Sejak Januari hingga April 2025 ini, saya telah bersama Jokpin (Joko Pinurbo): membaca Bulu Matamu: Padang Ilalang, lalu Berguru kepada Puisi, dan kemudian Bermain Kata, Beribadah Puisi. Yang disebut terakhir, isinya terdiri dari Prolog, Cerita, Testimoni, Kiat, Bincang, Profil, dan Kilas. Saya selesai membacanya dua hari sebelum Hari Buku Sedunia 2025 diperingati.

Segera setelah selesai Bermain Kata, Beribadah Puisi, saya kembali menyisiri halaman per halamannya untuk melihat marginalia yang telah saya bubuhkan. Pada momen itu, saya ditahan agak lama oleh sekumpulan marginalia pada bagian Cerita. Bagian ini berisi sebuah cerpen Jokpin yang ia juduli Sebotol Hujan untuk Sapardi (versi online cerpen ini bisa diakses pada Sebotol Hujan untuk Sapardi; penulis merujuk pada versi buku terbitan DIVA Press Cetakan III dalam menulis artikel ini).

Cerpen yang terdiri dari dua puluh lima paragraf itu diawali dengan sejarah jatuh cintanya Jokpin pada puisi karena membaca sepotong bait dari sajak Sapardi (Sapardi Djoko Damono). Bait sajak itu ia baca pada suatu malam yang disebutnya sebagai malam yang terberkati.

Masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi” (potongan puisi “Prologue”) adalah bait yang ia maksud. Bersama bait Sapardi “aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang” (potongan puisi “Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari”), bait ini telah menyulut keinginan Jokpin, bahkan mungkin turut mengiringinya, untuk menjadi seorang penyair.

Tetapi, kisah jatuh cinta itu bukanlah penyebab saya berlama-lama pada cerpen itu. Kalimat terakhir dari paragraf kedelapan cerpen itulah penyebabnya: “Saya meminta Subagus mengajak saya main ke rumah Sapardi supaya saya bisa ikut minum puisi yang beliau hidangkan sendiri”. Bagaimana mungkin puisi yang merupakan kumpulan teks dapat diminum layaknya suatu minuman yang dihidangkan? Cerita yang mulanya biasa saja itu kemudian terasa agak lain dari biasanya, terhitung sejak kalimat terakhir paragraf kedelapan itu. Cerpen yang awalnya ditulis dengan bahasa normal, tanpa perlu penafsiran yang mendalam, tiba-tiba terasa seperti prosa, lalu menjelma puisi yang perlu saya baca dan renungkan berkali-kali agar bisa memahami jalan ceritanya: ajaib!

Menurut saya, Jokpin, dalam cerpen ajaib ini, hendak mengisahkan pertemuan-pertemuannya dengan Sapardi: tentang sesuatu yang disebut dengan apresiasi puisi. Jokpin berperan sebagai pembaca, penikmat, dan penafsir puisi. Sedang Sapardi adalah tuan puisi, pelajaran puisi, bahkan puisi itu sendiri. Pertemuan mereka itu bisa jadi memang terjadi secara fisik di dunia nyata, bisa saja pertemuan ide di dunia imajiner, atau bisa jadi perpaduan dari keduanya. Yang jelas, pertemuan mereka terjadi tiga kali dalam cerpen ini.

Petemuan pertama

Paragraf kesebelas: “Pada hari yang telah disepakati oleh Subagus dan Sapardi, hujan mengantar saya ke rumah penyair kurus itu. Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul-mukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak berani mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya langsung balik badan dan pulang.”

Personifikasi yang dikenakan pada hujan dan daun bugenvil dapat dijadikan bukti bahwa ini bukan cerita biasa: ini adalah prosa, bahkan puisi. Saya membuat marginalia untuk kata “hujan” dalam paragraf ini. Menurut saya, “hujan” di sini merujuk pada “Hujan Bulan Juni”, puisi populer, atau boleh dikatakan terpopuler, milik Sapardi. Selain fenomenal, puisi ini juga diwartakan telah menjadi bahan kajian para mahasiswa dan ilmuwan di lingkungan perguruan tinggi, bahkan telah mengalami transformasi wahana menjadi lagu, novel, film, dan novel grafis.

Mungkin karena kepopulerannya (puisi) itu, oleh Jokpin, Sapardi digambarkan sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan, yang artinya sedang mengamati dengan saksama tafsiran-tafsiran orang terhadap puisinya tersebut. Saya menduga bahwa pada saat itu Jokpin juga termasuk salah satu dari orang-orang yang mencoba untuk menafsirkan puisi ini, namun ia sendiri tak yakin betul dengan tafsirannya itu, sehingga di akhir paragraf kesebelas ini, ia dengan terus terang menyatakan “Saya tidak berani mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya langsung balik badan dan pulang”.

Pertemuan kedua

Paragraf keempat belas: “Gelap baru saja datang ketika saya tiba di tempat kediaman Sapardi. Rumahnya kelihatan sepi dan gelap. Saya ketuk-ketuk pintunya dengan sopan. Setelah diketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Tanpa ba-bi-bu ia melepaskan kata-kata: ‘Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.’ Pintu segera ditutup. Saya terperangah dan terpana, lalu balik badan dan pulang.”

Menurut saya, pada paragraf keempat belas ini, Jokpin kembali mengakui ketidakberdayaannya di hadapan puisi-puisi Sapardi. Meski telah sepenuh hati (Saya ketuk-ketuk pintunya dengan sopan) dan dengan upaya yang cukup keras (Setelah diketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka) ia mencoba untuk menafsirkan lagi puisi Sapardi -kali ini berjudul “Tuan”-, ia belum juga merasa berhasil (Pintu segera ditutup). Bahkan, ia mungkin mendapati makna milik Sapardi yang tak terjangkau olehnya: Saya terperangah dan terpana, lalu balik badan dan pulang. Wajar saja: Sapardi adalah “tuan”, pemilik, sekaligus yang mengetahui, makna sebenarnya dari puisi-puisinya. Dalam konteks ini, Sapardi adalah sepercik manifestasi Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui.

Persiapan pertemuan ketiga

Paragraf kedelapan belas: “Saya siapkan semua buku kumpulan puisi Sapardi yang saya punya untuk saya mintakan tanda tangan penyairnya. Saya siapkan pula sebuah bingkisan sederhana sebagai tanda terima kasih saya karena sajak-sajaknya telah berhasil menjebloskan saya ke dunia kata-kata yang mengacak-acak ruang dan waktu. Saya merasa sudah siap mental untuk menemuinya lagi.”

Dalam menafsirkan puisi, kita dapat menempuh “jalur gelap” yang menghubungkan sebuah sajak dengan sajak lainnya dari seorang penulis. Sesungguhnya, ada benang merah imajinasi yang mempertautkan sajak “ini” dengan sajak “itu” dari seorang penulis. Hal ini diakui sendiri oleh Jokpin dalam Catatan Penutup buku Telepon Genggam miliknya, juga dalam catatannya untuk buku kumpulan puisi Di Kedai Teh Ah Mei berjudul “Langit Puisi Nezar Patria”.

Barangkali itulah sebabnya, ia perlu menyiapkan semua buku kumpulan puisi Sapardi yang ia punya agar lebih mampu menggapai makna-makna dari puisi-puisi Sapardi (untuk saya mintakan tanda tangan penyairnya). Sementara itu, bingkisan sederhana sebagai tanda terima kasih yang ia siapkan dapat diartikan sebagai bentuk konfirmasi kembali akan kontribusi Sapardi pada pemahaman perpuisiannya dan perjalanan kepenyairannya.

