Koncodata – Maluku Utara tak hanya kaya akan rempah dan sumber daya mineralnya, tetapi juga kaya dengan praktik kebudayaan yang hingga kini masih dirawat oleh masyarakat. Salah satu praktik kebudayaan yang sampai saat ini dilestarikan adalah kerajinan anyaman.

Di Maluku Utara kerajinan anyaman tak hanya tentang karya seni yang bernilai ekonomis bagi masyarakat. Anyaman telah menjadi bagian integral masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan dibeberapa tempat di Maluku Utara, anyaman sering dipakai dalam prosesi adat-istiadat.

Tim koncodata (divisi data halmaheranesia) menghipun informasi tentang produk kerajinan anyaman di Maluku Utara yang masih dilestarikan hingga kini. Berikut produk anyaman yang berasal dari Maluku Utara:

Susiru

Susiru merupakan kerajinan anyaman khas Maluku Utara yang masih dilestarikan. Anyaman susiru atau tatapa (nama lainnya) sering digunakan sebagai tempat menapis beras, hiasan atau pajangan rumah dan barang perlengkapan dalam tradisi perkawinan adat.

Alat rumah tangga ini dibuat berbentuk bundar seperti piring berdiameter antara 65-80 cm yang dianyam dari bambu. Susiru telah tercatat sebagai pengetahuan tradisional yang dilindungi oleh negara.

Bahan utama dalam pembuatan susiru adalah bambu Loleba (Neololeba atra) atau nama anonimnya Bambusa atra Lindl. Sekadar diketahui, bambu loleba adalah tumbuhan asli yang berasal dari Indonesia Timur, yaitu wilayah Sulawesi dan Maluku.

Dalam Jurnal “Pelatihan Pembuatan Kerajinan Tangan Susiru di Desa Mira Kepulauan Morotai” Hartina Pasongli dkk (2024) menyebutkan proses pembuatan susiru terbagi menjadi 5 tahap, yakni pengambilan bahan, pembersihan, perautan (membelah bambu menjadi bilah kecil), pewarnaan dan proses menganyam.

Anyaman susiru merupakan kerajinan anyaman dengan corak pola dan motif yang paling beragam. Susiru dapat ditemukan di seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara dengan harga yang cukup variatif ketika dijual.

Tikar

Karpet tradisional atau yang lebih dikenal dengan sebutan tikar, merupakan produk kerajinan masyarakat Maluku Utara yang terancam punah. Produk ini terancam punah karena kurangnya pengrajin serta kehilangan minat di pasaran.

Terdapat dua jenis tikar yang dibuat oleh masyarakat di Maluku Utara, yaitu tikar pandan dan kalasa.

Habu atau Tikar pandan dibuat menggunakan daun pandan laut (Pandanus tectorius Park) sebagai bahan utama. Untuk membuat tikar pandan, daun pandan yang diambil harus dimasak agar lentur saat digunakan. Setelah itu daun pandan yang telah di masak dijemur hingga kering, lalu diberi pewarna sebelum dianyam.

Tikar pandan selain sebagai perabot rumah tangga, sering juga dipakai saat prosesi tradisi di Maluku Utara. Prosesi pernikahan adat seperti di wilayah Galela dan Tobelo, masih sering dijumpai penggunaannya.

Sementara kalasa dibuat menggunakan bahan pelepah rumbia atau dikenal pohon sagu (metroxylon sagu). Pelepah daun sagu itu dikuliti dan dikupas setiap sisi 4-5 cm, kemudian dijemur hingga kemerahan, lalu dibersihkan dengan pisau.

Setelah dikuliti dan dibersihkan, pengrajin menyulam pelepah dengan tali plastik satu persatu. Untuk membuat tikar kalasa berukuran 2 setengah meter, membutuhkan 30 batang pelepah rumbiah yang dipakai.

Kerajinan masih dilestarikan di wilayah Halmahera Timur, seperti Desa Bicoli dan sekitarnya.

Saloi dan Bika

Saloi dan bika merupakan anyaman berbentuk keranjang dengan bahan utama dari tanaman rotan. Ransel tradisional ini sering digunakan masyarakat Maluku Utara sebagai tas pengangkut hasil pertanian di kebun.

