombak kecil datang dan pergi, tapi tak pernah sampai menepuk kakiku. Mereka seperti takut, atau mungkin enggan menyentuh jejak sepatu pekerja di pasir.
Seorang anak kecil duduk tak jauh dariku, menggambar sesuatu di pasir dengan ranting. Ia tidak bicara. Tapi dari gerakan tangannya, aku tahu: itu penyu. Kepalanya bulat, tempurungnya lonjong, dan ekornya kecil. Ada telur-telur kecil di belakangnya, deret melingkar yang nyaris sempurna.
“Dulu penyu datang malam-malam,” kataku pelan. Anak itu menoleh, tapi tak menjawab. Ia melanjutkan menggambar. Lalu ia bertanya, “Kenapa sekarang mereka tidak datang lagi, Om?”
Aku diam. Apa yang harus kujawab? Karena pasir sudah dikeraskan? Karena lampu-lampu proyek menyilaukan mereka? Atau karena kami sendiri yang mengusirnya, perlahan, dengan suara mesin dan bau solar?
“Penyu suka tempat gelap,” kataku akhirnya. “Tempat yang tenang.”
Anak itu mengangguk pelan. Lalu, seolah tak mau menunggu lebih lama, ia menulis di pasir di bawah gambar penyu itu: “jangan ganggu dia.”
Aku tersenyum, tapi senyum itu seret. Ombak datang sedikit lebih besar. Telur-telur penyu yang digambarnya terhapus separuh. Anak itu hanya melihatnya sebentar, lalu berkata ringan, “Tak apa. Nanti saya gambar lagi.” Dan entah kenapa, kalimat itu terasa lebih tajam dari bunyi pohon kelapa tumbang.
Aku memandangi laut yang makin kelam. Dulu aku sering berenang di sana, menyelam mencari kerang, atau sekadar memanah ikan. Kini airnya terlihat berat, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin disentuh siapa pun.
Di belakangku, ekskavator masih berdiri. Diam. Tapi seperti terus mengawasi. Dan suara mesin yang jauh di ujung jetty terdengar seperti detak jantung yang tak mau berhenti.
Aku menunduk. Anak itu kini menggambar sesuatu yang lain. Mungkin rumah. Mungkin perahu. Atau mungkin kampung yang ia kenal tapi tak ingin ia lihat berubah.
Dan aku tetap di sana, diam. Karena hanya itu yang tersisa, jika kata-kata sudah tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.
Pagi berikutnya, aku datang lebih awal dari biasa. Laut belum sepenuhnya bangun. Sinar matahari baru memantul di ujung air, samar-samar seperti cahaya dari mimpi yang tak selesai. Udara dingin menyentuh kulit, dan pasir masih lembap oleh embun semalam.
Ekskavator berdiri di tempatnya, diam tapi siap. Seperti anjing penjaga yang tahu kapan harus menggonggong. Aku menatapnya dari kejauhan, lalu duduk di batu panjang yang separuh tenggelam di pasir. Di belakangku, suara burung pipit terdengar pendek, tergesa. Seolah mereka tahu: hari ini akan ada yang digusur lagi.
Orang perusahaan datang satu-satu. Mandor mengangguk padaku. “Jalur ke sisi barat harus dibuka hari ini,” katanya. Aku tak menjawab. Aku hanya menatap laut.
Aku tahu garis itu. Garis yang akan ditarik hari ini melintasi bekas sumur tua, melintasi rumpun pandan yang dulu dipakai ibuku untuk menganyam tikar. Di ujungnya, ada kayu govasa—pohon kecil, keras dan perlahan, yang bertahun-tahun berdiri di sana seperti penunggu waktu.
“Kalau bisa cepat, ya cepat,” tambah mandor. “Hujan katanya mau turun sore.”
Aku angguk pelan. Tapi tetap tak beranjak. Kadang diam adalah satu-satunya cara untuk bertahan. Bukan karena tak mampu melawan, tapi karena di dalam tubuh ada sesuatu yang belum sanggup bicara. Seperti laut pasang yang menahan riaknya sendiri.
Mesin dinyalakan. Suaranya kasar, memekakkan pagi. Tapi aku belum juga bergerak. Aku berdiri di depan alat itu, menatapnya lama. Di dadaku, ada sesuatu yang tak selesai. Mungkin dendam pada diriku sendiri. Mungkin rasa sayang yang tak bisa kuucapkan.
Lalu aku mematikan mesin itu. Aku turun. Aku duduk di sebatang kayu tua yang terdampar di pinggir pantai, menghadap laut yang tak lagi bicara.
Mandor menoleh, tak bicara. Ia berjalan ke sisi lain, pura-pura sibuk.
Di hadapanku, laut terus bergerak. Tidak cepat. Tidak lambat. Tapi pasti. Seperti luka yang tak berdarah, tapi terus terbuka.
Dan untuk pertama kalinya, aku tak ingin menggerakkan apa pun.
Hari itu, mesin tetap hidup. Tapi aku tidak.
Dan mungkin, itu awal dari sesuatu yang lain.