Dunia puisi bukanlah dunia yang mudah dijalani. Diakui Jokpin bahwa meski menggunakan frasa dan kalimat yang terang-terang saja dalam puisi-puisinya, ia tetap perlu fokus dan sedapat mungkin tak rakus dengan sembarang imaji. Katanya, “Imajinasi boleh liar, citraan boleh gila, metafor boleh gila sekali, logika boleh dijungkirbalikkan, makna bisa kompleks pula, tetapi semuanya biarlah tetap dalam kerangka tertib pikiran dan tertib bahasa dan dalam persekutuan antara nalar dan rasa” (Bermain Kata, Beribadah Puisi-BKBP hal. 65). Bukankah ini hal yang tak mudah: mempertemukan dan menciptakan kerukunan antara “keliaran” dan “kegilaan” dengan “ketertiban”? Tentu, hidup dalam dunia ini (dunia puisi) akan membutuhkan banyak energi: dunia kata-kata yang mengacak-acak ruang dan waktu.

Di beberapa tempat dalam tulisan-tulisannya tentang puisi ia mengisyaratkan antara lain: Puisi adalah curhat yang tersublimasi dan kemudian mengalami proses perenungan dan penalaran dan selanjutnya divisualisasikan dengan kecerdikan memainkan kata-kata (BKBP hal. 95); Puisi adalah seni kata yang ketat. Selain mengandung kreativitas dan petualangan, ia juga harus baik dan benar dalam hal gramatika dan logika (BKBP hal. 137); Kerja berpuisi -yang termasuk dalam kerja bersastra- adalah kerja kebudayaan, kerja intelektual, kerja mengolah dan menumbuh-mekarkan bahasa (BKBP hal. 152); Menulis puisi bukan kegiatan klenik yang lepas dari kendali nalar (Berguru kepada Puisi hal. 14).

Dari isyarat-isyarat tersebut, nampak adanya sebuah titik tekan bahwa dalam mencipta puisi, meski seringkali diinisiasi oleh sebuah momen puitik yang cenderung kuat aspek “rasa”-nya, haruslah diikuti pula dengan kerja keras “akal”. Karena itu, beberapa puisi bagus, kata Jokpin, adalah filsafat yang disajikan dalam rangkaian metafor (BKBP hal. 95). Dari sini, saya jadi makin sadar dan memaklumi pernyataannya Jokpin: “Menjadi penyair itu berat. Biar kami saja” (BKBP hal. 14).

Meski telah mempersiapkan buku-buku dan bingkisan untuk pertemuan ketiganya dengan Sapardi, Jokpin juga merasa perlu menyiapkan mental. Menurut saya, kata “mental” dalam kalimat terakhir paragraf kedelapan belas ini berifat multitafsir -setidaknya ada dua. Pertama, mental dalam pengertian batin dan watak manusia. Kedua, mental dalam arti terpelanting; terpental; terlempar kembali; berbalik arah. Merujuk pada pengertian mental yang pertama, Jokpin mungkin merasa bahwa dirinya -dengan segala persiapannya- telah lebih siap dan mumpuni dalam menafsirkan puisi-puisi Sapardi dibanding sebelum-sebelumnya.

Sementara, jika merujuk pada pengertian mental yang kedua, Jokpin malah mempersiapkan dirinya untuk menelan kekecewaan lagi dalam upayanya menafsirkan puisi-puisi Sapardi seperti sebelum-sebelumnya. Lalu, manakah yang berlaku? Tentang ini, saya malah berpikir, jangan-jangan Jokpin memang sedang unjuk kecerdikannya dalam memainkan kata-kata. Sehingga ia dengan sengaja membiarkan kedua pengertian “mental” tersebut menyusup ke dalam kalimat “Saya merasa sudah siap mental untuk menemuinya lagi”.

Pertemuan ketiga

Paragraf kesembilan belas: “Dan saat itu pun tiba. Saya datang ke rumahnya malam hari. Saya ketuk-ketuk pintu rumahnya dengan lembut. Setelah saya ketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Saya langsung menyapanya: ‘Tuan Tuhan, bukan? Tunggu di luar, saya sedang berdoa sebentar.’”

Pada kedatangannya yang ketiga ini, Jokpin masih istikamah dalam ketekunannya mempelajari dan menafsir puisi-puisi Sapardi: “Saya ketuk-ketuk pintu rumahnya dengan lembut. Setelah saya ketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi.”