Saloi kebanyakan digunakan oleh perempuan ketika ke kebun untuk mengangkut pisang, singkong, batatas, rempah, sayur-mayur, dan kayu bakar. Sementara bika (keranjang kelapa) lebih banyak dipakai laki-laki untuk mengangkut kelapa, kayu, dan hasil kebun karena ukurannya yang besar.

Kedua keranjang tradisional ini masih banyak ditemukan di wilayah pedesaan yang ada di Maluku Utara.

Aya-aya

Alat tepis tradisional atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan aya-aya, merupakan ayaman tradisional di Maluku Utara yang hingga kini masih dilestarikan. Aya-aya merupakan produk anyaman yang dibuat menggunakan bambu sebagai bahan utama.

Selain digunakan untuk keperluan dapur, aya-aya juga dijadikan barang simbolik dalam tradisi perkawinan adat. Ayaman yang sering dipakai dalam menepis beras giling, terigu, dan juga jagung ini mulai kehilangan minat.

Kebanyakan masyarakat lebih memilih menggunakan aya-aya modern berbahan plastik. Alat saringan ini bisa ditemukan di seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara.

Poroco Sigi

Poroco sigi adalah produk anyaman tradisional berbahan dasar dari daun pandan laut. Anyaman ini digunakan sebagai wadah/tempat untuk menyimpan beras. Satu poroco sigi ukuran besar bisa menampung satu karung beras atau lebih.

Produk anyaman poroco sigi juga sering dipakai saat upacara pernikahan adat masyarakat.  Di beberapa daerah di Maluku Utara, seperti Tobelo, Galela, Morotai dan Loloda masih dapat ditemukan saat pelaksanaan tradisi pernikahan Ngundu Mantu (Taya, dkk. 2021).

Wadah penyimpan beras ini, dibuat dengan bentuk lonjong seperti menara eifel di Paris. Dengan paduan daun woka yang telah diberi pewarna pada mulut/lubang di bagian atas.

Besek

Besek (kotak makanan) merupakan tempat penyimpanan tradisional ramah lingkungan. Pemanfaatan besek seringkali digunakan sebagai wadah untuk meletakkan nasi, lauk, daging, tahu, tempe serta wadah untuk meletakkan pinang dan sirih.

Produk anyaman besek (dalam bahasa Galela disebut kabilano) dibuat dari bahan bambu ater atau buluh jawa, bisa juga menggunakan daun pandan. Dalam Jurnal Pertanian Konservasi Lahan Kering; “Eksplorasi Jenis Produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Pulau Tidore” Rini dkk (2023) menyebutkan proses pembuatan besek yaitu;

Menyiapkan bambu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, tebang bambu yang sudah dipilih dan bersihkan bambu dari cabang-cabang yang tidak digunakan, setelah itu potong bambu sepanjang 40-50 cm, lalu dibelah menjadi 10-15 bagian, setelahnya bambu diikat menjadi tipis.

Anyaman ini bisa ditemukan di beberapa wilayah, seperti di Kelurahan Jaya, Kota Tidore Kepulauan.

_____

Penyusun: Rifal Hi. Abdullah

_____

Sumber:

Pasongli, H, dkk. (2024). Pelatihan Pembuatan Kerajinan Tangan Susiru di Desa Mira Kepulauan Morotai. Jurnal Terapan Abdimas, 2024. Vol 9. No 1. Hal 67-73.

Taya, N I, dkk. (2021). Adat Perkawinan Suku Bangsa Tobelo di Desa Loleba Kecamatan Wasilei Selatan Kabupaten Halmahera Timur. Jurnal Of Social and Culture. Vol 14. No 2.

Putra, P G P, dkk. (2024). Warisan Budaya Sebagai Kekayaan Pariwisata. Intelektual Manifes Media. https://books.google.co.id/books?id=3urwEAAAQBAJ.

https://www.kompasiana.com/ojhy/62e0088e3555e47f676b94b2/uniknya-uduh-mantu-di-morotai

https://kumparan.com/ceritamalukuutara/tikar-kalasa-kerajinan-khas-halmahera-dari-pelepah-rumbia-1551702185899608925/2

https://rri.co.id/ternate/daerah/1796657/sosiru-anyaman-tradisional-maluku-utara-dilindungi-negara

https://ambon.antaranews.com/berita/48203/kerajinan-anyaman-tikar-tradisional-ternate-terancam-punah

https://jangkarpena.com/kerajinan-tangan-dari-maluku-utara/

https://jadesta.kemenparekraf.go.id/paket/91474

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *