Indonesia tengah menapaki jalan ambisius, yaitu menjadi pemain utama dalam rantai pasok nikel dunia. Pemerintah gencar mendorong hilirisasi nikel untuk menopang industri baterai kendaraan listrik (EV) dan transisi energi hijau. Nikel pun lantas digadang-gadang sebagai “emas baru” yang akan membawa kemakmuran bangsa sekaligus membantu dunia keluar dari jeratan energi fosil.
Tapi, di balik jargon besar itu, ada cerita lain, tentang sungai kecil di Halmahera Timur yang dulu bening, kini berubah merah keruh. Sebuah cerita tentang warga desa yang kehilangan air minum dan sagu, singkatnya kehilangan harapan dan masa depan.
Sungai itu bernama Sungai Sangaji. Bagi warga setempat, sungai ini bukan sekadar aliran air, tetapi adalah urat nadi kehidupan, tempat warga menggantungkan segala aspek keberlangsungan hidup—mulai dari sumber air minum, sumber pangan, tempat mandi, hingga pusat aktivitas pertanian dan pengolahan pangan seperti sagu.
Namun, sejak Januari 2024, wajah Sungai Sangaji tak lagi sama. Airnya yang biasanya jernih dan bisa langsung diminum tanpa dimasak, kini berubah menjadi keruh berlumpur. Kekeruhan itu tak sekedar mengganggu, tetapi juga merusak sistem hidup yang telah turun-temurun dijaga oleh warga.
Bahdin, seorang pekebun sekaligus warga Maba Sangaji, menceritakan bagaimana ia yang dulu cukup membawa kopi dan gula ke kebun, kini harus membeli air galon (air kemasan).
“Dulu kalau ke kebun saya cukup bawa kopi dan gula,” kenang Bahdin, seorang pekebun. “Air Sungai Sangaji sudah ada, bisa langsung diminum, bisa dimasak. Sekarang kami harus membawa air galon. Itu penghinaan. Rasanya seperti orang asing di kebun sendiri.”
Pukulan paling berat dirasakan kelompok pengolah sagu. Mereka kehilangan kepercayaan pada air Sungai Sangaji, padahal proses pencucian sagu sepenuhnya bergantung pada air bersih. “Kami rasa berdosa kalau sampai orang makan sagu yang kami olah dengan air berlumpur. Kami takut itu bisa menjadi racun yang bisa bikin orang tidak sehat.” kata Yasim.
Warga berupaya membuat saluran kecil untuk menjernihkan air dari Sungai Sangaji. Tapi, lumpurnya terlalu pekat dan terlalu lama menetap. Pekerjaan yang dulu mengalir sesuai waktu kini terpaksa berhenti menunggu air jernih. Sering kali, mereka hanya bisa menatap arus keruh tanpa daya.
“Kami tidak bisa paksa,” lanjut Ramli. “Ini soal makanan, soal kesehatan orang. Kami bisa apa?”
Dari Mana Semua Bermula?
Awalnya warga mulai curiga ketika melihat mobilisasi alat berat dan logistik melintasi sungai. Ketinting-ketinting membawa mesin dan pekerja ke arah hutan di hulu. Beberapa bulan sebelumnya, mereka sempat menemukan tong sampah berlogo PT Position, perusahaan tambang nikel, dibagikan menjelang Pemilu Legislatif 2024. Dikira program pemerintah daerah, ternyata itu jejak awal aktivitas eksplorasi.
Kecurigaan terjawab pada 18 April 2025, ketika warga naik ke hulu. Di sana mereka mendapati hutan adat habis terbabat. Anak-anak sungai penuh sedimentasi ore nikel. Dari sanalah lumpur merah mengalir, merusak air hingga menghantam kebun.
Ramli, yang juga seorang pekebun, menyaksikan sendiri lima pohon palanya mati, tiga di antaranya sedang berbuah. “Itu bukan cuma soal kehilangan uang. Itu adalah simbol matinya harapan dan kerja keras,” ujarnya.
“Dulu kalau Sungai Sangaji meluap, kami senang, karena banjirnya bawa bahan organik, jadi pupuk alami. Sekarang banjir bawa lumpur merah yang menjadi racun buat tanah dan tanaman kami.”
Luka yang Menyentuh Seluruh Desa
Hampir 60 persen warga Maba Sangaji bergantung langsung pada air Sungai Sangaji. Bahkan keluarga Pegawai Negeri pun masih berkebun di sekitar sungai. Artinya, kerusakan sungai ini bukan hanya persoalan segelintir orang—ini adalah bencana sosial-ekologis yang melumpuhkan hampir seluruh warga desa.
Tapi apa yang bisa dibuat oleh Yasim Ramli, sebagai warga, ia merasa kecil di hadapan kekuasaan yang tampak tidak berpihak.
Kelompok pengolah sagu yang biasanya bisa menghasilkan empat karung per hari—dengan nilai ekonomi mencapai Rp1 juta—kini lumpuh total. Aktivitas berhenti. Pendapatan terhenti. Mereka terpaksa melepas mata pencaharian utama demi menjaga keselamatan warga lain yang akan mengonsumsi sagu hasil olahan.
“Kalau ini kuasa Tuhan, kami akan berdoa,” kata Ramli. “Tapi ini kuasa manusia. Kami orang kecil bisa apa?”
Sungai Adalah Rumah Kami
Maba Sangaji bukan tempat industri. Warga di desa ini hidup dari tanah, sagu, dan sungai. Ketika Sungai Sangaji rusak, yang hilang dan hancur bukan hanya air bersih dan sistem kehidupan, tapi juga cara bertahan hidup, dan hubungan harmonis antar manusia dan alam yang telah diwariskan antar generasi.
Warga tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin air Sungai Sangaji kembali seperti semula—jernih, sehat, dan menghidupi, bukan ancaman yang meracuni
Dengan demikian, narasi dari Bahdin dan Yasim Ramli bukan sekadar keluhan. Ini adalah jeritan pilu warga yang kehilangan rumah dalam diam. Yang melihat kebun mereka mati, anak-anak mereka tak bisa mandi dengan air bersih, dan pekerjaan mereka harus ditinggalkan demi mempertahankan harga diri dan keselamatan sesama.
Bahdin bahkan menuliskan kalimat sederhana di baliho protes yang dipasang di jembatan desa: “Sungai Sangaji adalah sumber kehidupan,”. Bagi orang luar, itu mungkin sekadar slogan. Bagi warga Maba Sangaji, itu adalah kebenaran paling jujur, sebuah jeritan dari orang-orang yang sedang dipaksa bertahan dalam luka, di tengah gegap gempita dunia mengejar mimpi kendaraan listrik, sesuatu yang tidak pernah mereka ciptakan.
________
Penulis: Julfikar Sangaji | Dinamisator Simpul JATAM Maluku Utara