Paragraf kedua puluh: “Ia tertawa dengan indah. Ia mempersilakan saya masuk, lalu membimbing saya menuju halaman belakang. Di situ terdapat sebuah kolam kecil yang jernih airnya. Kami duduk di tepi kolam. Kami bercermin pada kolam.”

Hasil pertemuan kali ketiga ini tampaknya lebih menjanjikan dari sebelumnya: Sapardi tertawa dengan indah. Bisa jadi kemampuan Jokpin dalam menafsir puisi-puisi Sapardi kali ini dirasanya lebih baik dari sebelumnya. Mungkin saja Jokpin merasa makin bisa menyelami dan mengenal Sapardi, baik dalam hal karya maupun pribadi: “Ia mempersilakan saya masuk, lalu membimbing saya menuju halaman belakang. Di situ terdapat sebuah kolam kecil yang jernih airnya. Kami duduk di tepi kolam. Kami bercermin pada kolam.” Suatu kemajuan.

Paragraf kedua puluh satu: “Sapardi mengenakan sarung dan kaos oblong putih bertuliskan ‘Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi’. Keren sekali. Rupanya dia habis nonton film ‘Filosofi Kopi’. Dan ia menghidangkan kopi seraya berkata, ‘Seno dan Subagus juga barusan ngopi-ngopi sini.’ Kopi saya terima dengan takzim. Saya dan kopi tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih haus. Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit.”

Sebuah pencapaian adalah sebuah kemajuan. Ibarat grafik, garisnya memiliki tren yang makin meningkat dalam suatu periode waktu. Pencapaian bukan berarti telah tiba pada titik paling akhir dari suatu perjalanan. Pencapaian adalah soal menjadi lebih baik dari hari ke hari. Hal ini juga berlaku pada perjuangan untuk memahami dan memaknai suatu karya puisi. Karena itu, kemajuan-kemajuan dalam konteks ini, yang boleh dikatakan sebagai suatu anugerah dari Tuhan, patut untuk disyukuri: “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

Jokpin mungkin menyadari bahwa orang-orang hebat -yang dalam cerita ini diwakili oleh Seno (mungkin yang ia dimaksud adalah Seno Gumira Ajidarma) dan Subagus, yang telah mencapai kemajuan pesat di bidang ini, juga telah menempuh jalan perjuangan yang kurang lebih sama dengan yang ia lalui: “Seno dan Subagus juga barusan ngopi-ngopi sini.” Lalu, pada titik itu, ia juga menjadi lebih dewasa dan bijaksana.

Ia akhirnya tahu bahwa penafsiran puisi bukanlah perkara benar atau salah, baik atau buruk, kurang atau lebih, karena setiap orang memiliki keterpautan dengan pengalaman dirinya masing-masing ketika membaca sebuah karya puisi: “Kopi saya terima dengan takzim. Saya dan kopi tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih haus. Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit.” Ini adalah sebuah pencapaian besar bagi Jokpin. Pencapaian yang juga pernah dimiliki Seno dan Subagus, juga Sapardi. Karena itu, mereka pun merayakannya dengan ngopi-ngopi.

Sampai di sini, mari kita bandingkan. Pada kedatangannya yang pertama, Jokpin mungkin hanya berdiri di luar pagar rumah, sementara si tuan rumah sedang duduk di beranda rumah, berfokus pada hujan, dan bahkan tak menyadari keberadaannya. Pada kedatangannya yang kedua, Jokpin telah sempat mengetuk pintu rumah. Meskipun sempat dibuka, dengan segera pintu rumah itu ditutup kembali oleh si tuan rumah setelah melayangkan hanya sepotong kalimat pendek. Sedangkan pada kedatangannya yang ketiga, si tuan rumah telah menerima Jopkin dengan ramah dan penuh gembira, bahkan membawanya masuk, dan menuntun sendiri Jokpin mulai dari depan pintu hingga ke halaman belakang, bahkan sampai ngajak ngobrol dan ngopi segala.

Paragraf kedua puluh dua: “Saya buka tas gendong saya, saya keluarkan sejumlah buku puisi Sapardi untuk ditandatangani oleh penyairnya. Setelah itu kami berfoto berdua. Sah. Sempurna.”

Pencapaian besar ini juga ditandai dengan dibubuhkannya tanda tangan sang penyair pada buku puisinya, juga foto berdua dengan sang penyair -mungkin mirip dengan prosesi pemberian ijazah oleh seorang mursyid kepada muridnya: “Sah. Sempurna.”

Paragraf kedua puluh tiga: “Hari itu Sapardi genap berusia 75 tahun. Saya ambil sebuah bingkisan dari dalam tas. Saya ulurkan padanya sebuah botol besar berisi hujan bercampur senja. Ia mengucapkan terima kasih. Ia tempelkan botol itu di telinganya. Ia berbinar-binar mendengarkan suara hujan di dalam botol. Hujan yang hangat dan jingga oleh senja.”

Umumnya, hujan diidentikkan dengan sesuatu yang segar-menyegarkan, sementara senja diidentikan dengan usia yang tak muda lagi. Dalam menyelami Sapardi, Jokpin menyaksikan “hujan” (Hujan Bulan Juni) yang diciptakan Sapardi pada tahun 1989 terus segar-menyegarkan, bertransformasi wahana, dan terus bergema dan hidup secara energik di kalangan pembaca dan pengulas, penafsir, pengkaji, penyair, mahasiswa dan akademisi di bidang sastra, meski saat penyairnya telah berusia senja: “Hari itu Sapardi genap berusia 75 tahun… Saya ulurkan padanya sebuah botol besar berisi hujan bercampur senja…Hujan yang hangat dan jingga oleh senja.”

Paragraf kedua puluh lima: “Saya lihat di atas kolam sudah ada sekuntum bunga berwarna jingga. Cahaya bulan memenuhi kolam, membuat bunga jingga itu tampak kian menyala. Kami terdiam beberapa lama. Hening malam membekukan bahasa. Dengan suara pelan dan dalam Sapardi berkata, ‘Yang fana adalah waktu. Kita abadi.’”

Mungkin pada Sapardi juga Jokpin belajar bahwa meski penyair telah senja dan mati, karya-karya mereka akan terus hidup melintasi berbagai zaman dan generasi. “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, kata Pramoedya Ananta Toer. Karena itu, pada kalimat terakhir cerpen Jokpin ini, Sapardi dengan suara yang pelan dan dalam berkata, “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.”

Apresiasi Puisi Itu Berat

Ketika membuat tulisan ini, saya teringat saat akan menerbitkan dua buku kumpulan puisi saya, Senandika Sang Keledai (Omera, 2023) dan Hujan Biru (Langgam Pustaka, 2025). Ketika itu, saya melayangkan permintaan kepada beberapa orang untuk dapat memberikan sebuah catatan pembuka untuk buku-buku saya tersebut. Responsnya beragam. Ada yang mengiyakan, lalu tak ada kabar lagi setelahnya; ada yang secara terbuka menyatakan tak bersedia memberikan catatan, tapi mau memberikan endorsment saja; dan ada yang bahkan tak meresponsnya sama sekali. Menerima beberapa respons yang tak sesuai harapan itu, saya berusaha untuk tidak berburuk sangka. Toh, di antara orang yang saya mintai, ada pula yang dengan penuh semangat menyanggupi dan merealisasikannya.

Setelah bersama Jokpin, Berguru kepada Puisi dan Bermain Kata, Beribadah Puisi, saya makin yakin akan benarnya sikap saya untuk tetap berprasangka baik ketika permintaan-permintaan saya terkait catatan itu mendapat respons yang tidak sesuai harapan. Saya makin sadar bahwa memberikan sebuah catatan pada puisi -apalagi kumpulan puisi- bukanlah perkara mudah. Membuat catatan untuk sebuah karya puisi termasuk salah satu bentuk apresiasi terhadap puisi yang kompleks. Dalam pengertiannya yang kompleks, mengapresiasi sebuah puisi dapat meliputi penafsiran, pemahaman, dan penghargaan, juga kritik terhadap puisi tersebut: suatu pekerjaan yang mengacak-acak ruang dan waktu orang yang mengerjakannya.

Dengan pemahaman yang demikian, saya jadi lebih bisa memaklumi respons-respons yang tak sesuai ekspektasi itu. Bisa jadi permintaan saya ditolak karena yang dimintai sudah punya agenda-agenda lain saat itu, dan karena itu tak punya cukup waktu untuk membuat sebuah catatan yang baik dan layak. Mungkin saja orang yang saya mintai itu menolak karena untuk membuatkan sebuah catatan pembuka yang memenuhi kriteria, ia membutuhkan waktu yang lebih lama, sementara buku sudah harus terbit pada waktu yang telah direncanakan penulis.

Saya kini punya cara pandang lain bahwa penolakan ini bukan karena ketidakmampuan -apalagi ketidakpedulian- dari orang-orang yang saya dimintai itu. Justru, penolakan ini adalah bentuk rasa tanggung jawab mereka, bahwa memberikan catatan pembuka -yang merupakan suatu bentuk apresiasi- pada suatu karya puisi, menuntut kepekaan rasa dan akal (intelektual), seperti halnya membuat sebuah karya puisi itu sendiri.

Apresiasi puisi bukanlah sebuah pekerjaan gampang dan dapat diselesaikan secara kilat. Seperti kata Jokpin, “Membaca kumpulan puisi merupakan perjalanan bolak-balik yang sering berliku, penuh dengan berbagai kemungkinan, dan belum tentu berujung pada sebuah akhir. Seorang pembaca bisa saja bingung, mati angin, lalu tiba-tiba menemukan jalan lain yang tak terduga sehingga pemaknaan terhadap sebuah sajak bisa ditunda, dibatalkan, atau direvisi” (Berguru kepada Puisi hal.32).

Berkali-kali membaca. Saya ingin menemukan sesuatu yang diucapkan tetapi juga sekaligus disembunyikan dalam Hujan Biru. Entah apalah namanya sesuatu yang diucapkan dan disembunyikan itu. Pelan-pelan saya berjalan menapaki setiap larik puisi… Sampai pada satu titik, saya menemukan makna kembara pada sebagian besar puisi dalam antologi ini.” Penggalan catatan Ibrahim Gibra (seorang profesor Antropolinguistik) untuk buku kumpulan puisi Hujan Biru di atas dapat menjadi salah satu bukti betapa besarnya energi yang harus terkuras untuk mengapresiasi sebuah karya puisi.

Kepada mereka yang pernah memberikan apresiasi berupa catatan pembuka maupun endorsment untuk buku saya, sudah sepantasnyalah saya berikan bingkisan tanda terima kasih.

Biar kalian saja

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyatakan rasa salut saya kepada Jokpin yang telah membuatkan apresiasi pada banyak karya puisi (berbagai apresiasi puisinya telah dihimpun dalam buku Berguru kepada Puisi). Tulisan ini, saya akui adalah sebuah upaya percobaan saya -meski saya melakukannya dengan sangat serius- untuk mengapresiasi cerpennya Jokpin, Sebotol Hujan untuk Sapardi. Sebab itu, saya tentu telah siap “mental” karena telah nekat bertamu ke rumah Jokpin yang sedang khusyuk beribadah puisi. Saya ingin tahu tentang celana-celana miliknya yang melegenda itu: masih paskah? Sungguh, ingin sekali saya ucapkan terima kasih dan selamat padanya.

Sayangnya, ia keburu pulang, sehari sebelum puisi dirayakan. Ah, sudahlah. Sebaiknya saya balik badan dan pulang. Menjadi apresiator puisi itu berat, biar Jokpin saja.

____

Penulis: Hasbullah (Bullah Has) | Penulis buku Senandika Sang Keledai (Omera, 2023) dan Hujan Biru (Langgam Pustaka, 2025)

Bagikan:

Hasbullah (Bullah Has)

Penulis buku Senandika Sang Keledai (Omera, 2023) dan Hujan Biru (Langgam Pustaka, 2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *